
"Dilara, bisa kamu keluar? Jangan ikut campur urusanku!" tegasnya.
Dokter cantik itu sedikit kecewa, susah payah membelanya namun semua sia-sia karena Raga tidak peduli padanya. Lalu, Dilara mendelik pada Starla dan langsung keluar kantor.
"Gadis itu sangat perhatian pada anakmu, kamu dan juga ibu," ucap Ibu Rose. "Lantas, kenapa kamu malah menikahi wanita lain?"
"Itu sudah keputusan aku!" tukas Raga.
"Yakin? Ini bukan nikah kontrak, kan?"
Wajah Raga memerah karena geram. Lalu, Starla menghadap mertuanya dan tersenyum kecil.
"Raga serius menikahi aku dan dia benar-benar mencintai dan memperlakukan aku dengan baik. Makanya, aku dan orang tuaku sangat bersyukur, begitu pula dengan Allan, Allu dan Flo, mereka juga sudah menganggap aku sebagai mama-nya, ibu tidak perlu khawatir," ucapnya.
Huh!
Raga menghela napasnya. Jawaban sang istri benar-benar di luar dugaannya. Raga mampu membaca bahasa tubuh istrinya bahwa dia membelanya agar tampak baik di mata Ibu Rose.
"Kalau sampai manajemen rumah sakit ini hancur, ibu bisa saja menjualnya ke pengusaha Tiongkok," pungkasnya.
Ibu Rose bergegas keluar dari ruangan itu. Dan Raga menghela napas dalam-dalam, dia duduk di kursi tamu sambil merebahkan kepalanya. Matanya terpejam dan tangannya memukul bantal, seperti sedang melampiaskan amarahnya.
Raga sebenarnya tertegun mendapati Starla berkata baik di depan ibunya, semua itu karena istrinya ingin menjaga nama baiknya. Ketika kinerja otaknya melemah, Raga sedikit mengantuk tapi ada sentuhan lembut di tangan kanannya. Usapan hangat itu menimbulkan getaran yang luar biasa, merinding sampai menjalar ke sekujur tubuhnya.
"Aku tahu Raga, kamu lelah, tidur saja dulu. Aku belum bisa jadi istri yang baik, tapi selalu berusaha agar pendamping hidupmu yang bodoh ini menjadi sosok yang tegar dan kuat," ucap Starla.
Deg!
Raga terkejut, dia membuka matanya dan melihat Starla sedang memijat tangan kanannya.
"Aku kira siapa, ternyata kamu. Lanjutkan saja, enak sekali dipijat begini," ucapnya sembari mendesah.
"Belum pernah dimanja orang tuamu, kan? Kasihan juga," sindir Starla. "Lain kali aku bisa pijat seluruh badanmu sampai ke area sensitif bagian--"
"Apa!" potong Raga.
"Memangnya enak?"
__ADS_1
Glek!
Starla tersenyum manis, bibirnya sungguh menghibur Raga yang sedang gundah gulana.
"Kadang orang itu nasibnya tidak ada yang sempurna, kamu lahir dari keluarga kaya tapi punya ibu yang bermasalah, bagiku ibu hanya perlu waktu untuk berubah. Begitu juga dengan Jasmine, aku yakin dia akan kembali kalau situasi sudah aman terkendali. Semuanya akan selesai jika kita sudah berdamai dengan sekitar."
"Di rumah, di kantor, di hotel, kamu sudah seperti ahli filsafat," pungkas Raga.
"Ayo, lanjutkan pijatannya."
"Tapi ada tarifnya kalau kelamaan," pinta Starla.
Hah!
"Aku kasih nafkah buat kamu bukannya itu termasuk tarif segala macam!"
"Bukan Raga. Beda lagi, jasa asuh anak, jasa asuh suami, jasa nyonya rumah sama jasa koki juga, itu kan?"
Raga dibuat pusing. "Ah sudahlah, lanjutkan pijatannya. Kalau sudah selesai lanjut pijat kaki aku!"
Wajah Starla memelas dan mencebikkan bibirnya. Cello telah memperhatikan mereka sedari tadi, dia tersenyum kecil karena terhibur. Tapi, hatinya tidak tahan melihat Starla tampak mesra dengan Raga. Lalu, ia memilih keluar dari kantor Presdir, menyandarkan tubuhnya sejenak dan menghela napas.
Cello menoleh ke arah kanan, dia melihat Dilara bersama Rose sedang berjalan menuju ruangan yang lain. Penasaran akan gelagat kedua wanita itu, Cello pun hendak mengikuti dan melihat mereka masuk ke ruang pribadi Dilara.
Cello pun mengintip dan mendengarkan percakapan mereka.
"Bagaimana perkembangan rumah sakit ini? Apa benar para donatur sudah percaya menyalurkan bantuan kepada pasien yang membutuhkan? Sudah lama manajemen di sini tidak terawasi dengan baik, Jasmine anakku belum juga pulang, harusnya dia yang tangani," ucap Ibu Rose.
Dilara tampak sembab dan selalu terlihat lugu di depan orang yang disegani.
"Menurut saya Tuan Raga sudah sangat cekatan mengurus bisnis di sini, dia juga sibuk mengurusi perusahaan lain, jadi pengusaha kaya ternyata tidak mudah, ya? Saya salut sama beliau," ucap Dilara. Matanya berkaca-kaca dan merah.
"Kenapa kamu menangis? Ada mimpi yang belum kamu raih di sini? Atau semua cucuku nakal?" tanya Ibu Rose.
Dilara menyeka air matanya lebih dulu.
"Begini, Ibu Rose. Selama ini saya belum pernah punya keinginan apapun, tapi saya mohon ibu mengabulkan doa ini. Saya benar-benar mencintai Tuan Raga dan ingin sekali menikah dengannya, mungkin saya lancang tapi hanya sama Ibu Rose bisa sejujur ini," ucapnya sembari menangis.
__ADS_1
Rose tidak menjawab apapun. Dia hanya menatap gadis itu menangis terisak-isak.
"Bagaimana? Saya bisa kan menikah dengan Tuan Raga? Allu dan Allan sudah seperti anak saya sendiri," ucap Dilara.
"Raga itu pria yang ambisius dan keras kepala, aku saja ibunya belum mampu meluluhkan hatinya, dia suka semaunya. Dan aku rasa orang yang telah berhasil merenggut hati Raga adalah wanita itu," ucap Ibu Rose.
"Starla maksudnya?" tanya Dilara.
"Mustahil dia bisa meluluhkan hati Raga. Dia butuh wanita cerdas seperti saya ini, bukan yang urakan. Aku yakin mereka hanya menikah untuk sementara. Tapi, saya mohon sekali lagi, ibu bersedia kan bantu saya untuk mendapatkan hati Raga?"
Ibu Rose malah membuang wajah darinya. "Kalau kamu punya keinginan pastinya kamu harus berusaha sendiri, aku ibunya Rafa tidak pernah ikut campur urusan dia."
Cello bergegas menghindar dari ruangan itu. Dia sudah mengetahui busuknya hati Dilara yang hendak merebut Raga dari Starla.
"Tuan Cello!" panggil seorang suster dari kejauhan. Lalu, wanita itu menghampiri dan membawa sebuah dokumen.
"Ada apa?"
"Katanya rumah sakit ini mau ada donatur pemilik yayasan, aku dapat berita dari orang yang kerja di sana, kabarnya sih dia memberi berita bahwa di rumah sakit ini banyak pasien yang sedang membutuhkan pengobatan khusus," ungkapnya.
"Kenapa dia bisa tahu? Kan aneh? Pemilik yayasan biasanya survey lebih dulu ke tempat ini dan itu tidak mudah," ucap Cello. "Ada intervensi dari luar, mungkin. Maaf, saya harus segera lapor pada Tuan Raga."
Cello langsung mendatangi ruang kerja Rafa . Di depan pintu, ada Starla yang hendak pergi. Asisten Presdir segera memanggilnya.
"Nona Starla!"
"Ada apa? Aku mau jemput anak-anak, Raga sedang tidur, biasa keenakan di pijat," bisiknya.
Tak berselang lama, Dilara dan Ibu Rose muncul berdua. Keduanya tampak akrab bak menantu dan mertua.
"Wah, wah, wah, ada istri Tuan Raga sedang berduaan dengan pria lain, apa ini bukan pelanggaran?" sindir Dilara.
"Mana Raga?" tanya Ibu Rose.
"Sedang tidur," jawab Starla.
Rose bergegas masuk ke ruangan putranya. Sedangkan Starla merasa sudah mendapatkan dukungan dari Ibu Presdir. Dia mendorong Starla hingga terjatuh.
__ADS_1
"Dilara! Sopan sedikit!" bentak Cello.
"Sebentar lagi kamu hengkang dari sini! Aku yang lebih pantas ada di samping Raga!" ucap Renata berapi-api.