
Starla terkejut karena suaminya mulai geram.
"Dad! barusan les menari aku membosankan, aku tidak mau lagi les menari," keluh Allura. "Aku mau makan makanan yang ada di jalanan lagi, itu lebih enak."
Raga terkejut ketika putrinya berkata demikian. Sontak pikirannya menjelajah ke mana-mana dan yang orang yang dia curigai sebab anak-anaknya jajan sembarangan adalah istri mudanya itu, Starla Arandelle Axelion.
"Bukannya daddy sudah larang kalian buat jajan sembarangan! Kalian masih kecil, perut kalian belum kuat makan-makanan itu!" protesnya.
"Anak-anak, sebaiknya kalian ke kamar buat ganti baju dulu, nanti kita belajar sama-sama, ya?" pinta Starla dengan lembut.
Anak-anak pun menuruti perintahnya. Sedangkan Cello mengawasi pergerakan mereka. Namun, Raga memberi tanda kepada Starla berupa kedipan mata untuk mengikutinya ke kamar pribadinya. Raga tampak geram lalu dia melemparkan bantal hingga mengenai meja rias Starla.
Brukh!
Ctrak!
Trang!
Beberapa kosmetik terjatuh dan pecah. Starla pun tersulut emosi melihat semua kosmetiknya rusak.
"Apa-apaan kamu ini Raga! Apa aku salah memberi mereka kesempatan untuk jajan di jalanan, mereka penasaran, cuma ingin tahu bagaimana rasanya, anak-anakmu bukan balita lagi!"
"Barusan Dilara menelpon katanya ketemu kamu di pasar kumuh yang dipenuhi PSK dan preman, sungguh tidak pantas kamu main-main di sana," pungkas Raga.
"Oh, jadi Dilara yang melapor sembarangan? Aku cuma lihat adik kamu, Jasmine barusan lewat di sana!" sahutnya. "Kalau tidak percaya ya tidak apa-apa, tapi kamu daddy macam apa sampai tidak pernah antar anak-anak buat les kesukaannya? Mungkin sebentar lagi mereka pentas di sekolah."
Raga si egois tidak mau kalah, matanya terbelalak karena Starla menyindirnya lagi.
"Kamu jangan macam-macam sama suami, status kamu di sini hanya jadi pengasuh!"
"Kalau kamu menikahi wanita lain apa masih dijadikan pengasuh?" balas Starla.
Kesabaran Raga sudah habis, dia menarik baju Starla lalu dia melemparkan badan istrinya ke ranjang hingga tidur terlentang.
"Kamu berani macam-macam sama suamimu ini?"
"Apa! Mau adu silat?"
Kemudian, Raga menindih badan Starla. Dia menekan kedua tangannya seolah hendak dicampuri. Keempat netra itu saling memandang dan melotot dengan tajam.
Deg!
Deg!
Deg!
"Perasaan apa ini?" batin Raga sambil menatap netra istrinya. "Ah, tidak kenapa ada hasrat yang datang? Apa yang terjadi sebenarnya? Badanku panas dingin, aliran darahku meningkat dan...dan..."
"Raga!" seru Starla. Namun, Raga tidak menjawab dan malah fokus menatapnya tanpa berkedip.
__ADS_1
Deg!
Deg!
Deg!
Lalu, Starla menepuk kedua pipi Raga sambil berteriak.
"Raga! Raga! suamiku, kamu kenapa?"
"Apa! aku suamimu!" sahut Raga.
Kemudian Starla memberontak hingga membuat Raga terjatuh ke lantai dan kini giliran Starla yang menindih Raga.
Ceklek!
Suara pintu terbuka. Muncul Allura dan Bi Mia hendak menyambangi kamarnya. Mereka pun terbelalak dan terkejut.
"Kalian sedang apa? Ini kan bukan malam hari?" tanya Bi Mia.
"Dad, ada Tante Dilara di ruang tamu," ucap Allura.
Allura menutup pintunya. Betapa malunya Raga dan Starla kepergok oleh mereka dalam posisi saling menindih seolah hendak berhubungan intim.
Bagaimana kalau Allura yang kritis berpikir yang bukan-bukan. Tapi, Raga tidak shock lagi karena kejadian barusan.
Mereka berdua langsung menyambut tamu yang sudah menunggu.
"Raga, aku bawa kabar baru lagi," sahutnya. "Ada donatur baru kita nanti yang mau kerjasama dengan kita, kabarnya dia juga pemilik yayasan yang punya panti asuhan."
Mereka pun duduk bersama. Raga berdampingan dengan Starla. Sedangkan Dilara duduk sendirian namun tetap saja wajahnya menunjukkan ketidaksukaan pada Starla.
Tak berselang lama, muncul Allura menyambangi mereka.
"Eh, Allu sayang, sudah 'kan les menarinya? Suatu saat tante ingin melihat Allu yang cantik ini menari di depan semua orang," ucap Dilara. "Tapi, katanya barusan waktu kamu les ditinggalkan sama Tante Starla?"
"Itu yang bikin daddy geram sama mommy tirimu ini," sambung Raga.
"Jadi kalian lagi bertengkar? Kenapa barusan cium-ciuman di kamar? Daddy di bawah dan tante Starla di atas, iya kan?" sindir Allura.
"Ah, Allu jangan bicara sembarangan!" protes Starla. Wajahnya memerah karena malu.
Sontak, Dilara terbakar cemburu mendengarnya. Ada raut wajah kesal yang dia tunjukkan pada Starla bahkan matanya mendelik.
Malam hari tiba, Dilara belum mau pulang. Dia sangat antusias untuk mendekati Allura dan Allano yang sedang bermain teka teki di lantai. Dilara pun mulai menghampiri dan menyapa," Allu, Allan sudah mainnya, sekarang waktunya makan malam."
"Tante Starla 'kan masih masak, biasanya dia memanggil kami kalau makanan sudah siap," sahut Allano.
"Kalian sudah anggap dia seperti mommy sendiri, ya? Ingat, Daddy Raga itu tidak pernah lupa sama Mommy Alisha, jadi Starla itu bukan mommy kalian," pungkas Dilara.
__ADS_1
"Tapi, aku menyukainya. Dia sangat baik dan lucu, kami sering melihat mereka berciuman dan berpelukan, aku kan sering ngintip," sahut Allano.
Parah Allano!!
"Allan!" Allura menutup mulut kembarannya itu.
Tak suka dengan perlakuan kedua anak itu, Dilara pun bergegas ke dapur untuk menemui Starla yang masih sibuk memasak. Dia menemukan Starla dan Flo sedang masak berdua.
"Tante, aku suka sop ayam buatan tante, sering-sering bikin buat aku, ya? Jadi ingat Mama Jasmine, aku kangen dia," ucap Flo.
"Pasti dong, tinggal bilang sama tante terus dibuatin, deh!" sahut Starla sambil mengaduk masakannya.
Dilara pun cemburu menyaksikan seisi penghuni rumah tampaknya sudah menyukai Starla. Dia langsung meyambangi wanita yang sedang memasak lalu nekad menaburkan garam ke atas daging.
"Eh, apa-apaan kamu!"
"Ingat ya, bagaimanapun juga kamu bukan pengganti Alisha, mustahil Raga bisa suka sama kamu," ucap Dilara.
"Memang aku salah apa sama kamu? Kamu mengadu yang bukan-bukan ke suamiku, untungnya dia masih lembut kalau tidak? Mana mungkin bisa aku memaafkan kamu!" pungkas Starla.
Dilara hendak mengangkat tangan kanannya untuk menampar pipi Starla. Tapi, aksinya gagal karena Aslan tiba-tiba sudah ada di depan pintu dapur.
"Starla!"
Dilara kembali menurunkan tangannya, dia menghela napas sejenak lalu membuang wajahnya dari Aslan.
"Cello bilang kamu melihat Jasmine di sekitar sanggar menari anak-anak, kamu tahu? Beberapa temanku sudah melihat penampakan dia di pasar dekat sanggar, ini buktinya," ungkap Aslan.
Pria itu menunjukkan foto Jasmine yang sedang berlari-lari terburu-buru di depan ruko. Sontak, Starla terkejut dan bahagia melihatnya.
"Sudah aku bilang, kejadian siang tadi bukan mimpi, dia adalah Jasmine," ungkapnya.
"Tapi, kenapa kamu belum pulang juga Dilara?" tanya Aslan.
"Memang kenapa? Tidak boleh aku di sini? Aku kan dokter pribadi anak-anak juga anakmu, tapi kalian tidak pernah sekalipun menghargai aku sebagai orang penting di sini," protes Dilara.
"Dilara, bukannya selama ini Raga memberi kamu jabatan tinggi di rumah sakit? Bayarannya juga mahal, kan? Kurang apanya?"
Dilara tersentak, matanya berkaca-kaca seperti menahan kekecewaan. "Jadi, jabatan itu sebagai hadiah buat aku?"
Dilara berlalu dari hadapan mereka. Gelagatnya membuat Starla geleng kepala karena gadis itu dirasa kurang sopan.
"Aneh dia," gumamnya.
"Starla, kabarnya mertua kita juga mau datang, kamu harus siap dengan segala konsekuensi yang ada, jangan takut, ya? Kalau kamu dibuat nangis, tinggal laporan sama aku saja," pinta Aslan.
Ceklek!
Pintu terbuka dengan kencang. Raga tampak tidak suka dengan pemandangan yang tidak sedap di matanya.
__ADS_1
Cih!