Long Distance Marriage

Long Distance Marriage
LDM - Start Loving Starla's


__ADS_3

Starla kaget dengan kemunculan suaminya, batin wanita itu hanya takut Raga akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Perlahan-lahan sang suami dua anak itu mendekat dan berdiri di hadapan Starla.


"Sudah beres masaknya? Anak-anak sudah kelaparan, bahas masalah itu urusan nanti," pungkasnya.


Starla terhenyak, bukannya barusan masakannya ditaburi garam oleh Dilara? Bagaimana kalau masakan yang seharusnya lezat menjadi asin dan membuat lidah menolak rasanya.


"Raga, rendang ini--"


"Starla, anak-anak kita sudah lapar!"


Tiba-tiba Aslan tertawa terbahak-bahak menertawakan kakak iparnya.


"Sejak kapan kakak ipar ku ini mengakui bahwa Starla adalah istrinya, ada--ada saja," sindirnya, kemudian Aslan berlalu dari hadapan mereka.


Raga tampak sudah tidak sabar lagi untuk menyuruh Starla agar menyiapkan masakan di meja makan. Dia menepuk kompor beberapa kali.


"Aku tunggu di meja makan!"


Starla pun tidak sanggup melawan suaminya, dia tidak mencicipi masakannya dan tidak peduli enak atau tidak.


Setelah semua masakannya tersaji di meja makan, batin Starla masih was-was, tatapannya tertuju pada masakan yang ada di depan suaminya.


"Dad, aku suka rendang, aku mau makan itu," pinta Allano.


"Boleh, tapi daddy dulu yang makan," pintanya.


"Kalau tidak enak tinggal bilang ya? Maaf kalau tidak enak, biar tante yang makan," ucap Starla dengan wajah masam.


Jantung Starla mulai berdebar kencang saat menyaksikan Raga menaruh rendang di atas piringnya. Perlahan-lahan Raga memotong dagingnya lalu dia santap, tapi netra cokelatnya tiba-tiba saja memandang Starla.


"Perasaan apa ini? Jantungku benar-benar tidak tenang, ini bukan kecemasan," batinnya. "Apa ini yang namanya cinta? Ah masa aku jatuh cinta pada suamiku yang arogan ini. Eh, tapi rendangnya enak atau tidak ya?"


Deg!


Deg!


Jantung gadis itu semakin berdetak kencang, serasa ada sebuah kereta melintas di depannya melaju kencang hingga angin sepoi-sepoi berembus.


"Bagaimana rasanya, dad?" tanya Allura.


Raga terlihat seperti orang kebingungan saat mengunyah rendang buatan istrinya. Tapi, dia menaruh dagingnya lagi di atas piringnya.


"Ini kurang enak, buat daddy saja semuanya ya? kalian tidak bakalan kuat," pungkas Raga.


Tapi, Allano tidak sabar lagi untuk makan, dia merebut mangkok rendang dari hadapan daddy-nya lalu menaruh beberapa kerat daging di atas piringnya.

__ADS_1


"Aku coba," ucapnya. Allano menyantap rendang itu lalu matanya terbelalak. "Dad, mau sampai kapan jadi orang tua yang suka berbohong dan galak? Rendang ini enak sekali."


"Apa! Enak?" gumam Starla.


Deg!


Starla teringat sewaktu di dapur, dia belum sempat menaruh garam dan penyedap pada masakannya, mungkin dengan kehadiran Dilara yang sengaja menaburkan garam menjadi penyelamat baginya.


"Oh, tidak!" ucapnya.


"Starla, ayo makan," suruh Raga.


"Iya, iya, kita makan," sahutnya.


"Tante, rendang ini aku suka tapi kurang gurih," ucap Allura.


Hati Starla begitu melayang ke udara begitu mendengar pujian dari Allura, anak sambungnya yang belum menerima sepenuhnya sebagai ibu sambung.


Spontan, Starla pun tersenyum manis padanya. Lalu, dia memandang suaminya yang tampak lahap menyantap makanan dan tidak ada keluhan sama sekali.


"Ada suka ada duka, mungkin ini bumbu pernikahan, tapi kapan Raga menyentuhku? Nafkah batin itu belum juga aku dapatkan," batinnya.


Sebelum tidur, Starla membantu Raga untuk menyiapkan piyamanya, dia meletakkannya di atas ranjang dan dirinya sebagai istri belum berani mengenakan lingerie seksi yang memancing hasrat lelaki.


Raga baru saja keluar dari kamar mandi, dia terkejut melihat istrinya sedang merapikan piyamanya.


"Kalau dia ada di sekitar kita, aku siap mencari Jasmine. Kasihan Flo dan aku salut juga sama Aslan yang tetap setia menunggu kepulangan istrinya," ucap Starla.


"Jangan bahas dia, aku muak!" bentak Raga berapi-api.


"Kapan kamu memberiku nafkah batin!" sahut Starla, dia keceplosan tapi aura wajahnya tiba-tiba redup seketika.


Starla lebih memilih untuk merebahkan badannya di atas ranjang lalu dia menyelimutinya.


Sedangkan Raga memandang Starla dengan tatapan sayu.


"Kamu benar-benar mau nafkah batin dari aku? Maaf, aku belum mau sentuh kamu sebelum kasus ini tuntas, ingat janji pernikahan ini, aku menikahi kamu hanya untuk sementara," pungkas Raga.


Kemudian, Raga merebahkan badannya di samping Starla. Dia hendak menutup matanya tapi melirik dahulu pada istrinya yang membelakanginya. Pelan-pelan dia hendak menepuk bahu Starla namun ada rasa canggung.


Sedangkan sang istri berurai air mata kesedihannya. Dia sengaja menutup wajahnya dengan selimut agar tidak diketahui oleh Raga.


"Sebagai wanita aku pasti merasakan kecewa. Tapi, kalau ingat mama dan papa rasanya sakit," batinnya.


"Oh iya, aku rindu mereka."

__ADS_1


Esok harinya, Starla menemani Raga untuk mengontrol kondisi rumah sakit megah asuhannya. Tiba di sana, Cello menyambutnya dengan riang kemudian disusul oleh Dilara yang memasang wajah sinis.


Merasa diledek oleh dokter judes itu, Starla tak mau kalah, dia menggandeng tangan kanan Raga dan menunjukkan kemesraan di depan umum. Seketika wajah Dilara dan Cello pun redup karena cemburu.


Ketika di dalam kantor, Cello dan Dilara memberikan berkas dokumen pada Raga. Tapi, kedua netra dokter itu mencerminkan ketidaksukaan pada Starla.


"Kabar yang menyenangkan, akan ada donatur baru yang bersedia menyumbang uangnya untuk pasien kurang mampu, barusan aku sudah tulis siapa yang akan mendapatkan tunjangannya," ucap Dilara.


"Kadang mereka menolak tawaran, itu yang membuat kami sedih, tapi Tuan Raga harus segera mengontrol perusahaan yang lain juga," ucap Cello.


Raga tiba-tiba menutup dokumennya. "Cello, menjadi Presdir bukan hal mudah, biasanya Jasmine dan ibuku yang pimpin tapi ya kamu tahu majikanmu ini sedang tidak baik-baik saja."


"Sudah sepantasnya Presdir itu menikahi wanita cerdas yang bisa diandalkan, bukan yang menye-menye dan hanya tinggal terima nafkah lalu dia habiskan dalam waktu sekejap, tidak tahu diri namanya," sahut Dilara.


Starla yang sedang duduk di kursi tamu mendengar ucapan Dilara, dia tahu bahwa gadis itu sedang menyindirnya.


"Jangan aneh kalau suatu hari Raga akan semakin stres dan depresi, entah itu karena rumah tangga atau pekerjaan. Aku mengerti perasaan mu," ucap Dilara.


"Oh, terimakasih banyak, Dilara. Kamu yang terbaik," puji Raga.


Dilara merasa mendapatkan hadiah berlian ketika dipuji oleh Raga. Sementara Cello melihat Starla tampak tersinggung karena perlakuan suaminya. Maka dari itu, Cello selalu terketuk hatinya untuk membela Starla.


"Saya yakin, suatu hari Nyonya Starla bisa menjadi yang terbaik. Jadi istri Presdir dan ibu sambung itu tidaklah mudah, apalagi ada tanggung jawab yang lain."


"Bagaimana dengan makan malam tadi?" tanya Dilara mengalihkan pembicaraan.


"Oh, rendang buatan istriku itu sangat enak," puji Raga.


Seketika wajah Dilara redup kembali dan Starla tersenyum cerah.


Kring!


Kring!


Kring!


Telepon berbunyi nyaring, Cello menerimanya lalu berkata," lya, ini kantor Axelion Corp, ada yang bisa kami bantu?"


"Cello, ini Bi Mia, tolong bilang pada Tuan Raga, ada tamu di rumah," ungkapnya.


"Siapa dia?"


"Ah, pokoknya ada tamu, aku juga khawatir sama dia!"


Tutt!

__ADS_1


Telepon pun tertutup.


Siapa tamu itu?


__ADS_2