
Sebelum aku dan teman-teman terlelap dalam tidur kami, kami menyempatkan waktu untuk membaca apa isi dari buku itu. Kami membaca lembar demi lembar, sampai kami menemukan sebuah teori tentang kalung dan gelang yang kami pakai.
"Berarti apapun itu, kita tak boleh kehilangan ini," ucapku sambil memegang gelang yang diberikan oleh Zefanya.
"Kau benar karena jika salah satu dari kita sampai kehilangan apalagi jatuh ke tangan Mortuza, itu akan sangat berbahaya," lajut Rian meneruskanku.
Gelapnya malam itu dihiasi oleh titik-titik sinar bintang yang berdansa di dinding langit. Malam semakin gelap dan kami mulai merasa mengantuk sehingga kami memutuskan untuk beristirahat.
"Baiklah, sebaiknya kita lanjutkan besok pagi saja, aku sudah sangat mengantuk," ucap Clara sambil mengucek matanya.
"Kau benar Clara, aku juga sudah sangat mengantuk," ucapku yang mulai merasa berat pada mata.
"Baiklah, kita lanjutkan besok," ucap Rama dan Rian kompak.
Rian pun menutup buku itu dan menyimpannya di laci meja.
Kami semua langsung menjatuhkan diri ke kasur masing-masing dan terlelap.
Tengah malam aku terbangun dari tidurku tiba-tiba. Aku tidak sengaja melihat bayangan berjalan di balkon kamar. Aku yang tak dapat membendung rasa penasaran pun langsung bangun dan melihat ke luar. Tapi tidak ada siapapun di balkon.
Hampir saja aku masuk kembali, tiba-tiba dikagetkan dengan sesuatu yang jatuh dari langit-langit. Aku pun tak jadi membalik arah, aku lihat sebuah buku mirip sekali dengan yang di berikan oleh Zefanya tergeletak di lantai.
Aku segera mengambil dan aku mendongak ke atas. Aku melihat sepasang sepatu little yang alasnya tergambar sebuah segitiga milik seorang Little yang sedang berusaha naik ke atap, namun aku tak melihat wajahnya.
"Siapa itu!" teriakku sambil memandangi ia yang sedang berusaha naik. Aku berusaha mengejar naik ke atap namun aku tak bisa, aku terlalu takut jatuh. Sampai akhirnya ia sudah tidak terlihat lagi.
Teriakanku membangunkan teman-temanku dan mereka menyusulku ke balkon kamar.
"Ada apa, Erika?" tanya Rian tergesa-gesa yang diikuti oleh Rama dan Clara.
"Kau simpan buku ini dimana?" tanyaku pada Rian sambil memperlihatkan buku yang ku pegang.
"Di laci meja," jawab Rian jujur.
"Kenapa ada disini?" tanya Rama heran.
"Iya, Erika. Lalu mengapa kamu teriak-teriak begitu tadi?" tanya Clara yang masih sedikit mengantuk.
Aku belum segera menjawab pertanyaan mereka. Aku langsung pergi ke meja dan membuka lacinya. Ternyata sudah tak ada buku disitu. Semua temanku terkejut melihat bukunya sudah tak ada.
"Buku ini hampir dicuri!" ucapku pada teman-teman yang berdiri di depanku.
"Sialan! Siapa yang berani berbuat seperti itu!" ucap Rian geram.
__ADS_1
Aku menceritakan kejadian sebenarnya pada mereka.
"Dasar sialan!" Rama mulai kesal dengan apa yang aku ceritakan.
"Aku yakin sekali bahwa dia adalah orang yang memiliki kertas itu, maksudku— mungkin saja," ucapku dengan penuh keyakinan.
"Tapi siapa orang sialan itu?" tanya Rian bingung dengan masa kesal.
"Kita hampir saja kehilangan kunci ini," ucap Clara yang menyebut buku itu kunci.
"Kita juga hampir berhasil memecahkan masalah pengkhianatan itu!" ujar Rama. "Sayang sekali kita terlambat."
"Apa kau benar-benar tidak bisa melihat ciri-ciri orang itu?" tanya Rian padaku dengan tatapannya yang tegas.
"Aku benar-benar tidak bisa mengenalinya, aku hanya bisa melihat kakinya yang bergelantungan, dan hampir semua kaki orang sini itu sama," jelasku pada mereka.
"Tapi ukurannya pasti berbeda," ucap Clara berpendapat.
"Iya aku ingat, aku hanya melihat tanda segitiga pada bagian bawah alas kakinya," ucapku mengingat bayangan itu.
"Segitiga di alas kakinya?" tanya Rama heran.
"Ya sudah kita pecahkan ini besok, kurasa ini masih tengah malam, sebaiknya kita istirahat," ucap Rian sambil memastikan ia sudah mengunci semua pintu dan jendela kamar kami.
"Rian, kau saja yang memegang buku ini," ucapku memberikan buku itu pada Rian.
"Ohh baiklah, akan aku peluk buku ini sampai pagi, haha," ucap Rian yang membuat kami semua tertawa.
Kami segera kembali beristirahat dan Rian tertidur sambil memeluk buku itu. Aku bisa melihat wajahnya yang begitu tampan saat ia tertidur. Astaga! Apa yang aku pikirkan ...
Matahari pagi sudah sedikit mengintip. Rian terbangun dan masih mendapati buku itu di tangannya. Kami semua belum bangun.
"Ayo bangun!" suara Rian membangunkan kami dari tidur. Seperti biasa kami pergi menuju sungai dan menyegarkan badan kami. Setelah itu kami pergi untuk sarapan.
Rian membawa buku itu kemanapun kami pergi. Dengan memakai jaket yang panjang ia menyelipkan tangan yang membawa buku ke dalam jaket agar menutupi buku.
"Hei itu Maggie, kan? Aku sudah kangen dengannya," ucap Clara menunjuk ke arah Maggie.
"Hai Maggie," ucap kami setelah menghampiri Maggie. Dia pun menyambut kami dengan ramah.
"Halo, selamat pagi, teman," jawab Rian.
"Apa kabar Maggie," tanyaku pada Maggie.
__ADS_1
"Aku baik, tapi aku tak akan tanya pada kalian, karena aku tahu kalian baik, tapi kalian sedang ada sedikit masalah," ucap Maggie.
"Iya kami memang ada sedikit masalah, tapi bagaimana kau bisa tahu?" tanya Clara sedikit curiga.
Kami pun duduk di kursi yang membundar. Hanya saja Clara tak duduk bersama kami. Ia memilih untuk duduk di bawah kami.
"Ada apa, Clara?" tanya Rama melihat Clara duduk silah di bawah.
"Tidak apa-apa, aku lebih suka disini, karena aku bisa lihat kalian semua, hehe," ucap Clara yang jelas berbohong.
Aku tahu apa yang ia pikirkan. Sebenarnya Clara duduk dibawah, agar dapat melihat alas kaki Maggie dan saat Maggie mengangkat kakinya ia sedikit melirik ke arah alas kakinya.
"Maaf, Maggie, aku ingin tanya sesuatu," ucap Clara tiba-tiba.
"Oh, baiklah silakan kalian bertanya apapun padaku," jawab Maggie ramah.
"Apa benar dulu pernah ada manusia seperti kami datang ke tempat ini?" tanya Clara pada Maggie.
"Ya, kurasa memang kalian seharusnya tahu tentang hal ini," balas Maggie.
"Apa maksudmu?" tanyaku yang tak tahu apa-apa.
"Dulu memang ada seorang dari bangsa kalian datang ke sini— seorang wanita, namun ia bersikeras mencoba mencari jalan keluar untuk pulang, dan yaa— sekitar beberapa ratus tahun lalu," jawab Maggie.
"Beberapa ratus tahun lalu?" tanya Rama pada Maggie.
"Tunggu, kau tahu dari mana tentang hal itu? Kenapa tak beri tahu aku dan Rian?" tanyaku pada Clara dan Rama.
"Kami tahu dari Niku, kemarin saat kami berkeliling ia sedikit menceritakan tentang itu," jawab Rama.
"Lalu kenapa kau tak cerita pada kami?" tanya Rian kesal.
"Maaf, kami lupa," jawab Rama memberi alasan.
"Lalu dia berhasil pulang?" lanjut Clara dalam pertanyaannya.
"Sudah ku bilang. Kami sendiri juga tak tahu, sudah lama tak ada kabar dari manusia itu," jawab Maggie.
"Begitu ya?" ucap Rian yang tak sengaja menjatuhkan bukunya dari jaketnya.
"Buku apa itu?" tanya Maggie melihat ke arah buku yang terjatuh.
"Bukan apa apa, tak berguna, hanya buku harian yang terbawa kemari!" jawab Rian.
__ADS_1
Disamping semua itu Ratu Zefanya semakin lemah. Kini ia tak lagi ada di singgasananya, melainkan ia terbaring di tempat istirahatnya yang megah.