Long Distance Marriage

Long Distance Marriage
LDM - Spirit For You


__ADS_3

Raga terbelalak.


Grogi dan malu yang dirinya rasakan!


"Oh iya, biasa ada kecoak terus dia merayap ke kaki daddy," ungkapnya.


Glek!


"Daddy kalian barusan ketemu tikus juga, karena tikusnya nempel jadi daddy teriak ketakutan," sambung Starla.


Raga cemberut. Dia tersenyum kecil di depan anak-anak untuk menutupi kepura-puraan nya.


"Mama Starla benar," kata Raga.


"Tapi, kenapa kalian bertiga di sini? Kan punya kamar masing-masing."


"Apa? Mama? dia kan bukan ibu kita," pungkas Allura.


"Kita di sini mau tidur bertiga sambil membahas pentas buat besok, biar tidak tegang dan barusan kita berlatih bersama di sini," ucap Flo.


"Ini sudah malam, bagaimana kalau kalian tidur saja, sini biar tante bereskan ranjangnya, tapi kalian harus tidur terpisah, ya?" ucap Starla.


Kemudian dia mengedipkan matanya kepada Raga agar mau kerjasama membereskan sprei dan bantal. Dan Raga tidak menolak, malah dia merapikan bantal dan posisi kasur untuk ditiduri anak-anak.


"Tante, mau bacakan dongeng buat kami?" pinta Allano.


"Oh boleh," sahutnya. Starla mengajak Raga untuk duduk dan membantunya untuk membacakan dongeng sebelum tidur. Dia mengambil bukunya dan mulai bercerita.


Raga tertegun melihat semua anak-anak itu tertidur pulas dan apalagi mata mereka yang tampak sembab dan posisi tidurnya sambil memeluk guling. Satu persatu dia cium keningnya.


"Mimpi indah."


Satu jam sudah Starla membacakan dongeng. Lalu dia memeluk Raga di sampingnya.


Dag! Dig! Dug!


Irama jantung Raga berdetak kencang lagi jika istrinya memeluknya dengan erat, dekapan tangan itu memancing hasratnya sampai suhu badannya panas dingin.


"Jangan peluk aku!" tolaknya.


"Maaf, aku...aku...aku mau ke kamar dulu."


Starla pun kembali murung, ia menyusul suaminya ke kamar. Handuk putih bekas Raga masih terdampar di ranjang sampai sprei nya basah pula.

__ADS_1


"Ini petaka tadi sore," gumam Starla.


"Raga terima kasih ya, malam ini anak-anak pasti bahagia karena mereka merasa disemangati oleh kita. Lain kali kita lakukan itu lagi, ya? Biar mereka bahagia dan semangat setiap hari."


"Hmmm." Raga hanya menjawab singkat seperti itu. Lalu mereka mengganti bajunya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Malam ini tidak ada perdebatan atau keluhan apapun, Raga amat kelelahan, dia pun tertidur pulas dengan cepat. Namun suara dengkuran kerasnya sangat mengganggu telinga.


Starla mengusap rambut Raga, kening suaminya berkeringat dan matanya mengeluarkan air meski sedang terlelap. Starla tertegun, dia berpikir bahwa suaminya lelah karena pekerjaan, bisa dibayangkan dari pagi hingga sore waktunya ia habiskan hanya untuk mengurus perusahaan.


"Mungkin itu sebabnya kamu kurang perhatian sama anak-anak, bukan karena kamu itu jahat tapi karena kamu sibuk. Mereka kurang kasih sayang karena ibu mereka sudah tidak ada. Kasihan juga Raga dan anak-anak, kalau begitu aku harus lebih semangat!"


Pagi hari tiba, anak-anak dengan riang menghampiri meja makan. Mereka sarapan lebih dulu dan Bi Mia yang menyajikan makanan. Starla terhenyak menyaksikan anak-anak begitu lahap.


"Makan yang baik dan cukup gizi, ya? Semangat sekolahnya, kalian kan mau pentas," ucap Bi Mia.


"Semangat kami hilang karena orang tua juga tidak mau datang," sahut Allano.


Starla terenyuh, dia sadar akan kesibukannya dengan daddy mereka yang belum tentu bisa menghadiri pentas. Anak-anak pun harus menelan kekecewaan, mereka harus tampil dan hanya disaksikan oleh orang lain.


Raga, Starla, dan Ibu Rose hendak pergi ke perusahaan. Nyonya besar itu masih bersikap dingin dan sama sekali tidak mau menyapa. Lima belas menit kemudian, mereka berhenti di lampu merah karena banyak anak sekolah dan karyawan yang hendak menyebrang jalan.


Raga melihat seorang wanita cantik dengan rambut tergurai berwarna cokelat kemerahan melintas di depannya, dia pun terbelalak.


"Jasmine, itu Jasmine, kan?"


"Sudah pasti dia dekat, karena tempo hari dia mengirim surat buat Flo yang dibentuk pesawat terbang," sambung Starla.


"Apa kamu bilang? Itu tidak mungkin!" tegas Ibu Rose.


"Sudahlah, mungkin aku salah lihat," ucap Raga. "Kenapa ibu selalu tidak suka kalau aku sebut nama Jasmine, padahal dirinya kangen dia juga, kan?"


Raga tersenyum kecut sedangkan Ibu Rose tampak seperti kebingungan. Gelagatnya semakin mengundang penasaran Raga dan Starla. Apa yang terjadi sebenarnya pada diri Ibu Rose? Ibu yang selalu ditafsirkan menyayangi anak-anaknya tapi kali ini terkesan mengeksploitasi sang buah hati.


Tiba di kantor, seluruh karyawan menghormatinya. Mungkin itu adalah kali pertama Starla menginjakkan kaki di gedung perusahaan yang megah.


Baru saja tiba di lantai dua, tiga orang asisten mendatangi mereka sambil menorehkan senyuman hangat.


"Bagaimana tamunya? Mereka ada di mana sekarang?" tanya Ibu Rose.


"Mohon maaf, Tuan Daffa kabarnya mengalami gangguan kesehatan, sekarang beliau ada di rumah sakit internasional dan kami belum mendapatkan kabar lagi," jawabnya.


"Ah, sudah lelah aku datang pagi begini, semua dokumen sudah aku tandai, malah gagal! Apa maunya dia!" ucap Ibu Rose berapi-api.


Raga tersenyum, terkesan mengolok-olok ibunya sendiri. Lalu, Starla menepuk bahu suaminya itu.

__ADS_1


"Jangan ketawa, awas kamu!"


"Sekarang apa rencana kita?" tanya Ibu Rose. "Apa uang milikku hilang dalam sekejap?"


"Tentu tidak, Tuan Daffa pasti datang di hari yang lain untuk rapat," jawab asistennya.


"Oh, aku tahu!" ucap Starla dengan ceria. "Aku yakin semua tidak ada yang kebetulan. Ini kan hari anak-anak pentas di sekolah, bagaimana kalau kita ke sekolah mereka saja, kita nonton acara mereka."


Ibu Rose tampak tak suka, dia hendak pergi.


"Ibu! Ayo kita ke sekolah anak-anak!" ajak Starla.


"Iya, iya, kita ke sekolah anak-anak sekarang juga!" sambung Raga dengan semangat.


"Apa kalian sudah gila!" gertak Ibu Rose.


Dengan cepat mereka menuju mobil, lalu melaju dengan kencang. Ketika di perjalanan ada saja kendala yang mereka dapatkan, kemacetan, banyak berhenti di lampu merah, belum lagi melintas jalan berkelok-kelok yang berpotensi kecelakaan.


Sialan!


Namun, mereka sampai di jam awal pertunjukan anak-anak. Hampir saja gerbang mau ditutup oleh penjaga sekolah.


Tiba di halaman, sudah terdengar kebisingan suara musik yang mendayu-dayu pertanda pentas sedang berlangsung. Starla memegang tangan suaminya kemudian berjalan lebih cepat. Ibu Rose menyusulnya meskipun tidak suka.


Begitu tiba di dalam gedung pertunjukan, seluruh kursi sudah ditempati oleh orang tua murid. Di panggung sana tengah ada pentas bermain teater anak-anak kemudian suara tepuk tangan meriah menggelora.


"Mana Allu, Allan, dan Flo?" gumam Starla.


Tak berselang lama, Aslan pun menghampiri mereka.


"Kalian baru saja datang?"


"Bagaimana anak-anak? Mereka sudah pentas belum?" tanya Raga.


"Sekarang giliran Allura mau menari," jawab Aslan. "Tidak biasanya ibu juga hadir? Tapi aku bahagia, ibu bisa sebagai pengganti Jasmine, Flo pasti senang juga oma-nya bisa hadir."


"Ini acara macam apa? Ini bukan acara yang bikin ibu terhibur," pungkas Ibu Rose. "Sudah bising, di sini sempit, panas, sudah gitu---"


"Eh, itu Allu!" seru Starla.


Ibu Rose pun terbelalak melihat cucunya berdiri di panggung. Allura begitu cantik dan tersenyum lebar.


"Apa benar dia anakku?" gumam Raga.

__ADS_1


__ADS_2