
"Starla?"
"Hah! Aslan? Kamu menginap di sini?"
Aslan yang masih memakai baju casual itu tampak keheranan melihat Starla yang sedang mengintip sesuatu dari kaca.
"Ngapain kamu di sini?"
"Ada orang di luar sana, kayaknya ada maling tapi dia melemparkan sesuatu ke balkon. Coba lihat dari sini ada kain warna putih nyangkut di sana," terangnya.
"Baiklah, kita cek sama-sama ke sana," ajak Aslan.
"Tapi--"
"Jangan takut, kita cek ke sana!"
Starla dan Aslan bergegas ke balkon lantai dua. Ada kekhawatiran juga karena wanita itu takut dianggap selingkuh lagi oleh Raga. Sedangkan malam ini mereka sedang berdua memeriksa sesuatu yang dianggap kurang penting.
Tiba, di balkon lantai dua. Starla menemukan sebuah kertas yang berbentuk pesawat tersangkut di pagarnya. Dia lantas mengambilnya lalu membukanya. Dan isinya cukup membuatnya terkejut.
"Dear Flo tersayang, maafkan mama karena selama ini belum bisa peluk kamu saat tidur di malam hari, mama janji suatu saat pasti akan pulang."
Aslan terhenyak, tulisan yang tertata rapi itu berasal dari istrinya yang belum pulang. Semakin menguatkan hatinya bahwa Jasmine tidak jauh dari sekitarnya.
"Dia rupanya ada di sekitar kita," ucapnya.
"Barusan aku lihat dia bawa senter terus dia melemparkan benda ini, aku makin penasaran apa yang terjadi sama adik iparku itu," sambung Starla. "Aslan, kita masuk rumah lagi, kita bawa bukti ini buat Flo."
Setelah di dalam rumah, suara musik klasik dari kamar sang mertua terdengar dan dia ikut menyanyikan lagu itu namun dengan suara mendayu-dayu.
"Kamu tahu tidak? Ibu sebenarnya lagi mabuk," ungkap Starla.
"Itu lagi, deh! Sialan, mertua macam apa dia, anaknya kabur dari rumah tapi tidak pernah sekalipun peduli," ujar Aslan. "Aku masih curiga sama dia, kemungkinan Jasmine berseteru dengan ibu."
Kemudian Ibu Rose terdengar berteriak memanggil seseorang. "Luth! Jangan pergi, aku mohon!"
Starla pun menghela napasnya.
__ADS_1
"Sedang apa kalian di sini?" sapa Raga yang mendadak sudah berdiri di belakang mereka.
"Raga?" ucap Starla. "Kami di sini--"
"Tidak ada apa-apa, cuma ada gangguan sedikit. Ibumu tuh mungkin sedang tergila-gila sama kekasihnya," ucap Aslan. "Selamat malam, selamat menikmati aktivitas ranjang, ya?"
Aslan berlalu dari hadapan mereka. Sedangkan Starla tidak menyahut apa-apa dan langsung pergi ke kamarnya. Dia lantas berbaring lagi di atas kasur yang empuk dan nyaman itu, tapi masih terbayang-bayang sosok manusia yang baru saja melemparkan sebuah surat.
Benarkah itu adalah Jasmine?
Tiba-tiba saja Raga meraba kaki Starla.
"Arrggh! Jangan!"
"Kenapa kamu keluar malam begini?"
"Ada suara gaduh dari luar, aku kira siapa. Tapi kami barusan menemukan surat dari Jasmine, Aslan yang pegang. Oh iya, Luth itu siapa ya? Ibu manggil dia terus," ungkapnya.
Raga menghela napas lalu dia membuka piyamanya. Sepertinya dia tidak menghiraukan ucapan istrinya.
"Kita lakukan malam ini," pintanya. Lalu dia memeluk Starla dan mengecup bagian lehernya.
Tapi Raga malah memeluk Starla dengan paksa lalu membuka kedua kaki istrinya.
Plak!
Spontan Starla menolak kemesraan itu. Dia tampak risih disentuh oleh sang suami kontrak nan tua ini lalu menitikkan air mata dan menyekanya.
Raga mendekatinya lalu menatap kedua mata Starla.
"Lihat sini, kamu barusan berdua dengan Aslan dan itu buat aku cemburu. Aku tidak bohong, ini benar-benar kecemburuan," ungkapnya.
"Kamu tidak percaya?"
"Cemburu itu tanda cinta," pungkas Starla. "Apa kamu sudah mencintai aku? Mustahil, kamu masih cuek dan belum perhatian. Aku cuma dijadikan pengasuh di sini, mau sampai kapan kontrak ini terjadi?"
"Sampai orang tuamu sadar, kamu bertahan di rumah ini karena mereka juga, kan? Kalau mendengar anaknya bercerai, Papa Ray pasti kena serangan jantung," ucap Raga.
__ADS_1
Netra Starla berkaca-kaca. Rasanya lemah jika kedua orang tuanya disinggung apalagi masalah kesehatan. Jelas, wanita itu tidak mau kehilangan senyum papa dan mamanya.
Menanggalkan pakaian sang istri. Dia mulai mengecup leher istrinya karena dia menolak memberikan bibir manisnya untuk dikecup.
"Maaf, aku lakukan ini mendadak," bisik Raga.
Lalu mereka pun melakukan apa yang harus mereka lakukan.
"Jadi, buat apa hubungan mesra ini aku dapat? Sedangkan suamiku ini terbilang kejam," batin Starla.
Starla bergegas bangun dan pergi ke toilet. Dia langsung buang air dan menumpahkan semua benih itu supaya tidak hamil.
"Aku rindu mama dan papa di sana, aku ingin pulang,"
Kemudian dia mengucurkan air keran dan langsung membasahi badannya.
Pagi hari tiba, Starla memilih untuk mengantarkan anak-anak ke sekolah. Raut wajahnya terlihat dingin dan tidak menyapa siapa pun.
"Hari ini kamu ikuti aku ke kantor, ada pertemuan penting dengan donatur," pinta Raga.
"Terus anak-anak?"
"Ada Bi Mia, biar dia yang antar jemput kan ada supir juga," pungkas Raga.
Akhirnya niat Starla mengantar anak-anak batal juga karena Raga terkesan memaksa agar menemaninya ke kantor. Hingga sampai di rumah sakit, mereka disambut oleh Dilara sambil membawa baket bunga mawar putih.
Raga langsung ke ruangan di lobi lain sedangkan Starla ditinggalkan begitu saja.
Sialan memang Raga ini ya Bu Starla!
Penasaran apa yang akan dilakukan Raga. Wanita itu bergegas menyusulnya.
Raga terlihat digandeng oleh Dilara dan belok ke arah kiri. Hingga tiba di sana, pemandangan mencengangkan pun dia dapati.
Dilara tengah mengecup bibir Raga.
Deg!
__ADS_1
"Raga, kamu?"