Long Distance Marriage

Long Distance Marriage
LDM - Dilara's Kiss


__ADS_3

Setelah Raga tiba di rumah sakit, wanita berprofesi sebagai dokter itu langsung menggandeng tangan Raga dan memaksanya untuk mengikuti ke ruang yang lain.


"Dilara, ada apa ini?"


"Aku punya kejutan buat kamu, ikut aku saja!"


Kemudian, Dilara dan Raga belok kiri dan di sanalah wanita itu menatap Raga dengan serius.


"Ada apa ini? jangan mengada-ada, itu tidak sopan," pungkas Raga.


"Raga, sebenarnya aku--"


Dilara melirik ke kaca dan melihat ada Starla sedang berjalan mencari Raga. Di saat itulah Dilara melakukan hal yang tidak sopan, mencium pria beristri dengan paksa, kedua tangannya merangkul badan Raga dan mendekapkan dadanya seolah bermesraan.


Starla terbelalak saat Raga asyik mencium bibir Raga.


"Raga, kamu?"


Dengan cepat, Raga mendorong Renata dan hampir saja terjatuh.


"Jangan macam-macam, Dilara!" bentak Raga.


Dilara berlagak bagai wanita yang teraniaya, rupanya dia pintar playing victim. Wajahnya seolah menunjukkan bahwa dia baru saja dipaksa oleh Raga.


Tapi, Starla tidak berucap apapun. Dia pergi begitu saja.


"Star," panggil Raga.


Dia menghentikan istrinya lalu memeluknya dari belakang. "Itu bukan kemauanku, wanita itu yang paksa aku buat--"


"Kalau dipaksa kenapa kamu tidak nolak dia? Kamu munafik Raga! Maaf aku mungkin mau jemput anak-anak saja," ucap Starla, dia tampak kecewa pada suaminya.


Lalu, wanita itu bergegas meninggalkan Raga. Pikirannya masih terbayang-bayang pemandangan yang menyayat hati, melihat suaminya berciuman dengan wanita yang tak lain adalah rekan kerjanya sendiri, pastinya mereka akan bertemu setiap hari dan kemungkinan hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi.


"Baru kali ini hatiku cemburu buta pada lelaki tua itu? Oh God, apa aku sudah mencintainya? Jantungku ini terasa mau copot saja," batinnya.


"Starla, jangan pergi dulu, aku mohon," pinta Raga.


"Jangan ikut cam--"


Starla berhenti bicara karena wanita cerewet dan menyebalkan sedang berjalan menuju ke arahnya. Aline dan ketiga kawannya berjalan lenggak-lenggok bak peragawati, seperti biasa pakaiannya glamor bak toko emas berjalan.


Mereka berhenti tepat di depan Starla, lalu membuka kacamata hitamnya.


"Aduh, aduh, kenapa kok pucat? Berantem di sini, ya?" sindirnya.

__ADS_1


"Sudah aku bilang kamu itu bukan selera Raga, isi otak dia hanya ada adikku yaitu Alisha. Sampai kapan pun kamu tidak bisa menggantikan sosok dia seorang."


"Aduh, aduh, kasihan juga wanita lugu mau diapain saja sama pria kaya, daripada milih Starla yang satu ini lebih baik dulu Raga dijodohkan sama anak sulung ku," sahut Maureen temannya Aline.


Deg!


Raga bersedekap di hadapan empat orang wanita glamor itu. Dia menatap dengan tajam dan membuat mereka tak bergeming.


"Siapa suruh kalian ke sini? Mau jadi donatur? Kalian punya uang untuk berdonasi? Oke, saya minta kalian menyumbang satu miliar saja untuk pengobatan gratis," pungkas Raga.


Hah?


Empat orang wanita itu terperangah kaget, mulut mereka menganga dan yang lainnya membuang tatapannya dari Raga.


"Jujur saja kalian pasti tidak punya uang banyak, kan?" sindir Starla.


"Lagaknya saja seperti orang kaya tapi hati kalian begitu miskin, tidak ada belas kasih sama orang sakit. Tapi, apa Kak Aline mampir setiap hari karena ingin warisan? Jujur saja!"


Hah? Kok tahu?


Aline terperangah kaget. "Ah, bukan! Aku kan kakaknya Alisha, istri Raga dulu!"


"Oh, bukannya kamu mau operasi plastik wajah dan implan payudara ke Korea?" tanya Maureen temannya.


"Kan kamu juga janji mau ajak aku buat operasi hidung ala Taylor Swift ke Amerika," ungkap Renata, temannya yang satunya lagi.


Wajah Aline menjadi merah karena malu. Dia tidak mampu lagi berkutik di hadapan Raga dan Starla. Lalu, ke--empat wanita itu pergi meninggalkan rumah sakit.


Starla berlalu dari hadapan Raga. Dia menuju keluar kantor. Baru saja mau memanggil supirnya, tiba-tiba saja Dilara menarik lengan kanan Starla.


"Arrghhh!"


"Jangan teriak! Tidak etis!" bentak Dilara.


"Kenapa? Mau apa lagi? Barusan kamu sudah cium suamiku," ucap Starla. "Seorang wanita berpenampilan modis dan berpendidikan tidak pantas berbuat senonoh pada suami orang lain."


"Aku ini dokter pribadi anak-anak Raga!" bentak Dilara. "Kamu tahu? dari awal Raga menjabat di sini dan yang mengatur donasi adalah aku, bukan kamu!"


"Kamu suka sama Raga?" tanya Starla. "Coba tanya kenapa Raga malah memilih aku?"


Netra cokelat Dilara berkaca-kaca, wajahnya sudah merah karena luapan emosi yang menjadi-jadi.


"Kamu tidak pantas ada di sisi Raga!" pungkas Dilara. "Wanita yang hanya sekolah di tempat biasa, sama sekali tidak pernah bersaing dalam akademik juga prestasi, itu berarti otak juga tidak punya, kompetisi dalam bisnis juga nihil, kan?


Bagaimana Raga mau sukses kalau di belakangnya ada wanita pembawa sial seperti ini?"

__ADS_1


Starla hanya menatapnya dengan serius.


"Menurutku sih pantas dia ada di samping Tuan Raga," sahut Cello yang sudah ada di belakang mereka. Lalu dia mendekat sembari tersenyum.


"Kamu arogan juga ya ibu dokter. Aku tidak sangka, harusnya anda ini hormat pada Ibu Presdir yang baik hati dan lucu ini. Oh iya, barusan aku lihat kamu maksa Tuan Raga buat ciuman ya? Ah itu sudah keterlaluan sekali!"


"Iya benar, sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang wanita berpendidikan dan kaya raya, bukannya kamu bisa mencari pria kaya raya yang lebih baik dari suamiku? Dasar wanita genit!" sindir Starla.


Starla memilih untuk menghindar. Tapi, lagi-lagi dia tidak bisa pergi karena sang mertua baru saja tiba dengan pengawalnya. Beliau baru saja turun dari mobil mewahnya dan berpapasan dengan menantu yang masih belum dia anggap itu.


"Ibu?"


"Starla, mau pergi ke mana? Boleh temani saya untuk menemui Raga?"


"Oh tentu saja, jemput anak-anak masih lama," sahutnya.


Baru saja melangkahkan kaki, Dilara menyambut tamu kehormatan itu dengan sikap sopan, tersenyum manis dan menundukkan kepalanya.


"Apa kabar Ibu Rose? Saya senang bertemu dengan anda lagi," sapanya.


"Oh, Dilara? Saya baik-baik saja, bagaimana dengan perkembangan rumah sakit ini? Ada masalah?"


Dilara bergegas menggandeng tangan kanan Ibu Rose lalu matanya mendelik pada Starla agar dia menghindar.


"Biar aku saja yang antar beliau pada Tuan Raga," ucapnya ramah namun dengan tatapan sinis.


Starla tak mau kalah dan terinjak lagi. Di saat seperti itu, suaminya tidak pernah membelanya sedikitpun. Dia lantas mengikuti mertuanya dari belakang.


"Starla," sapa Cello.


"Kalau ada Ibu Rose ke rumah sakit pasti mau mengadakan rapat dengan Tuan Raga. Biasanya ada perdebatan sedikit."


"Kita lihat saja nanti. Oh iya, aku mau kasih kabar, semalam ada surat buat Flo yang dikirim oleh Jasmine, tapi dia pergi lagi, mungkin Jasmine memang ada di sekitar kita," ungkapnya.


"Apa!" Cello terkejut dan bingung.


Sampai di ruang Presdir, para pengawal Ibu Rose membukakan pintunya dan langsung berpapasan dengan Raga, anak sulungnya.


"Raga, ibu sudah lama tidak tahu kabar rumah sakit ini," ucapnya.


"Sejak kapan perhatian pada bisnis ini? Baik rumah sakit maupun perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan bukannya ibu hanya ingin keuntungan dan uang untuk foya-foya?" sindir Raga.


"Ada gangguan, semua ini karena pendamping Tuan Raga tidak becus menangani masalah perusahaan," sindir Dilara. Dia memanasi Ibu Rose dengan menjelekkan Starla.


Bruk!

__ADS_1


Raga kebakaran jenggot, dia tampak geram dan kecewa.


__ADS_2