Long Distance Marriage

Long Distance Marriage
LDM - Do You Love Him?


__ADS_3

Starla menyambangi Raga di dalam kantornya, dia terkesima menyaksikan kemegahan suasana ruangan yang sejuk, interior yang menawan mata. Tapi, di mana Raga? Dia tidak terlihat sedang duduk di kursi putarnya.


"Raga, di mana kamu? Raga!" teriak Starla.


Starla melirik ke arah meja yang terdapat foto Raga, Jasmine dan juga ibunya. Posisi Raga sedang berdiri di belakang dengan Jasmine dan ibunya sedang duduk di tengah sambil tersenyum.


"Cantik banget mertuaku, sayangnya aku belum ketemu dia," gumamnya.


Kriiing!


Kriiing!


Suara telepon di meja kerja Raga berdering kencang. Starla terkejut dan bingung karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin harusnya sektretaris atau ajudan Raga yang angkat namun karena di ruangan itu tidak ada seorangpun selain dia.


Starla mengangkat teleponnya dan terdengar suara wanita.


"Hai anak nakal, kenapa lama sekali angkat telepon ibumu ini, katanya kamu sudah menikah dengan wanita biasa? Awas ya kalau dia wanita jahat yang mau menyakiti anakmu nanti, ibumu ini sudah muak sama perbuatan mu yang seenaknya saja! Oh iya satu lagi, ibu pulang secepatnya kalau Jasmine belum juga ditemukan, maka sudah dipastikan kamu jatuh miskin."


Tiiit!


Telepon itu mendadak mati. Starla pun tergurai lemas setelah mendengar celotehan mertuanya. Akankah semua ujian datang menerpa setelah menikah dengan Raga?


Pintu toilet terbuka, Raga baru saja keluar dari sana dan langsung menyambangi kursi putarnya.


"Raga, barusan ibumu telepon, tapi aku tidak tahu apa yang dia bilang, aku mau jemput anak-anak dulu saja, ya?"


"Buat apa nenek sihir itu telepon kantor ini," protes Raga.


"Tapi dia kan ibumu juga mertuaku," sahut Starla. "Kira-kira ada masalah apa sama ibumu?"


"Sebaiknya kita pergi sekarang juga, aku mau ke rumah sakit, ada banyak pasien yang membutuhkan penanganan khusus dan dokter yang baru bekerja, kamu jemput anak-anak, kalau sudah di rumah langsung masak dan biasanya mereka pergi buat les pelajaran lain," terang Raga.


Starla mengambilkan jas hitam Raga lalu dia membantunya untuk mengenakannya. Kemudian netra mereka saling bertatapan.


"Wah, ada air di brewok mu Raga, sini biar aku hapus," ucap Starla. Dia mengusap air yang masih tersisa di pipi Raga dengan lembut.


Ceklek!


Pintu masuk terbuka, muncul Aslan dan Dilara baru saja menyambangi kantor Presdir.


Aslan terbelalak menyaksikan tangan Starla sedang menyentuh pipi Raga. Sedangkan Dilara tampak kaget dan tidak suka akan pemandangan itu.


"Eh, kalian ada apa?" tanya Starla.


"Raga pihak rumah sakit sudah menghubungi saya, saatnya kita pergi karena ini darurat," ucap Dilara. Dia langsung pergi tanpa permisi dahulu.


Raga tak banyak basa basi lagi, dia lantas pergi dan membawa tasnya. Starla dan Aslan menyusulnya tapi aneh karena Raga terkesan tidak peduli pada istrinya. Mungkin harusnya seorang suami bergandengan tangan dengan pasangannya namun sangat disayangkan, Presdir ganteng itu tidak menunjukkan kepeduliannya.


Bruk!


Seorang karyawan yang membawa lima gelas minuman tak sengaja menabrak Starla. Cairan jus buah itu langsung membasahi baju mahalnya hingga rambut dan wajahnya.


"Ada apa ini!" tegas Raga. Dia terkejut karena Starla terlihat sudah kotor dan wajahnya dipenuhi oleh jus buah yang sudah tampak jorok.

__ADS_1


"Raga, kita harus segera ke rumah sakit!" tukas Dilara. Dia menarik tangan Raga dan langsung pergi.


Starla terenyuh mendapati pemandangan yang kurang sedap itu, suaminya tidak melindunginya bahkan dia memilih untuk menuruti orang lain yang dianggap lebih penting darinya. Hatinya tersayat begitu menyaksikan Raga berdua dengan Dilara.


"Dasar si gila kerja," protes Aslan.


Kemudian, Cello muncul di hadapan Starla dan dia langsung terkejut karena mendapati wanita itu sudah berlumuran cairan jus.


"Cello? Aku mau jemput anak-anak dulu, tapi-"


"Mau jemput anak kok bajunya kotor begini, ada baiknya pulang dulu terus ganti baju dan segera jemput anak jam satu siang nanti, kalau sudah tiba di rumah buatkan mereka makan siang lengkap dengan buah, tapi aku kasih saputangan ini buat mengelap jus di wajah kamu, aku mau berangkat dulu menyusul Tuan Raga," ucap Cello, dia berlalu dari hadapan Starla.


"Memang berat kalau hidup di samping keluarga Raga, tapi jangan khawatir, kalau ada apa-apa lapor aku saja," ucap Aslan. "Aku mau lanjut kerja dulu, ya biasa melayani si brengsek Raga."


Aslan pun berlalu dari hadapannya dan Starla menjadi bahan tontonan para karyawan.


Starla menerima saputangan berwarna abu-abu dari Cello, dia langsung mengusap wajahnya. Namun, di hatinya tersimpan kekecewaan mendalam pada Raga, mentang-mentang dia dinikahi untuk sementara waktu sampai ada kejadian memalukan pun suaminya tidak mempedulikannya. Bahkan, melihat tangan Raga digenggam oleh Dilara sudah membuatnya serasa tersambar petir.


"Aku tidak cinta pada Raga tapi kenapa rasa cemburu ini sudah hadir? Atau jangan-jangan aku ini sudah mulai suka padanya, eh kita kan baru menikah, kenapa sudah cemburu," batin Starla.


Jam satu siang, Starla menjemput anak-anak ke sekolah, itu pun usai mengganti semua pakaiannya dengan yang baru. Begitu tiga anak keluar gerbang, mereka muncul dengan wajah dingin.


"Eh, siang semuanya?" sapa Starla.


Flo terbelalak, dia berkata, "Tante tidak marah, kan? Bukannya tadi pagi Allu melemparkan batu biar botol air di lantai dua jatuh terus airnya-"


Sontak, Allura membungkam mulut Flo.


"Kita pulang saja, yuk!" ajak Starla.


Ketika di dalam mobil, Starla membiarkan mereka duduk di belakang namun anak-anak itu masih belum bersikap ramah pada ibu sambungnya.


"Kalian nanti mau makan apa?"


"Em, biasanya kami makan daging ayam lengkap dengan buah-buahan," sahut Allano. "Sebenarnya kami ingin makan yang dari toko itu, seperti ayam goreng, spaghetti, bakso dan jajanan pedas."


"Jangan macam-macam, Allan! Kita bisa kena marah daddy dan oma, itu bukan makanan kita, kalau sakit perut bagaimana?" sangkal Allura.


"Allu, bukannya kamu juga ingin makanan jalanan?" sambung Flo. “Jujur saja, aku juga mau, tapi apa daya, kita kan tidak pernah dikasih uang jajan, ada juga alat untuk membayar secara cash dari mesin yang ada di tangan ini."


Ketiga anak itu menunjukkan sebuah alat berupa jam tangan yang berfungsi untuk membayar cash jika membeli sesuatu. Hal itu membuat Starla tersenyum.


"Baiklah, kita makan yang ada di toko tapi secukupnya, ya? Jangan bilang-bilang ke daddy atau oma, tenang mommy pasti jaga rahasia."


"Apa, mommy?" ucap Allura.


Glek!


"Eh, maksudnya tante, iya tante."


Wajah Starla meredup, dia keceplosan sudah mengklaim bahwa dirinya adalah ibu bagi mereka. Meskipun sulit tapi hati Starla yang baik tidak membuatnya tersinggung. Dia mengantar ketiga anak itu untuk membeli makanan sesuka hatinya tanpa harus melapor pada orang tua di rumahnya.


***

__ADS_1


Sementara Raga mendapatkan sambutan hangat dari donatur yang hendak menyumbangkan dana untuk orang sakit yang membutuhkan. Tanpa segan, Dilara mendampinginya bagaikan seorang kekasih saja, dia menggandeng tangan kanan Raga di depan semua orang tanpa malu.


"Maaf Dokter Dilara, tanganmu harusnya tegap," ucap Cello.


Dilara melepaskan genggamannya. “Sudah, kamu puas? Cuma pegang tangan dia kenapa kamu protes? Ada yang salah?"


"Tuan Raga sudah menikah dengan orang lain," pungkas Cello.


Kemudian, Raga mengajak Dilara untuk menyambangi kantor pribadinya. Dia duduk di kursi dan bertatap muka dengan pria tampan itu. Data fokus gadis itu memandang Raga yang sedang memeriksa data di buku catatan tidak mampu mengedipkan matanya.


"Dilara, pasien anak yang menderita leukemia apa sudah mendapatkan kemoterapi yang tepat?" tanya Raga.


Tapi, Dilara tidak menjawab.


"Dilara, saya tanya kepadamu!" tegas Raga.


Pandangan Dilara baru saja mulai sadar.


"Eh, iya, aku sendiri yang tangani masalah itu, tapi kalau tidak ada pemilik rumah sakit ini rasanya kurang lengkap, dulu ada ibu mu yang rutin ke tempat ini, dan sekarang aku berharap kamu yang rutin datang ke sini. Apa karena sudah ada istri baru jadwal mu makin padat? Yang urus anak kan dia? Kalau begitu lebih baik aku saja yang rawat mereka juga," ucap Dilara.


Raga mengerutkan keningnya.


"Apa kamu bilang? Ingat ya, aku menikahi Starla sudah menjadi keputusan sendiri bukan intervensi dari orang lain," sangkal Raga.


Smartphone miliknya berdering, dia mendapat panggilan dari mertuanya.


"Iya pa? Starla baik-baik saja di rumah, bahkan dia akrab dengan anak-anak," ucap Raga di awal telepon.


"Menantuku, beri aku cucu ya, papa ingin gendong cucu sebelum mati," sahutnya.


"Oh, itu kita bahas saja lain kali, aku mau kerja dulu," pinta Raga, lalu dia menutup teleponnya lagi.


Dilara mendengar percakapan itu dan dia tidak menyukainya. Wajahnya tampak suram dan dia berpindah tempat ke kursi tamu.


"Aku ke toilet dulu," ucap Raga.


Setelah Raga masuk toilet, smartphone milik dia berdering lagi. Dilara bergegas untuk memeriksa siapa yang meneleponnya saat ini. Dan dia terbelalak karena mendapati nama Starla. Tanpa banyak berpikir, dia pun langsung menutup teleponnya.


Pintu terbuka, muncul Cello membawa beberapa berkas dokumen. Dilara kaget bukan main karena posisinya sedang berdiri menghadap meja Presdir dan smartphone milik Raga. Pria tampan itu mendekat lalu menyimpan semua berkas di atas mejanya.


"Dokter sedang apa di sini?"


"Sedang apa! Aku kan kaki tangan Raga dari dulu, memang aku salah kalau ada di sini? Harusnya 24 jam aku bersamaan dengan Raga, rumah sakit sedang ada masalah apalagi terkait donatur yang sudah membatalkan dananya untuk orang sakit yang kekurangan dana," ungkap Dilara.


Cello sedikit khawatir. Lalu, dia membuka semua berkas itu.


"Jadi kemungkinan ini semua bukan data dari donatur?"


Dilara tertawa geli. Kemudian matanya berkaca-kaca hingga kemerahan. Dia duduk kembali dan mengusap air matanya.


"Kenapa Raga memilih wanita itu? Sedangkan semua orang tidak tahu rencana dia menikah lagi dengan gadis ingusan yang bodoh dan urakan. Padahal aku sudah berusaha untuk menjadi pendamping dia, aku rela begadang demi pekerjaan, aku rela mengorbankan waktu demi pekerjaan, tapi Raga tidak pernah melihat diriku ini," keluhnya.


"Jadi ada kemungkinan kamu suka dengan Tuan Raga, tapi sayangnya cintamu kurang ditanggapi," sahut Cello.

__ADS_1


__ADS_2