Long Distance Marriage

Long Distance Marriage
LDM - A Child's Love


__ADS_3

"Kalian sedang apa di sini? Makanan sudah siap, kita makan sama-sama," pungkas Raga.


Raga masuk rumah terlebih dahulu. Mama Bintang pun tercekat, lalu dia mengusap air mata putrinya lebih dulu sebelum masuk ke rumah.


Setelah makan bersama, Starla memanggil Mama Bintang ke dapur dan memberikan sejumlah uang padanya. Isi amplop cokelat itu tampak tebal dan membuat hati Mama Bintang tersentuh.


"Ini buat mama sama papa," ucap Starla.


"Jangan telat berobat ya ma! Starla masih butuh kalian berdua, kalau terjadi apa-apa aku mau ke siapa lagi selain pulang ke rumah mama."


"Kamu ini kayak nikah kontrak saja sama dia," protes Mama Bintang.


"Ya, aku kan...aku kan... aku mau kalian panjang umur, bukan apa-apa tapi ya tanpa kalian hidup Starla sepi," sahut Stafa.


Sore hari menjelang malam, kedua orang tua Starla berpamitan untuk pulang. Sebenarnya mereka masih betah di rumah, namun Mama Bintang tidak mau putrinya melihat Papa Ray mengerang kesakitan atau bisa saja pingsan sehingga menyusahkan.


"Kakek, aku suka main sama kakek," ucap Allano.


"Seru juga main sama kakek, kalau saja oma kita seperti itu pasti di rumah bisa seru dan kita tidak bosen lagi," ucap Allura.


"Aku juga suka main bersama nenek dan kakek juga," lanjut Flo. "Sering-sering main ke sini, ya?"


Papa Ray tertegun melihat keceriaan mereka. Sesuatu yang jarang sekali dirasakan oleh ketiga anak yang hidup bergelimang materi. Tak ayal, pemandangan mengharukan membuat hati Raga terenyuh.


"Kakek sama nenek ada hadiah buat kalian, ini rajutan buat membungkus handphone atau barang lain, ini semua kita yang bikin," ucap Mama Bintang.


Anak-anak pun tertegun, baru pertama kali mereka menerima hadiah yang tidak seberapa dari orang lain. Tangannya tidak lantas menerima pemberian itu karena ragu dan belum terbiasa.


"Itu hadiah dari nenek dan kakek jadi terima saja," pinta Starla.


"Iya itu hadiah yang bagus," sambung Raga.


Mama Bintang dan Papa Ray berlalu dari rumah mereka. Allano tampak semangat juga melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.


"Hari ini kalian ceria sekali, ayo masuk rumah," suruh Starla.


Starla mengajak anak-anak masuk ke rumah sedangkan Raga masih berdiri termenung di depan rumah. Tak berselang lama, muncul sebuah mobil hitam yang dikemudikan oleh Cello. Aslan pun terlihat bersama Cello dan langsung menyapa kakak iparnya.


"Kak? Kok di luar?"


"Maaf Tuan Raga, barusan saya mendapat panggilan dari ibu anda untuk mengawalnya ke restoran," ucap Cello.


Raga tertawa kecil. "Ke restoran saja harus dikawal, mana ibuku?"

__ADS_1


"Mungkin sebentar lagi beliau sampai."


"Sini, aku mau bahas sesuatu dengan kalian," ajak Raga. Dia mengajaknya ke ruang kerjanya.


Mungkin tidak biasanya dia membawa adik ipar dan sekretaris pribadi ke dalam ruang kerja di rumahnya yang megah sehingga mengundang tanya bagi Aslan.


"Kak, ada apa ini?"


"Oh iya, aku mau mengajak kalian untuk membahas sesuatu," ucap Raga. "Apa kalian pernah mendengar siapa Luth?"


"Luth? Siapa dia?" gumam Aslan.


"Ibuku katanya pernah menyebut nama itu," ungkap Raga. "Ini bisa jadi bahan buronan kita. Jujur saja, pikiranku mulai traveling ke mana-mana tentang si Luth Luth itu."


Aslan tersenyum kecut sambil geleng-geleng kepala. Melihat gelagat kakak iparnya yang telah berubah, terbesit pertanyaan dalam benaknya. Apa yang terjadi pada diri Raga yang arogan dan tidak mau diintervensi oleh siapapun?


"Tapi, urusan kita dengan perusahaan juga belum selesai, mungkin Tuan Raga harus lebih berhati-hati mengawasi kelancaran bisnis juga, jujur saya mulai khawatir. Pasalnya Bibi Mia juga sempat bercerita tentang orang yang bernama Luth, pria yang selalu disanjung oleh ibu anda," terang Cello.


"Cello!" gertak Raga.


"ly...iya, tuan!"


"Kenapa baru bilang sekarang!"


"Ya, karena kemarin kan anda pergi dengan Nona Starla."


"Jujur saja aku masih mencari Jasmine. Aku yakin dia dekat dan masih berkeliaran di sekitar kita hanya saja dia sembunyi dan tidak mau diketahui oleh orang lain, belum tahu juga motifnya apa," ucap Aslan.


"Kak, tujuan kamu apa mengajak kita ke sini? Biasanya kamu benci aku? Ada apa ini? Heran aku tuh."


"Ya, aku cuma ingin kerjasama dengan kalian, kamu mencari Jasmine dan aku menyelidiki kasus ibuku dan bisnis keluarga, jadi aku mohon untuk sementara waktu libur dulu menerima proyek shooting, kita selesaikan satu persatu," pungkas Sean.


Aslan dan Cello tertawa kecil, mereka menutup mulutnya.


"Kenapa kalian meledek aku!" gertak Raga.


"Tidak biasanya kakak ipar arogan ini berubah jadi sedikit hangat, rupanya Starla telah merubah sedikit demi sedikit perbuatan buruk suaminya ini," sindir Aslan.


Wajah Raga memerah karena malu, dia tidak lagi menyahut sindiran Aslan.


Usai melaksanakan pertemuan di ruang kerjanya, mereka bergegas kembali ke ruang tamu. Tak diduga sebelumnya, nyonya rumah kehormatan baru saja datang.


Nyonya Rose Delianda Axelion!

__ADS_1


Penampilannya seperti baru saja pulang dari pesta, memakai gaun gemerlap yang dihias payet swarovski dan topi merah yang melekat di rambutnya.


"Oh, hai semuanya! Kalian rupanya ada di sini," sapa Ibu Rose.


"Pulang bekerja malam begini dan berpenampilan bak sosialita, ibu habis dari mana?" tanya Raga.


"Ya, baru saja ada perlu dari pesta pernikahan anaknya teman ibu. Oh iya Raga, mana cucu ku? Aku punya sesuatu untuk mereka," ucapnya riang.


Ibu Rose berlalu dari hadapan mereka, tidak ada sambutan lain, dia mengganggap ketiga orang itu bak pohon tak bernyawa.


"Kalian perhatikan gelagatnya," ucap Aslan. "Setelah pulang ke rumah ini tidak pernah sedikitpun dia membahas Jasmine, apa dia tidak pernah cemas pada anak perempuannya?"


"Itu yang aku curigai," ucap Raga.


"Kak, aku mengapresiasi kerjasama darimu, jujur aku rindu Jasmine karena aku mencintainya. Kita selesaikan satu persatu masalah keluarga ini, bukannya kakak juga selalu menelantarkan anak? Itu juga harus diubah, kan?" ucap Aslan.


Glek!


Raga menepuk keningnya karena tersinggung tapi juga mengaku bahwa dirinya selalu menelantarkan anaknya.


"Hahahaha!" Raga tertawa terbahak-bahak.


"Selama ini kalian anggap aku apa? Santai saja, kita kerjasama, iya kan? Kamu kan adik iparku, pastinya Jasmine bahagia karena punya suami yang setia menunggu dia pulang, iya kan?"


Hah!


Raga menepuk bahu Aslan.


"Aku mau mandi dulu, jujur aku masih lelah karena kejadian malam hari. Selamat malam ya!"


Aslan dan Cello keheranan mendapati Raga yang tidak biasa. Mana seorang pria yang arogan dan dingin melekat di tubuhnya? Kini perlahan-lahan mulai terkikis sifat negatifnya itu.


"Ada apa dengan dia?" tanya Aslan.


"Sepertinya ada sesuatu yang sudah membuat dunianya berubah, siapa lagi kalau bukan Starla," ucap Cello. Wajahnya berubah menjadi suram.


"Aslan, sepertinya Nona Jasmine memang ada di sekitar kita tapi apa kamu yakin kalau kepergian dia bukan karena gosip perselingkuhan mu dengan Starla?"


"Kamu ini, sudah tahu kita tidak ada hubungan apapun, tapi aku senang melihat kakak ipar mulai perhatian pada istrinya itu," jawab Aslan.


"Eh, kenapa kamu kok kelihatan sedih? Kamu harusnya bahagia."


Aku mencintai Starla, bego!. Batin Cello ingin sekali memberontak.

__ADS_1


Tapi Cello malah menghindari Aslan. Dia meninggalkan rumah megah itu tanpa berpamitan. Lalu, menyetir mobil khusus sekretaris.


"Kenapa rasa ini begitu dalam? semakin hari semakin tumbuh."


__ADS_2