
"Dulu aku juga baru seperti kalian, saat kecil aku sudah diajarkan banyak hal oleh ayahku dan setelah aku remaja—terjadi perang dengan pasukan Mortuza di sini, aku dituntut ayah agar bisa menyelamatkan kebaikan, aku berjuang sekuat tenaga, namun ayah ... ." Lars menceritakan kisahnya dan meneteskan air mata.
"Ada apa Lars?" tanya Rian.
"Ayahku terbunuh oleh Mortuza, itu hal yang paling berat bagiku," lanjut Lars sambil mengusap air matanya. "Jika aku punya kesempatan — akan aku balaskan dendamku ... ."
"Tapi kau sangat hebat Lars, aku yakin ayahmu sangat bangga padamu," ucapku menenangkan Lars yang terlihat sedih.
Setelah kami beristirahat, Terlihat Baraza bersama Clara dan Rama telah kembali. Kami pun melanjutkan latihan kami. Kali ini kami dihadapkan dengan Baraza satu persatu.
Baraza sudah sangat lihai dalam memainkan pedangnya. Aku pun masih kalah saat putaran pertama. Namun aku tak menyerah dan kembali berfokus pada permainan.
"Yeay! Aku menang ... !" Suara teriakanku saat aku berhasil menjatuhkan Baraza. Itu merupakan kebanggaan tersendiri bagiku.
"Bagus, kau harus terus meningkatkan kemampuanmu." Ucapan Lars membuatku lebih bersemangat.
"Baiklah, itu awalan yang bagus gadis kecil, sekarang kau!" Baraza yang sudah berdiri dan menunjuk Rian menggunakan pedangnya.
"Baiklah." Rian melangkah menuju hadapan Baraza Dan mengambil ancang-ancang.
Suara dentingan pedang terasa berirama. Pertunjukan itu sudah berlangsung lama, namun belum ada satupun dari mereka yang terjatuh. Aku merasa senang sekaligus tegang melihat permainan mereka.
"Ayolah, Nak, apa hanya itu kemampuanmu?" ucap Baraza memancing Rian sambil terus memainkan pedangnya.
" Baiklah, jika kau mau aku melakukan lebih." Rian memainkannya dengan lebih semangat dan keras. Kini kecepatannya lebih tinggi.
Kami masih asyik menikmati pemandangan itu. Sampai akhirnya Baraza menyerang bagian dada Rian di mana kalung pemberian ratu tergantung di lehernya, dan kalung itupun terlepas dari leher Rian. Kami semua kaget melihat itu.
"Ohh maaf Rian aku benar-benar tidak sengaja," ucap Baraza pada Rian yang telah mengambil kalung dari tanah.
"Tak apa, biar aku perbaiki nanti," ucap Rian tak marah.
"Em ... Aku rasa cukup sampai di sini dulu untuk hari ini, kalian bisa istirahat lebih cepat, gunakan waktu kalian untuk hal yang baik," ucap Lars sambil meninggalkan kami.
"Sekali lagi aku minta maaf, Devan, atau jika perlu aku akan memperbaikinya?" tawar Baraza yang merasa bersalah.
Rian hampir saja menerima tawaran Baraza dengan memberikan kalungnya kepada Baraza. Namun sebelum Baraza mengambil kalung itu dari genggaman Rian, aku segera menyambarnya dan kalung itu pun sudah berada di tanganku.
Aku ingat ketika Lars bilang untuk jangan percaya pada siapapun di istana ini. Apalagi kalung itu merupakan kekuatan bagi kami.
__ADS_1
"Em ... kurasa tak perlu, Baraza, kami tak ingin merepotkanmu," ucapku. "Lagi pula, memperbaiki kalung ini tidak sesulit berlatih pedang, kami pasti bisa."
"Baiklah jika itu tidak memberatkan kalian." Baraza mengangkat bahunya.
"Itu sama sekali tak memberatkan kami, lagi pula kami masih punya banyak waktu untuk hari ini," ucap Rama melanjutkan aku. Aku yakin Rama juga sadar dengan pikiranku.
"Ya itu benar," ucap Rian.
"Baiklah jika begitu, aku pergi dulu, ya?" ucap Baraza membalikkan badannya dan berjalan menjauhi kami.
Aku melihat Baraza pergi dan aku melihat ke arah Rian. "Tidak apa-apa." Aku mengangkat bahuku.
Kami pun segera pergi dan menuju ruang istirahat kami untuk memperbaiki kalung Rian.
"Sudah! Ini sudah bisa di pakai lagi," ucapku pada Rian yang sedang melihatku memperbaiki kalungnya. Aku memberikan kalung itu kembali pada Rian. Rian juga langsung memakai ke lehernya.
"Terimakasih teman-teman, kalian sudah membantuku," ucap Rian pada kami setelah kalungnya tergantung kembali di lehernya.
"Kau ingat kita itu apa?" tanya Rama pada Rian.
"Tentu saja, kita ini sahabat ... dan sahabat itu sudah seperti keluarga," ucap Rian yang kemudian diikuti oleh suara kami semua.
"Ini hampir malam," ucap Clara memandang langit yang mulai gelap dari kaca jendela.
Kami semua terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu. Ternyata itu adalah Ratu Zefanya. Ia memasuki kamar kami dengan membawa sebuah buku. Kami pun langsung berdiri memberikan hormat padanya.
"Sudahlah, tidak usah seperti itu, anggap saja aku teman kalian," ucap Ratu yang rendah hati.
"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Rian pada Ratu Zefanya.
"Oh iya, aku ingin memberi buku ini pada kalian, aku harap kalian akan mempelajarinya, apa yang ada di buku itu mungkin akan sangat bermanfaat." ucap Ratu seraya memberikan sebuah buku kuno yang tampangnya gagah.
Aku pun menerima dengan kedua tanganku, "Terima kasih, Yang Mulia, kami pasti akan membacanya," ucapku pada sang Ratu sesaat setelah buku itu ada di genggamanku.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu ya, semoga kalian selalu diberkati," lanjut Ratu sambil bergerak menuju pintu. Kami hanya memandangnya.
Ratu itu ... Aku melihat keresahan di wajahnya.
"Emm ..., Yang Mulia, tunggu sebentar!" ucapku memanggil Ratu.
__ADS_1
"Ada apa Orva— maksudku Erika?" Ratu kembali menengok kami dan aku pun berjalan mendekati Ratu.
Aku memberikan selembar kertas yang kemarin sempat ku temukan dan kami pecahkan.
"Aku ingin memberi tahu Anda tentang ini, aku menemukannya saat kita berdiskusi di perpustakaan," ucapku seraya memberikan kertas itu pada Ratu Zefa. Dan tentu saja temanku merasa heran.
Zefanya membuka kertas yang berisi kata-kata itu. Kulihat wajah putihnya mulai memerah dan telinganya mulai lancip. Kami langsung mundur perlahan. Aku tahu dia pasti sangat marah.
"Kurang ajar! aku yakin Mortuza telah mengambil salah satu orang dalamku!" teriak Zefa murka. "Dari mana kau dapatkan ini?!" tanya Zefa dengan nada tinggi.
"Yang Mulia, tolong tenanglah." Rian menenangkan Ratu Zefa, dan memberikan isyarat dengan tangannya.
Setelah aku rasa Ratu Zefa tenang aku mulai menceritakan semua yang ku alami dengan jujur tanpa ada yang aku kurangi maupun aku tambahi.
"Aku sangat meminta maaf karena tidak memberi tahu hal ini dari awal," ucapku pada Zefanya yang kemarahannya sedikit mereda.
"Iya, kami juga akan mengembalikan kamus ini kok," ucap Rama sambil mengambil kamus yang mereka ambil dari perpustakaan.
Aku melihat raut mukanya begitu menyedihkan.
"Sudah lah, ini bukan salah kalian, justru karena kalian aku jadi tahu jika ada yang berkhianat di istana ini," ujarnya.
"Aku harus segera memberi tahu semua orang di istana!" lanjut Zefanya.
"Em ... Aku rasa jangan dulu, Ratu Zefanya." ucapku menghentikan Ratu Zefanya.
"Kenapa?" heran Ratu.
"Karena menurut kami itu akan menyulitkan dalam mencari penghianat itu," ucap Rian menjawab Ratu. "Orang yang berkhianat itu pasti akan menjadi was-was dan lebih hati-hati jika dia tahu bahwa kita mencurigainya."
"Iya, Yang Mulia, kami rasa kita harus bersikap biasa saja dan menyelidiki dengan halus," tambah Clara.
"Oh ... , itu yang sangat membuat aku suka dan yakin dengan kalian, kalian itu tak hanya baik tulus tapi juga memiliki kecerdasan yang baik, aku jadi sangat yakin jika kalian akan memenangkan pertarungan itu," ucap Ratu Zefa memuji kami dengan penuh harapan.
Tapi di balik pujian itu, aku benar-benar tidak yakin, aku sangat tidak yakin jika harus berduel dengan Mortuza. Sedangkan yang aku dengar dia itu sangat kejam.
"Terima kasih, Yang Mulia, kami juga berharap seperti itu," ucap Rama.
"Baiklah, aku pergi sekarang, satu lagi— jangan sampai buku itu jatuh ke tangan yang salah atau hilang, karena di situ juga ada kunci untuk membuka jalan menuju dunia kalian." Ratu pun kemudian tenggelam dalam pintu.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan temukan cara agar kita dapat kembali," ucap Clara bersemangat.
"Dan tentunya memenangkan pertarungan itu," tambah kakaknya.