LITTLELAND

LITTLELAND
EPISODE 22


__ADS_3

Disisi istana, keadaan Ratu Zefa semakin lemah dan sudah bisa dikatakan sekarat. Para penduduk desa sudah mulai berdatangan ke istana untuk berdoa.


Rian membantuku berdiri dan kami mengubur jenazah Lars dan menancapkan pedang gagahnya sebagai seorang kesatria di atas tanah kegagahannya. Lars adalah orang yang sangat baik menurukltku, dia juga pemberani dan setia. Setelah itu kami mulai kembai dengan membawa Putri Zoey serta batu permata dengan selamat.


"Rama!" kata Bibi Gani.


"Ada apa ibu?" balas Rama.


"Maafkan ibu, karena telah berbohong. Sebenarnya ibu tidak pergi ke pasar waktu itu, tapi ibu pergi ke perpustakaan tua," ungkap Bibi Gani menyesal.


"Tidak masalah ibu, aku sayang ibu." balas Rama yang kemudian memeluk ibunya erat. Kami yang berada disekitarnya tersenyum haru melihat itu.


"Tapi bagaimana kalian bisa sampai kesini?" tanya Bibi Gani.


"Ceritanya panjang, nanti saja aku ceritakan pada ibu, setelah kita sampai dirumah," Pasangan ibu anak itu sangat bahagia.


Kami sangat terkejut saat melihat begitu banyaknya warga desa yang sedang berdoa di hampir seluruh halaman istana.


"Megi? Ada apa ini?" tanyaku heran.


"Tidak tahu, tidak pernah seperti ini sebelumnya." Megi langsung masuk ke dalam istana dengan buru-buru diikuti oleh kami. Setelah sampaindi sebuah kamar yang tak lain adalah kamar Ratu Zefa, kami semua terkejut saat melihat keadaan Ratu Zefa yang sudah semakin lemah.


"Kakak!" panggil Putri Zoey menghampiri Zefanya.

__ADS_1


"Ohh, adik kecilku. Kakak sangat merindukanmu!" Ucap Ratu Zefa dengan lemas di balas dengan pelukan hangat dari Zoey. "Aku yakin kalian akan berhasil para ksatria muda!" Ucapnya pada kami.


"Terimakasih Ratu!"


"Kalian sudah menyelamatkan kami semua, aku benar-benar merasa tidak berguna sebagai seorang Ratu. Ratu yang sudah lemah ini," lanjut Zefanya. "Terimakasih sebesar-besarnya kepada kalian," ucapnya.


"Zoey perkenalkanlah mereka pada penduduk desa! Badanku sedang tidak enak!" Perintah Ratu pada adiknya.


"Baik kak," jawab Zoey. Kemudian Zoey membuak sebuaklh tirai besar yang ada di kamar tersebut dan menuju sebuah balkon besar. Disitulah Ratu Zefa sering melakukan pidato untuk para penduduk Littleland.


Sanjungan banyak dilontarkan pada kami. Kami belum pernah merasa dihormati seperti itu sebelumnya. Namun bagaimanapun kami tetaplah anak SMA yang cupu dan suka petualangan.


Setelah semua itu kami kembali ke kamar kami dan Megi sudah mengganti pakaian kami dengan magicnya.


"Tidakk! Kakak!" Suara teriakan itu membawa kami ke kamar Ratu Zefa. Kulihat Ratu Zefa yang terbaring dengan mata terpejam dan bibir yang pucat.


"Dia sudah tiada!" Balas Megi lesu.


"Astaga!" Kami terkejut.


"Kau harus menerima semua ini Zoey, Ratu Zefa orang yang baik!" ucap Bibi Gani yang menenangkan Zoey. Mereka sudah lama tahu satu sama lain, semenjak di sandera oleh Mortuza.


"Ya aku tahu itu, terimakasih Bibi," ucap Zoey memeluk ibu Rama.

__ADS_1


"Kalian harus kembali ke dunia kalian sebelum matahari terbenam. Bukalah kotak itu dengan kunci itu, di dalamnya akan ada sebuah puzzle yang akan membawa kalian pulang." Jelas Zoey pada kami.


"Toi kami ingin sekali melihat pemakaman Ratu Zefa." ucap Rama.


"Tidak perlu, biasanya seorang ratu akan menjadi sebuah cahaya saat tengah malam." Jelas Zoey pada kami


"Dan jika matahari sudah terbenam maka kalian tak akan bisa membuka pintu ke dunia kalian lagi," sambung Megi.


"Baiklah!" Ucap Rian. Kemudian Rian mulai membuka kotak itu dengan kunci yang ku kalungkan di leherku. Cklekk.. kunci terbuka dan ada sebuah puzzle di dalamnya. Puzzle itu mirip sekali dengan puzzle yang kita mainkan saat kita berada di perpustakaan tua itu, dan akhirnya membawa kami kesini.


"Siapa yang memainkannya saat itu?" Tanya Megi.


"Dia!" Kami menunjuk ke arah Rama.


"Kau yang harus memainkannya Rama!" lanjut Megi.


"Lalu bagaimana dengan ibuku, dia tidak bersama kami saat kesini. Apakah dia bisa pulang bersama kami?" Tanya Rama sedih.


"Tentu saja, jika dia masuk maka dia bisa." Ucap Megi.


"Baiklah aku mainkan!" Rama mulai meminkan puzzle itu dengan mempertemukan kunci dengan gemboknya. Tak butuh dua kali kesempatan, Rama langsung bisa memecahkan puzzle itu. Tak lama datanglah sinar terang yang sama seperti yang menyedot kami di perpustakaan.


"Masuklah!" Ucap Zoey. "Aku sayang kakian, terimakasih telah menyelamatkan kami, kalian akan selalu dikenang di Littleland ini!" Kata Zoey yang langsung memelukku dan teman lainnya. Terlihat ia sudah mengenakan dua kalung permata kekuasaan.

__ADS_1


"Kami juga menyayangi kalian!" balasku. "Megi, terimakasih karena kau telah membantu kami, kau teman yang baik." lanjutku memeluk Megi.


Kemudian satu persatu dari kami mulai memasuki pintu cahaya itu. Kami melewati ruang yang penuh dengan cahaya putih. Tak disangka kami sudah berada di bawah meja perpustakaan. Kepalaku terasa sangat pusing.


__ADS_2