
Allura tersenyum lebar di depan penonton. Dia melirikkan matanya untuk mencari keberadaan orang tuanya. Sorak sorai pun mulai terdengar riuh diiringi tepuk tangan yang meriah. Saat itu, dia melihat ada ibu sambungnya melambaikan tangan padanya dan ayahnya juga ikut bertepuk tangan.
Tante Starla dan Daddy Raga!
Betapa melayangnya hati gadis manis itu melihat orang tuanya hadir. Lalu matanya terbelalak karena melihat oma-nya juga sedang memotretnya.
"Oma?" gumamnya.
Suara musik telah bergema, Allura merasa telah mendapatkan energi baru untuk memberikan yang terbaik bagi orang tuanya.
Sepuluh menit kemudian pentas selesai. Gadis cilik itu tersenyum manis pada mereka, dia berdiri di panggung dalam waktu yang lama sedangkan semua temannya sudah kembali ke belakang. Tapi, gadis itu pun berlalu dan mengucapkan terimakasih pada penonton.
Pentas selanjutnya adalah giliran Allano yang membacakan dongeng. Dia pun melihat kehadiran orang tuanya tapi anak lelaki itu sedikit malu-malu karena dongeng yang dia bacakan adalah tentang hewan, tapi akhirnya dia berusaha untuk membacakannya di depan penonton kemudian diakhiri sebuah puisi yang berisi tentang kerinduan kepada ibunya yang telah tiada.
"Ternyata cucuku hebat, ya?" gumam Ibu Rose.
Acara selanjutnya adalah pentas teater untuk Flo. Dia berperan sebagai sebagai petani yang membawa seikat padi.
"Raga lihat Flo, meskipun mama-nya belum pulang, dia tetap ceria dan layak jadi bintang film," ucap Ibu Rose.
Raga dan Aslan tertegun. Ibunya menitikkan air mata dan menyekanya dengan syal mahalnya. Pemandangan langka sekaligus mengharukan sekali.
"Ibu, senang lihat mereka pentas?" tanya Starla.
"Senang sekali," sahutnya lantang.
Raga tertegun, lalu ia merangkul ibunya dan mengusapnya kedua bahunya.
"Aku baru sadar ternyata menghadiri acara ini sangat menghibur, anak-anak tidak seperti yang aku bayangkan," ucap Raga.
Kemudian, Raga merangkul bahu isterinya yang sedang tepuk tangan. Starla pun terhenyak, detak jantungnya bagai rollercoaster yang naik turun.
"Terima kasih ya untuk hari ini," ucap Raga.
"Acara ini sedikit menghibur kami, lihat ibu, dia senang bukan main."
Selesai acara, semua anak-anak mendatangi orang tuanya masing-masing. Allura, Allano dan Flo awalnya ragu untuk mendekati oma dan ayahnya namun mereka sungguh terharu akan kehadirannya.
__ADS_1
"Kalian hebat anak-anak," ucap Raga.
"Tapi, mamaku tidak ada," lirih Flo, dia langsung memeluk Aslan.
Tiba di rumah, mereka masih bersikap dingin dan tidak mau saling sapa. Mau sampai kapan nyonya besar itu keras kepala sampai tidak mau bicara sehingga keadaan menegangkan.
"Oma terima kasih ya sudah hadir, aku senang sekali," ungkap Flo. "Aku jadi rindu mama."
"Allu juga ketawa terus di belakang panggung, dia bahagia banget karena daddy sama tante bisa datang," ungkap Allano.
"Terima kasih ya daddy, oma, om dan tante."
"Sama-sama, sayang," sahut Starla.
"Acara barusan ternyata bisa menghilangkan stress juga, ya? Ibu kira yang menyembuhkan depresi kita hanya uang dan liburan mewah, ternyata bukan. Lain kali kita hadiri juga acara selanjutnya di sekolah anak-anak."
"Oma, hanya satu kali lagi kami akan pentas, karena tahun ini kan kita mau masuk SMP," ucap Allura.
Batin Ibu Rose melunglai, ada penyesalan dalam dirinya karena tidak suka menghadiri pentas cucunya. Dia berurai air mata lalu memeluk semua cucunya.
"Maafkan oma, tapi bagaimana kalau sekarang kita makan-makan?" ajak Ibu Rose. Lalu ketiga anak itu mengangguk pelan dan bersedia untuk makan dengan oma-nya yang dikenal ketus dan galak.
Dan kini tinggal Raga, Starla, dan Aslan yang berdiskusi.
Aslan melihat kakak iparnya sudah mulai mesra dan hangat. Dia pun menyambut dengan baik dan senang akan perubahan Raga.
"Aku lihat kalian akur," ucap Aslan. "Aku doakan semoga kalian semakin akur ya? Tapi, aku masih merasa bersalah karena belum bisa menemukan Jasmine."
"Ibu sudah terlihat senang hanya karena menonton pentas anak-anak tapi aku yakin dia hanya pura-pura," ucap Raga. "Selanjutnya kita selidiki apa masalah yang menimpa Jasmine dan ibu."
"Raga, kenapa kamu negatif thinking begitu?" protes Starla.
"Harusnya kamu bahagia?"
"Aku juga curiga. Bukan hanya ibu tapi juga Dilara, aku yakin mereka bersekongkol. Dilara itu naksir kamu, kak. Pantas dia benci sama Starla," ucap Aslan.
Setelah itu, mereka bertiga berlalu menuju ruangan makan lalu mengintip aktivitas anak dan Ibu Rose sedang makan dan bercengkrama. Ada rasa haru dan terhenyak, seorang oma yang dulu tidak peduli pada cucunya hari ini beliau amat bahagia dan penuh ceria.
__ADS_1
Ibu Rose tertawa saat Allano memberikan sebuah gambar oma-nya yang lucu, dibarengi tepuk tangan dari Allura dan Flo.
"Apa benar dia ibuku?" gumam Raga. Netra cokelatnya berkaca-kaca, hampir tak percaya akan hal itu. "Ibu yang dulu keras hati sekarang melunak hanya karena hiburan anak-anak."
"Mungkin karena kurang hiburan dari Jasmine dan kamu juga. Ibumu mungkin kesepian, dia tidak tahu harus bicara sama siapa, ujungnya dia mencari perhatian dari orang lain," ucap Starla. Kemudian Starla memeluknya dengan erat sambil mengusap dada Raga.
Allano menoleh padanya dan berteriak. "Wah, lihat mereka berpelukan!"
Ibu Rose menoleh padanya juga dan ikut tersenyum. Sedangkan Starla melepaskan pelukannya dan wajahnya menjadi merah.
"Kalau begini kalian pasti bakal punya adik baru," canda Aslan.
Sore hari tiba, Raga dan Aslan mendapatkan sebuah berita di televisi bahwa Tuan Daffa menyatakan pembatalan kerjasamanya dengan Raga karena kesepakatan keluarganya. Tentu saja kabar tersebut menjadi musibah bagi Ibu Rose karena bisa menyebabkan kerugian besar bagi perusahaannya.
Ibu Rose tergerai lemas dan Flo menemukannya di ruang tamu lalu gadis itu berteriak. "Papa, oma sakit!"
Sontak, Raga dan Starla langsung bertandang ke ruang tamu.
"Ibu!" ucap Raga, dia duduk di samping ibunya.
"Ibu, apa yang sakit? Coba bilang sama aku," pinta Starla.
Ibu Rose tertegun mendapati Raga mengusap dadanya agar mudah bernapas. Sedangkan Starla mengusap punggungnya agar memberikan kesan menenangkan.
"Bagaimana kalau uang kita melayang? Terbayang sudah usaha kita bisa hancur," ungkapnya.
"Masalah baru lagi, tapi kita bisa kerjasama sampai masalah ini beres," ucap Aslan.
"Ibu harus hubungi Dilara, dia pasti bersedia memberi cara bagaimana mengatasi masalah ini terutama pada Tuan Daffa," ucap Ibu Rose. "Jujur saja sekarang hati ibu hancur."
Starla terenyuh, mengapa ibu mertuanya lebih membutuhkan Dilara dibanding dirinya sebagai menantu. Tapi, hatinya langsung luluh ketika tangan Raga menggenggam tangannya juga.
Genggaman erat itu terasa memberinya kekuatan untuk bertahan. Starla pun berurai air mata lalu mengedipkan matanya.
Kemudian, Ibu Rose menelepon Dilara di depan mereka.
"Dilara, besok temui saya di restoran mewah ya? Biasa ada yang perlu kita bahas."
__ADS_1