Long Distance Marriage

Long Distance Marriage
LDM - Luth's


__ADS_3

Sebelumnya, Ibu Rose dan Dilara asyik menikmatinya makanan berdua sambil berbincang membahas tentang ambisi dan materi. Gadis itu menanggapinya dengan santai dan penuh tawa, wajah manisnya benar-benar menggoda dan memanipulasi, dia seolah terlihat baik dan lugu.


"Di mana Starla, ya?"


"Dia masih di toilet, makan saja dulu. Jadi, aku rasa Raga harusnya memberi imbalan pada orang yang berjasa banyak di rumah sakit, bukan sekedar uang tapi ketulusan. Menantu anda yang satu itu tampak sok tahu tapi sebenarnya dia bodoh, makanya Raga malu dan kecewa karena sudah menikahi dia," terang Dilara.


"Kamu menyukai Raga?" tanya Ibu Rose.


Telepon Ibu Rose berbunyi nyaring, dia mendapati panggilan dari seseorang dan langsung bicara.


"Iya Luth, how are you?"


"Send me 100 billion money, if you don't send it then I can kill your daughter, Jasmine. I am waiting you!" sahutnya.


Ibu Rose menutup smartphone miliknya.


"Siapa Luth? Donatur ya?" tanya Dilara.


"Dia pacarku," tukas Ibu Rose.


Wajah Starla menjadi pucat, dia tidak lagi berselera dan menyudahi pertemuannya. Setelah itu dia pergi ke depan restoran dan mencari mobilnya, lalu memanggil Starla lewat telepon agar segera menemuinya. Tapi, panggilan itu ditolak oleh menantunya.


Setelah menunggu beberapa menit, muncul Starla dan Cello menyambanginya.


"Ibu, maaf aku baru saja makan di tempat lain," ucap Starla.


"Ibu Rose kok pucat?" tanya Cello.


"Ibu, aku harap jangan menerima kerjasama lagi dengan Tuan Daffa, aku mohon," pinta Starla.


"Jangan bahas itu, kita temui Raga!" gertaknya.


Tiba di kantor, mereka mendapati Raga sedang duduk di kursi putarnya. Terkejut dengan kedatangan ibunya yang terburu-buru.


"Raga," ujarnya.


"Maaf, Tuan Raga. Saya sedikit telat menjemput Ibu Rose dan saya tidak tahu apa yang sedang terjadi," ucap Cello.


"Raga, kita cari Jasmine saja, lupakan yang lain, ibu mohon," lirihnya sambil memegang tangan Raga.


Starla mendekat lalu memperhatikan mertuanya, belum tahu apa yang sedang terjadi. Starla hanya merasa bersalah karena telah meninggalkannya saat di restoran.


"Ibu barusan berantem sama Dilara, ya? Ayo bilang saja sama aku, Dilara bilang katanya ibu lagi bermasalah sama pacar ibu," ucap Starla, dia keceplosan.

__ADS_1


"Pacar katamu," gertak Ibu Rose.


"Tapi, siapa pacar ibu?" tanya Starla.


"Oh, mungkin Ibu Rose sedang dalam masa kecewa karena Tuan Daffa, jadi anda butuh istirahat," potong Cello.


Sore hari, ketika sudah berada di rumah, Starla membuatkan jamu, dia taruh ke dalam cangkir lalu diantarkan ke kamar mertuanya. Dia mendapati beliau sedang duduk di kursi sambil menghadap jendela yang terbuka.


"Ibu, aku buatkan ini untuk ibu, jamu campuran teh, sereh, jeruk nipis dan sedikit madu biar segar," ucapnya lembut.


Ibu Rose menoleh padanya dan netranya membengkak seperti habis menangis. Lalu, dia kenakan kacamatanya dan langsung mengambil secangkir jamunya.


"Wanginya buat aku teringat pada ibuku dulu, dia rajin membuat jamu juga," ucap Ibu Rose. Kemudian dia meneguk jamunya hingga habis.


Starla duduk di sampingnya dan mencoba membuat suasana tenang. Sikap Ibu Rose memancing penasaran Starla, apa yang sedang terjadi pada mertuanya?


"Apa yang terjadi, coba bilang saja sama aku. Starla kan menantu ibu," pintanya.


"Dulu, waktu pertama kali Raga mengajak aku ke rumah ini dia sempat bilang katanya di rumah harus ada tumbal, bukan macam-macam tapi aku yang harus jadi tumbal yang wajib mencari Jasmine sampai ketemu. Tapi, sayangnya aku terlalu sibuk mengurus anak."


Ibu Rose menoleh padanya. Lalu dia mengusap rambut


Starla. Hatinya tersentuh pada perlakuan menantu yang punya hati yang tulus, dia rela mengurus anak-anak dan mertua yang selalu bermasalah. Terlebih lagi, Ibu Rose mengetahui tindak tanduk Raga kepada Starla.


"Hah, jadi Luth itu pacar ibu? Seperti yang dikatakan oleh--"


Ibu Rose membungkam mulutnya. Dia telah lantang bicara dan membongkar siapa itu Luth. Wajahnya kembali memerah karena malu.


"Astaga! Katakan, kamu tahu dari siapa?"


"Aku, aku, aku tahu dari seseorang," ungkapnya yang terpaksa beralasan palsu di depan mertuanya.


"Apa Dilara yang membongkarnya?" tanya Ibu Rose. Lalu dia menutup wajahnya. "Anak itu, aku kira dia baik, lantas siapa yang harus aku percaya!"


"Aku kan menantumu, anggap saja aku ini anakmu. Aku tahu hati ibu terluka karena Jasmine pergi dari rumah, hati orang tua mana yang tidak sakit ketika anak perempuannya kabur," ucap Starla.


Ibu Rose terisak-isak, tampak ada penyesalan yang terlukis di raut wajahnya. Starla memeluknya dengan erat dan membiarkan mertuanya menangis dalam dekapannya.


Malam harinya, Starla telah ada di meja makan dan mengambil makanan sendiri. Anak-anak menghampiri dengan riang.


"Oma makan malam sendirian?"


"Eh iya, siapa yang mau makan bareng oma. Sini, oma suapi kalian satu-satu ya? Mau?"

__ADS_1


"Tumben?" gumam Allano.


"Baiklah, aku mau disuapin oma!" Flo kegirangan.


Starla dan Raga mengintipnya di balik pintu, tidak biasanya nyonya besar itu mau bersenda gurau dengan cucunya, karena selama ini dia kerap kali mengabaikan waktu berkualitas dengan keluarga dan kini suasana di rumah menjadi cair.


"Bahkan aku anak sulungnya tidak pernah sekalipun dia suapi," keluh Raga.


"Coba aku rekam dia."


"Waktu masih bayi kan pasti disuapi, disusui," sahut Starla.


"Yang jelas aku heran melihat ibuku berlaku mesra dan lembut seperti itu. Tapi ada satu hal yang mau aku tanyakan sama kamu," ucap Raga.


"Apa?"


Raga mengajak Starla ke ruang yang lain. Bahasa tubuh pria itu menunjukkan kecurigaan karena dia memegang erat tangan sang istri.


"Starla," ucapnya sembari menatapnya dalam-dalam.


"Aku mau tanya sesuatu tapi--"


"Tapi apa?"


Raga mencium bibir Starla dengan penuh nafsu dan kini Starla pun mulai menikmatinya. Dia membalas pelukan Rafa dan meraba sedikit pangkal pahanya.


"Star! aku mau tanya sama kamu!"


"Iya, apa?"


Kemudian Raga membawanya ke kamar. Dia menggendong Starla seperti hendak bermesraan. Lalu dia merebahkan tubuhnya dan mengusap wajah wanita itu.


"Ada apa sih! tumben kamu tidak seperti biasanya," protes Starla.


"Ssssttt, anak-anak nanti dengar percakapan kita," bisik Raga. Lalu dia mengulum kembali bibir Starla dan yah begitulah.


Starla merelakan lehernya dikecup pula oleh bibir Raga. Dan dia mulai merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa.


"Raga, benar ini tulus buat aku?"


"Starla, coba katakan yang sejujurnya, siapa sebenarnya pacar ibuku? Dan dari mana kamu tahu soal itu?"


Seketika nafsunya yang membuncah itu sirna. Starla mendorong badan Raga lalu beranjak.

__ADS_1


"Starla, kenapa kamu tidak mau jawab!"


__ADS_2