
Starla tidak terkejut lagi pada perlakuan Dilara yang semena-mena berbuat kasar padanya. Dia melanjutkan tugasnya menjemput anak-anak dan mengajaknya makan siang di restoran makanan ringan.
"Tante, ayo makan!" pinta Allura.
"Tante, jangan bilang ke daddy kalau hari ini aku makan nugget ayam, biasanya daddy marah kalau aku makan sembarangan," ucap Allano.
"Iya makan saja, nanti di rumah kalian harus makan sayur dan buah yang banyak biar sehat," ucap Starla. Namun, dia tidak berselera makan dan hanya menggigit ayamnya sedikit saja.
Tiba di rumah anak-anak begitu riang gembira, tidak biasanya mereka pulang dengan ceria. Sampai Ibu Rose dan Raga pun heran.
"Oma!" sapa Flo. la langsung mencium tangan dan memeluknya.
"Ada apa ini? Kalian rame amat, sih!" protes Raga pada anak-anak.
"Dad, besok ada acara penting, kita mau pentas bulanan di sekolah," ungkap Allura.
"Kami sudah punya acara sendiri tapi daddy kan belum pernah sekalipun menghadiri acara ini."
"Iya, besok aku mau baca dongeng," ungkap Allano.
Raga dan Ibu Rose terdiam dan tak bergeming. Seluruh isi otak mereka hanya kerja dan kerja bukan meluangkan waktu untuk anaknya meski hanya sehari saja. Saat itu, anak-anak pun tidak merespon lebih banyak, mereka langsung ke kamarnya masing-masing.
"Besok kita berusaha ke sekolah mereka," pinta Starla.
"Ada urusan penting di perusahaan yang menangani perdagangan kami, ini penting kalau sampai tidak hadir untuk pertemuan mungkin kita kehilangan kerjasama dengan mereka, pastikan memilih yang penting, acara anak atau perusahaan," tegas Ibu Rose.
"Iya, pasti aku pilih yang lebih penting," sahut Raga.
"Bagus!"
Ketiga anak itu tampak murung. Wajah Allura menjadi merah, Allano meringis dan Flo membuang wajahnya lalu pergi ke kamarnya.
"Apa daddy tidak peduli pada penampilan kami nanti? Belum pernah sekalipun ke sekolah untuk menonton pertunjukkan kami, kapan daddy mau hadir seperti orang tua anak yang lain?" tanya Allura sambil menangis terisak-isak.
"Sejak mommy meninggal, sudah tidak ada lagi yang menonton kami di sekolah," lanjut Allano.
"Daddy sama oma ternyata jahat!"
Sepasang kembar itu berlari menuju kamarnya. Tapi, Raga dan ibunya hanya bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Hati mereka dingin, isi otaknya hanya kerja dan ambisi, sedangkan membahagiakan anak adalah nomor sekian.
Starla bersedekap, tatapannya tampak kecewa pada Raga. Lalu, sang suami menaiki tangga lebih dulu tapi Starla mencegahnya.
"Raga! Ibu! besok kita harus sempat menonton mereka ke sekolah, waktunya jam sepuluh pagi," pungkas Starla.
"Cuma acara anak-anak bukan rapat perusahaan, kalau acara gagal ya mungkin cuma mengalami kerugian kecil, tapi kalau perusahaan hancur pastinya miliaran uang kita habis terkikis, pikiran baik-baik!" tegas Ibu Rose.
__ADS_1
"Sudahlah, aku mau mandi dulu!" ketus Raga.
Sang nyonya besar membuang pandangannya lalu bergegas menuju kamar tanpa menyapa. Jika saja Starla bukan wanita kuat mungkin saja sudah merasa diabaikan dan diinjak oleh penghuni rumah megah itu. Namun, hatinya begitu kuat dan berusaha tegar di depan mereka.
Starla menyusul suaminya ke kamar. Tampak baju jas dan celananya terdampar di ranjang sehingga Starla harus membereskannya. Ponsel milik Raga berbunyi, tertera nama Dilara memanggilnya. Lalu, ia mengangkatnya dan gadis itu langsung bicara.
"Raga, besok janji ya ada rapat pertemuan dengan donatur, awas lho kalau telat! Jam sembilan harus sudah di sini," tegasnya.
Tut!
Ponsel ditutup. Starla hanya menghela napas lalu melemparkan ponsel milik Raga ke atas bantal.
Pintu toilet terbuka. Muncul Raga dalam kondisi masih basah dan hanya memakai handuk saja. Dia langsung terperangah kaget karena Starla sudah berdiri di depannya.
"Mau apa kamu?"
"Besok kita harus ke sekolah anak-anak!"
"Itu ya? Nanti kita bicara sama mereka saja!"
Starla tersulut, dia mendorong Raga hingga jatuh ke atas ranjang. Untung saja handuknya tidak terlepas.
"Jangan macam-macam!"
"Hei, denger ya jangan suka mengatur hidup seorang Raga yang kaya raya ini!"
Starla menitikkan air mata kesedihannya. Raga pun kembali beranjak.
"Ingat, kamu bukan mommy mereka, mendiang istriku Alisha adalah mommy mereka yang berhak mengatur dan memanjakan anak-anak, jadi jangan merasa bahwa kamu itu adalah nyonya besar di sini, kamu hanya istri pajangan," pungkas Raga.
Betapa tersayat-sayat hati Starla ketika Raga berkata demikian. Kemudian wanita itu mendorong Raga hingga terjatuh ke ranjang dan dalam posisi terlentang.
"Ingat, aku cuma menjalankan tugas dan kewajiban sebagai istri kamu! Aku Starla Arandelle! Aku tidak peduli suatu hari kamu menceraikan aku mau besok atau lusa, yang jelas aku simpati pada anak-anak kamu yang mommy-nya adalah Alisha! Terus kamu sebagai orang tua di mana empati kamu untuk mereka! Mereka cuma ingin pentasnya disaksikan oleh kita! Orangtuanya, paham!"
Starla menyeka air matanya. Lalu dia membelakangi Raga.
"Kalau mau nangis ya nangis saja, tidak usah malu-malu dilihat suami," sindir Sean.
"Cepat pake baju!" pinta Starla. Lalu dia keluar kamar.
Huh!
Raga baru bisa bernapas lega, tapi dia baru sadar, perlahan-lahan ia melihat ke area bagian bawahnya.
"Hah! Mana handuknya? Jadi barusan Starla menangis juga sambil liat si anu?" gumamnya. Kemudian Raga berteriak.
__ADS_1
"Tidaaaak!"
Starla terkejut mendengar suara jeritan Raga dari kamar hingga beberapa karyawan rumah pun terperanjat dan panik. Starla geleng-geleng kepala.
"Suamiku itu aneh juga."
Malam hari, Starla mengintip ketiga anak itu sedang berbincang di dalam kamar Flo. Mereka asyik menyantap makanan ringan dan buah-buahan namun terdengarlah percakapan yang membuat siapapun terenyuh.
"Sebenarnya daddy itu ayah kandung kita, bukan?" tanya Allura. "Aneh aku sama dia, bisanya cuma kasih uang saja. Lagian kenapa Tuhan mengambil Mommy Alisha begitu cepat, aku rindu mommy."
"Oma bilang jangan panggil Mommy Alisha karena dia sudah jadi hantu," ucap Allano.
"Aku lagi memikirkan bagaimana besok kita pentas, meski orang tua kita tidak mau hadir ya setidaknya kita menikmati pestanya, ibu guru pasti mengerti kesibukan orang tua kita," sambung Flo bijak.
"Aku lebih sedih, mamaku belum juga pulang padahal dia masih hidup."
Kemudian Starla bergegas mendekati mereka sambil menyapa mereka.
"Malam anak-anak."
Dia duduk di antara ketiga anak itu.
"Besok tante akan berusaha untuk menghadiri pentas kalian, jangan cemas," ucapnya.
"Buat apa? Daddy kan tidak bisa hadir," sahut Allura.
"Setidaknya tante yang hadir buat menghibur kalian," tegas Starla.
Pintu terbuka.
Muncul Raga menyambangi namun anak-anak tidak mau bergeming.
"Malam sayang-sayangku," sapanya.
"Besok kayaknya daddy tidak bisa tapi pasti berusaha buat menghadiri acara kalian."
Anak-anak bengong. Daddy-nya duduk di samping Starla sambil duduk selonjoran, tidak biasanya mereka mendapati suasana seharu itu.
"Daddy," sapa Allura.
"Iya sayang, ada apa?"
"Sore tadi aku dengar daddy teriak, ada apa? Ada kecoak ya? Daddy kan takut sama kecoak," sahut Allura.
"Kalau bukan kecoak pasti ada tikus," sambung Allano.
__ADS_1
Deg!