
Raga menarik tangan Starla lalu merebahkan badannya lagi di atas ranjang. Raga sengaja menatap sang istri, istri kontraknya itu dalam-dalam, seketika magnet cinta yang tersambung lewat ke-empat netra itu merambat hingga membuat getaran di dada berdebar kencang.
Deg!
Deg!
Deg!
Raga mengusap rambut Starla, lalu menciumnya dengan lembut. Raga sengaja menindih istrinya untuk mengunci agar tidak memberontak.
"Star, katakan sejujurnya, siapa itu Luth?"
Glek!
"Mungkin pacar ibu kamu," jawabnya.
Raga kehilangan nafsunya untuk bercinta dengan Starla. Dia pun kembali duduk di atas ranjang lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Raga, ibu pasti sedih juga akhir-akhir ini banyak kehilangan rekan bisnis dan mungkin asmara, anak-anak yang labil dan kamu sendiri juga kena mental. Bagaimana kalau kita selesaikan satu persatu? Aku tidak mau kalau suatu saat keluarga ini hancur apalagi kalau bisnis sampai bangkrut."
Raga tertawa geli. Dia membaringkan tubuhnya lebih dulu.
"Hei, Starla. Memang kamu ibunya Alu dan Alan? Memang kamu pemilik bisnis keluarga? Kamu itu cuma pengasuh anak-anak yang dapat hak istimewa dariku lewat pernikahan."
Starla terhenyak ketika suaminya berkata demikian, dia merasa tidak dihargai bahkan tidak mendapat perhatian sedikitpun dari Raga. Betapa tidak, bukankah anak-anak sudah disayangi, mertua pun dihormati dan tidak pernah merepotkan suami, tapi Raga sedang buta hati, sama sekali tidak mau sadar diri.
Kemudian Raga ke toilet terlebih dahulu. Dia menutup tunya rapat-rapat lalu bersandar di balik pintu. Menghela napas sambil merasakan detak jantung yang kian berdetak.
"Mustahil aku mencintainya, itu mustahil! Raga, jangan lakukan itu," batinnya.
Raga seolah membenci dirinya sendiri karena benih cintanya telah tumbuh pada Starla. Namun, hati tidak bisa berbohong, dia memang mulai mencintai sang istri kontraknya.
"Raga, jangan lama-lama, aku ingin buang air!" ujar Starla.
"Raga, sudah belum? Aku tidak kuat lagi, nih!"
Dengan cepat Raga membuka pintunya.
"Maaf, aku lagi kebelet soalnya," ucap Starla.
Wajah redup Starla buat Raga terhenyak. Mungkin barusan dia sedih karena merasa dilukai olehnya. Dia rela menunggu istrinya di depan pintu toilet. Lalu, terdengar suara isak tangis yang melirih, senggugukan seolah menahan kekecewaan.
__ADS_1
Pintu terbuka, Raga tercekat melihat Starla telah membasuh wajah hingga membasahi bajunya.
"Star, kamu habis mandi? Tidak kedinginan?"
Starla tidak menjawab apapun bahkan tidak sudi untuk menemaninya tidur. Wanita itu menyambangi kamar Allu, alih-alih ingin tidur bersama mereka ternyata ketiga anak itu sudah terlelap di kasur lipat yang tergelar di lantai.
Tak masalah baginya, Starla pun langsung merebahkan badannya di samping Flo.
Kemudian, Raga menyusul di saat mereka sudah benar-benar terlelap.
"Sejak kapan anak-anak tidur di lantai begini?" batin Raga. "Ya ampun, enam tahun mungkin mereka tidur terkapar, apa tujuan mereka padahal aku sudah memberinya ranjang yang bagus."
Raga pun menemani mereka tidur. Dia berbaring di samping Allu. Tatkala merebahkan badannya, tangan Allu memeluknya dengan erat. Raga menatap wajah gadis kecilnya yang selalu dia marahi tiba-tiba saja tertegun.
"Putriku yang suka menangis dan suka tertawa, tiba-tiba saja dia memelukku seolah aku tidak berdosa di matanya. Maafkan daddy-mu ini yang selalu sibuk, bahkan memelukmu saja sudah jarang," batin Raga. Dia pun berurai air mata.
"Daddy, Mommy, aku takut!" Allura mengigau dengan suara parau, seperti tercekik.
Raga mengusap rambutnya lalu tertidur pulas.
Pagi hari tiba, Allura siuman lebih dulu, dia terbelalak mendapati sang daddy sedang mendengkur keras. Kemudian, Allano yang terbangun karena suara itu, dia menggisik matanya lalu tercekat melihat Raga tidur menemaninya.
Kemudian giliran Flo yang bangun. Dia pun terhenyak melihat tantenya tidur di sampingnya. Lalu, mereka duduk bertiga dan berdiskusi.
"Bagaimana kalau kita geser mereka biar tidurnya berdekatan terus kita selimuti?" ucap Flo.
"Jangan! Aku kurang suka," sahut Allura.
"Bagaimanapun juga Tante Starla kan sudah baik sama kita, kurang apanya? Akhir-akhir ini dia yang membela kita, kalau tidak ada dia mungkin kita sudah jadi korban maki-maki daddy," ucap Allano.
Kemudian mereka menggeserkan badan ayah dan ibu sambungnya sampai berdekatan dan menyelimutinya.
"Terus kita mau apa sekarang?" tanya Allura.
"Kita mandi dulu terus sarapan," ajak Flo.
Lima belas menit kemudian, Raga mulai siuman, lalu dia memeluk Starla karena merasa wanita di sampingnya adalah Allura. Dan Starla membalas pelukannya sehingga mereka tampak mesra.
Tapi, Starla mendengar suara dengkuran keras Raga, matanya perlahan-lahan terbuka.
"Hah kok kita tidur bareng?"
__ADS_1
Raga pun mulai terbelalak. "Iya, kok bisa?"
Dengan cepat mereka bangun dan saling menyalahkan.
"Kamu pasti semalaman mau merayu buat gituan, ya?"
"Enak saja, aku lebih dulu ke kamar ini, Raga! Lagian buat apa kamu ikut-ikutan tidur di kamar anak-anak!"
"Star, kamu harusnya tahu diri, istri itu tidurnya sama suami!"
"Habisnya semalam kamu nyebelin! Kamu nindih aku terus sudah gitu bikin badan aku sakit, pegal linu, encok juga sakit--"
Bruk!
Pintu terbuka lagi. Ketiga anak itu baru saja selesai mandi.
Raga tertegun sekaligus kaget bukan main. Lalu, Allano menghampiri mereka.
"Dad, kenapa tidur di kamar kita?"
"Kalian juga kenapa tidur bertiga di kasur lipat? Sejak kapan kalian tidur barengan? Bukannya kalian punya kamar masing!" gertak Raga.
Allura berurai air mata, dia mengambil tissue lalu menyekanya. Sebuah foto mommy-nya dia ambil lalu dia berikan pada sang daddy.
"Kami sudah lama tidur bertiga agar tidak kesepian lagi, biasanya dulu mommy atau Tante Jasmine yang mendengar keluh kesah kami sekarang mereka sudah tidak ada lagi. Aku cuma ingin ada teman bicara, Dad!" tukas Allura terisak-isak.
"Tengah malam kalau aku tidak bisa tidur biasanya aku pindah ke kamar ini," ucap Flo. "Hidup kami sepi, orang tua tidak ada yang bisa diajak curhat."
"Dad, Mom, eh maksudku Tante," ucap Allano. "Terima kasih sudah mau tidur bersama kami lagi ya? Aku merasa punya keluarga yang sesungguhnya. Jujur saja selama ini kami kesepian, aku juga senang Oma sudah mau suapi kami kalau makan."
Raga terhenyak, semula dia merasa geram tapi hatinya luluh karena ungkapan ketiga anak yang mengeluarkan unek-uneknya. Bukankah semalaman Starla juga naik pitam gara-gara Raga?
Pagi ini dia terhibur. Lalu memeluk anak-anak manis itu satu persatu.
"Kapan rumah ini ada anggota keluarga baru?" tanya Allano.
"Siapa?"
"Adik bayi."
Raga tidak mau menanggapi hal itu. Dia lantas meninggalkan kamar anaknya. Telepon berdering kencang, dia mengangkatnya dan terdengar suara Dilara.
__ADS_1
"Raga, aku tunggu kamu di rumah sakit, ada masalah di sini."