LITTLELAND

LITTLELAND
Bagian 13


__ADS_3

"Yang benar saja! Jangan seperti itu Rama," tegurku pada Rama yang berburuk sangka pada Lars.


"Aku hanya menebak saja, lagi pula dia sangat judes," jawab Rama membela diri.


"Sudahlah, kita tak tahu siapa yang melakukan ini, cobalah untuk kita selidiki jika ada waktu luang," kata Rian menenangkan suasana.


"Aku merasa lelah, aku rasa aku butuh istirahat," ucapku yang merasa sudah mengantuk. Aku langsung naik ke kasurku dan tak lama kemudian terlelap dalam tidur.


"Baiklah aku juga ikut tidur, besok kan kita akan berlatih lagi," ucap Clara pada Rian dan Rama. Tak lama Rian dan Rama pun ikut tertidur pulas. Mungkin karena akibat kelelahan tadi saat berlatih.


***


Ku lihat seorang wanita cantik berambut pirang panjang dengan gaun yang indah, kulihat kalung dengan permata merah tergantung di lehernya. Namun ia sedang dalam tahanan seseorang, itu terlihat dari tempatnya.


Ia dikurung seperti burung dalam sangkar. Kulihat bawahnya adalah lembah berapi yang siap menyantap kapanpun jeruji itu terjatuh.


"Hahahaha, aku akan segera mendapatkan kekuasaan untuk negeri ini, hahahaha," kata seorang yang wajahnya menyeramkan sambil tertawa berat.


Aku lihat kami berempat juga berada di tempat itu, dan lebih herannya aku juga menemui seorang perempuan manusia yang ada di sana. Namun aku tak begitu jelas melihatnya.


Bulan purnama telah tiba, air dalam danau kegelapan mengalirkan airnya pada lembah api itu, sehingga tidak ada lagi api, semua menjadi sebuah danau yang luas dengan warna gelap.


Kulihat wanita cantik itu diturunkan dari sangkarnya dan disiksa. Iblis jahat itu mengambil kalung permata merah dari wanita itu.


Kulihat setelah itu, bulan tertutup oleh awan hitam, sehingga tidak ada lagi cahaya malam itu. Semua peperangan telah dihentikan.


***


"Oh aku bermimpi lagi ternyata, hoaam ... ." Aku terbangun sambil mengucek mata. Matahari masih belum terlalu tinggi. Aku membangunkan semua teman-temanku untuk persiapan latihan.


Kami pun langsung menuju tempat pelatihan dan di sana sudah ada Lars dan Baraza dan Ratu Zefanya.


"Selamat pagi, Yang Mulia." Kami menundukkan kepala tanda hormat di jawab dengan tangannya.


"Maaf apabila kami terlambat," ucapku kemudian.


"Tidak masalah, sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk latihan," ucap Baraza.

__ADS_1


"Oh, begitu ya," jawabku.


"Kalian berkelilinglah dulu, hari ini kita akan berlatih berduel pedang," ucap Lars pada kami yang berdiri rapi di samping mereka.


"Baiklah." Kami pun pergi meninggalkan mereka dan berkeliling sejenak. Aku lihat saat aku menoleh ke belakang, ratu pun ikut pergi.


Aku teringat dengan sungai di belakang taman istana dan aku berniat untuk menunjukkan pada mereka. "Hei! Apa kalian mau kutunjukkan sesuatu yang menyegarkan?" tawarku pada teman-teman yang sedang berjalan santai.


"Tentu saja, apa itu?" jawab Clara yang ada di sampingku.


"Baiklah, ayo ikut aku." Aku berjalan membawa mereka ke sebuah aliran sungai belakang istana. Ku tunjukkan pada mereka betapa segarnya air itu. Mereka pun terlihat senang dan tak lupa mengalirkan air pada tangan dan wajah pagi mereka.


Tiba-tiba Lars datang juga ke sungai itu. Ternyata dia juga sangat menyukai aura segar air sungai yang segar itu.


"Kalian menyukainya?" ucap Lars mengagetkan kami yang sedang asyik bermain air.


"Lars! ayo teman-teman kita mulai latihan," ucap Rama yang sangat terkejut.


"Kalau kalian ingin menikmatinya juga tak apa, aku juga sangat menyukai air ini, Rasanya aku langsung mendapat energi baru setelah menyentuhnya," ucap Lars pada kami sambil mencelupkan telapak tangannya ke dalam aliran itu.


Setelah kami menikmati air itu beberapa lama. Lars mengajak kami untuk latihan.


Kami meninggalkan sungai menuju lapangan pelatihan. Kulihat sudah banyak prajurit yang berlatih dengan keras. Termasuk juga di sana ada Maggie dan Niku yang tampak sedang memainkan pedang mereka.


Kami sudah dihadapkan dengan pedang kayu dan kami mulai memainkan sesuai arahan dari Lars dan Baraza.


"Untung saja kita pernah ikut seni bela diri dulu, jadi tak terlalu kaku," ucap Rama mengingat kembali. Kami memang mengikuti salah satu cabang seni bela diri. Tidak tanpa alasan, kami melakukan itu untuk melindungi diri dan menolong orang lain.


"Ya, kau benar Rama," ucap Clara yang sedang berhadapan dengannya.


Untuk mengasah kemampuan kami, Lars saling mengadu kami. Aku melawan Rian, dan Clara melawan Rama, hal ini agar kami tak hanya berani dengan sesama jenis saja.


Aku kalah dari Rian, dan Rama kalah dari Clara. Aku akui jika kemampuanku memang masih kalah dari Rian. Dia bermain hebat sekali.


"Kau payah!" ledek Rian padaku sambil tertawa nakal.


"Ya, kurasa aku harus lebih banyak belajar darimu, Rian," ucapku sambil tertawa.

__ADS_1


"Kau ini bagaimana? Masa kalah denganku," Clara meledek Rama yang masih terbaring di tanah.


"Aku hanya keseleo saja tadi, makanya kau bisa menang," ucap Rama membela diri.


"Baiklah, ayo," Clara mengulurkan tangannya untuk membantu Rama berdiri. Hal itu disambut baik dengan Rama yang menerima bantuannya sambil tertawa.


Kami diperbolehkan untuk istirahat. Namun aku lebih memilih untuk berlatih mengendalikan pedangku. Dengan ditemani Rian aku sekuat tenaga dan dengan menggunakan logika berhasil mengalahkan Rian. Sedang Rama dan Clara, mereka diajak Baraza untuk berkeliling sebentar.


"Hei bagus sekali kalung kalian, boleh aku melihatnya?" ucap Baraza pada Clara dan Rama.


"Em ... maaf kami tak bisa, ratu memberikan ini untuk kami dan kami harus bisa menjaga ini," ucap Rama menolaknya halus.


"Baiklah, tak apa," jawab Baraza yang sedikit kecewa namun aku bisa melihat kekesalan di wajahnya.


"Eh ,ngomong-ngomong, kalian sudah tahu jika pernah ada juga seorang wanita dari bangsa kalian yang datang ke sini sebelumnya?" tanya Baraza tiba-tiba.


"Tidak kami tak tahu, kami juga tidak tahu jika kami bakal terseret kemari." Clara menggeleng-geleng.


"Memangnya pernah ada manusia yang datang ke sini?" tanya Rama balik.


"Ya, dulu ada seorang manusia, yah— seorang wanita yang tiba-tiba datang, tetapi ia nekat untuk mau mencari jalan keluar dari negeri Littleland ini, dan sampai sekarang kami masih belum tahu apakah dia berhasil atau tidak," ucap Baraza menjelaskan.


Rama jadi teringat cerita dariku, dimana aku melihat sesuatu yang jahat dan menyandera putri cantik dan sebagian warga little, dan aku juga melihat sekelebat bayangan manusia.


"Terima kasih informasinya," ucap Rama.


Disamping mereka yang sedang asyik jalan-jalan, aku dan Rian masih asyik memainkan pedang.


"Kalian tak istirahat?" ucap Lars yang tiba-tiba muncul, kami pun menghentikan permainan kami.


"Oh tidak, kami hanya melakukan suatu permainan saja," jawabku pada Lars. "Aku rasa kemampuan pedangku masih sangat buruk."


"Baiklah, walupun kalian terlihat biasa saja, tapi aku tahu ini semua berat bagi kalian, dan itu semua bisa kalian jalani dengan tekat yang kuat dan persahabatan kalian," ucap Lars sambil memandang kami.


"Ya, Anda benar," Rian tertawa ringan mendengar ucapan Lars.


"Aku juga pernah merasakannya, jadi aku harap kalian akan terus seperti ini, karena semua ini tak mudah," lanjut Lars pada kami.

__ADS_1


"Maksudmu pernah merasakannya? merasakan hal yang mana?" tanyaku pada Lars.


__ADS_2