
Starla sudah berubah jadi Nyonya Axelion. Dia mengganti seluruh pakaiannya dengan yang lebih baik dan berkelas. Rambutnya dikriting gantung, bajunya berupa gaun selutut yang anggun dan feminim, wajahnya dipoles make up natural namun tetap glamor.
Dia dan suaminya duduk di meja makan dan menikmati hidangan khusus pengantin. Hanya mereka berdua yang boleh menghabiskan makanan tersebut.
"Kamu tahu? Kedua anakku kesepian, adikku Jasmine belum juga kembali, ibuku masih misterius keberadaannya, selama kamu di sini boleh saja menikmati apapun yang kamu mau, tapi ingat ini hanya sesaat saja, jangan harap kamu bisa mendapatkan anak dariku," tegas Raga.
"Jadi, niat kamu menikahi aku untuk sementara?"
"Ini hanya percobaan, setelah 6 tahun menduda hidup ini rasanya sepi, galau bahkan rasanya ingin mati. Anak-anak labil, orang tua kurang tahu diri, adik kandung malah pergi. Itulah sebabnya aku menikahi kamu tapi jangan banyak berharap!"
Seketika nafsu makannya lenyap. Tapi, Starla berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum.
"Ini adalah keinginan orang tuaku yang ambisius anaknya dinikahi oleh orang kaya," batin Starla.
"Aku tidak boleh menyerah, harus berusaha sebisa mungkin, hasilnya ya nanti saja."
Raga keheranan, mengapa istrinya belum juga mengambil makanan dan hanya memutar sendok saja.
"Starla, ayo makan, ini malam pertama kita, jangan bikin orang serumah penasaran," pinta Raga.
Wajah Starla berbinar-binar, dia mengira suaminya akan memberikan sesuatu yang membuatnya jadi milik dia seutuhnya.
"Aku siap!" ucapnya dengan keras.
Deg!
Raga tertegun. Dia keheranan melihat istrinya sangat antusias dan wajahnya bersinar cerah. Tentu saja jantungnya berdebar kencang, wajah Raga tiba-tiba berwarna merah jambu, ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1
"Siap apanya! Kamu ingin itu ya?"
"Oh, tidak! Maksudku siap jadi istrimu meski jadi pajangan di rumah. Tapi, anak-anak ke mana, ya? Apa mereka tidak mau mengucapkan selamat pada daddy-nya yang baru saja menikah? Aku jadi canggung, mau dipanggil mommy atau tante, ya?"
"Jangan paksa mereka, yang penting panggil kamu dengan sopan. Tapi, ada satu hal yang ingin saya sampaikan yaitu soal gosip perselingkuhan Aslan, pastinya harus ada tumbal di rumah ini," ucap Raga.
Starla terkejut. Netra hitamnya terbelalak.
"Tumbal apa! Jadi kamu itu penyembah setan!"
"Bukan itu, bodoh! Tapi, kamu harus berkorban untuk mencari Jasmine, kita harus mencari biang keladinya, siapa di balik semua ini," ucap Raga. "Tapi, kita makan dulu saja."
Starla belum mampu menyela pembicaraan suaminya. Meski nafsu makannya hilang, dia terpaksa menaruh makanan lalu menyantapnya pelan-pelan.
Malam pertama itu, Raga mengajaknya ke kamar pribadinya. Dia yang membukakan pintunya dan seketika netra Starla melotot sempurna menyaksikan kemewahan yang luar biasa. Tirai warna abu yang lembut dan berkilau, lampu kristal yang kelap-kelip, lantai marmer yang bersinar, dan ranjang mewah diselimuti selimut bulu yang halus.
"Ya, di sini! Tapi, jangan macam-macam! Kamu tidur di kasur dan saya di kasur lipat di bawah," tukasnya.
Batin Starla terenyuh. Dia mendapati suami yang tidak menyukainya dan hanya bersifat sementara, lantas akan dijadikan apa dirinya selama berumah tangga dengan Raga? Melihat Raga yang terkesan cuek mengundang rasa pesimis untuk menjadi istri yang baik.
"Terima kasih ya, tapi bukannya harus aku yang tidur di bawah, kamu kan tuan rumah, sedangkan aku hanya istri sementara, kamu kan sibuk jadi mesti tidur di tempat yang hangat. Kalau sakit, bagaimana?"
Deg!
Raga teringat mendiang istrinya dulu, apa yang dikatakan oleh Starla hampir sama dengan yang dikatakan almarhumah Alisha dulu.
"Sudahlah, kamu tidur saja!" pintanya.
__ADS_1
Raga mengganti bajunya dengan piyamanya yang berbentuk kimono. Dia pergi ke toilet dahulu lalu menutup pintunya dan mendekam di sana. la termenung sejenak, isi pikirannya menjelajah ke masa lalu yang tak terlupakan.
"Alisha? Apa dia bisa menggantikan kamu di sini? Senyum dan cara bicara Starla mirip denganmu," batinnya.
Usai dari toilet, Raga mengambil kasur lipat dari lemari lalu dia menggelarnya dan mulai berbaring.
"Kita belum menemui anak-anak," ucap Starla.
"Memang kamu mommy-nya!"
"Mereka kan anak-anakku juga, tapi ya sudahlah, selamat tidur, besok tidurnya di kasur saja."
Starla memang beruntung dipersunting oleh pria kaya seperti Raga namun hatinya cukup terluka begitu mengetahui bahwa ini adalah pernikahan sementara, sedangkan isi pikirannya dipenuhi oleh bayangan kedua orang tuanya.
Starla melirik Raga pelan-pelan dan suaminya yang harusnya memecah keperawanannya sudah tidur berselimut kain tebal.
"Selamat tidur ya suamiku, dan selamat tidur buat papa dan mama di sana," ucap Starla sambil berurai air mata.
Pagi hari tiba, Lintang bangun lebih dulu, dia memasak tanpa bantuan ART tapi masih bersikap ceria, kemudian dia menata makanan sedemikian rupa agar terlihat estetik.
Tak berselang lama Allano, Allura, dan Flo menyambangi meja makan, mereka terkejut mendapati berbagai masakan yang sudah tersaji.
"Eh, selamat pagi, team! Kalian pasti semangat sekolah, kan? Ayo, sarapan dulu biar kuat," sambut Starla.
"Tante, apa bisa jadi pengganti mommy kami? Aku rasa belum pantas," tukas Allura.
"Soalnya tante menikah dengan daddy terkesan terburu-buru jadi belum sempat mengambil hati kami, jangan berharap banyak ya, tante."
__ADS_1
"Tante, jujur saja kami belum mau memanggil mommy sama tante," sambung Allano.