
Cello mampir terlebih dahulu ke sebuah restoran mewah itu. Setelah menduduki kursi, dia menatap pemandangan gemerlapnya ibukota. Lampu kendaraan bermotor mampu menghiburnya meski hanya memanjakan matanya saja.
"Bagaimana sayang, sudah ada perkembangan?" suara wanita terdengar di sampingnya.
"Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan hati Raga, aku mencintainya," sahut Dilara.
Rupanya kedua orang itu adalah Dilara dan ibunya yang sedang makan malam. Cello bergegas menghindarinya dan memilih untuk menduduki kursi yang lain agar tidak ketahuan. Tapi, dia antusias mendengarkan percakapan kedua wanita itu.
"Mama, aku yakin. Raga menikahi wanita itu hanya untuk sementara. Aku lihat dia tidak perhatian, waktu di rumah sakit kan Starla kena air jus tapi apa Raga menolong dia? Tidak, justru dia malah mendengar kata-kataku," ucap Dilara.
"Bagus, kalau begitu dekati dia terus. Kamu lebih berkelas daripada wanita ****** itu," lanjut mamanya.
"Pasti dong, Raga bukan orang yang mudah jatuh pada orang bodoh," pungkas Dilara.
Cello menghela napas.
"Rupanya kamu serigala betina."
***
Di rumah Raga yang megah, dia baru saja selesai membersihkan dirinya. Tapi ketiga anak masih berlarian di depan kamar sehingga mengganggu telinganya.
"Jangan berisik, anak-anak!"
Glek!
"Handuknya Raga!" teriak Starla.
Oh ****!
Raga melirik ke bawah. "Oh, untung masih pake celana kolor, coba kalau ****** *****!"
"Daddy kenapa?" tanya Allura.
Strala mengedipkan matanya pada Raga. Dia memberi tanda agar Raga lebih memperhatikannya.
"Allu sayang. Ayo tidur, nak!" ucapnya lembut.
"Hah? Kenapa daddy jadi begitu?" tanya Allano.
"Mungkin Daddy Raga sedang bahagia, ya?" lanjut Flo.
Hah!
"Daddy memang sedang bahagia karena, karena, karena..." ucap Raga sambil menggaruk kepalanya.
"..karena mau antar kalian tidur ke kamar."
Starla geleng-geleng kepala. Hanya berkata demikian sudah membuatnya tersenyum merekah.
"Sejak kapan daddy rela mengantarkan kami tidur? Bacakan dongeng saja tidak pernah" Ucap Allano.
"Aku cuma mau Tante Starla saja yang baca dongeng buat aku."
__ADS_1
Allano pergi lebih dulu, disusul oleh Flo. Dan kini tinggal Allura yang berdiri di hadapannya. Gadis kecil itu tidak pernah tersenyum lebar di depan orang tuanya.
Entahlah, isi hatinya belum diketahui!
"Dad, sering-sering ajak Nenek Bintang dan Kakek Ray ke rumah ini ya? Mereka penyayang dan riang, tapi kenapa Oma Rose tidak pernah perhatian sama aku?"
"Allu, sebenarnya Oma Rose itu perhatian sama kamu cuma kan dia sibuk, jadi belum ada waktu buat main," ucap Starla.
"Aku mau tidur dulu," pamitnya sambil berlari menuju kamarnya.
Starla menatap suaminya tapi tidak ada sapaan. Kemudian, Raga mengajak sang istri itu untuk mendatangi ibunya di kamar. Mereka dikejutkan dengan pemandangan yang cukup mengagetkan dan membuat netra terbelalak.
Waw?
Ibu Rose sedang meneguk miras yang mampu membuatnya tidak sadarkan diri. Lalu, botol bekasnya dia lemparkan ke arah lemari hingga pecah berkeping-keping.
Crang!
Bruk!
Tuing!
Suara hantaman botol itu begitu nyaring, bagaimana kalau mengganggu kualitas tidur anak-anak?
Raga dan Starla bergegas bersembunyi di belakang kursi untuk menguntit aktivitas ibu pemabuk berat itu.
"Ssssttt, jangan dulu bicara" bisik Raga.
Kriiiing!
Suara smartphone milik Ibu Rose berdering kencang. Lalu dia menyahutnya.
"Iya, aku di sini. Luth, kapan kamu ke Indonesia? I miss you," ucap Ibu Rose dengan nada mendayu-dayu.
Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Daddy!" teriak Allano.
Raga langsung melepaskan mulutnya dari mulut sang istri. Kemudian dia menghela napas dalam-dalam.
"Kamu ini, tidak sopan!" gertak Starla.
"Sssstttt! Jangan berisik! Lihat Allan, tuh!"
"Dia kan teriak manggil kamu!"
"Kamu mau macam-macam sama suamimu ini?"
"Apa!"
Mereka berdua saling melototi.
"Awas ya! Kamu jangan macam-macam!" gertak Raga.
__ADS_1
"Siapa yang macam-macam?"
Bruk!
Suara botol pecah itu kembali terdengar. Lalu terdengar kata-kata dari Starla. "Jasmine, kamu ada di mana? Pulang nak! Maafkan ibu, di mana kamu!"
Malam menjadi candu, aroma mendayu-dayu laksana angin malam berhembus kencang. Tepat pukul sepuluh malam lewat dua puluh dua menit berdetak. Raga dan Starla sudah berbaring di tempat tidur. Pria itu melirik pada istrinya yang mulai menutup mata. Lalu, Raga merubah posisinya untuk menghadap kanan.
"Star, setelah menikah sama aku apa ada sesuatu yang mengganggu kamu?"
"Ada, aku kira menikah dengan orang kaya itu enak tapi nyatanya salah. Atau mungkin aku belum bahagia saja sama kamu," sahutnya.
"Kamu sudah tahu masalah keluargaku ini, ibuku mabuk karena ingin melupakan masalah sejenak, anak-anakku labil, perusahaan perlu perhatian khusus dariku dan adikku masih belum ditemukan.
Aku harap kamu tetap berada di sampingku, jujur saja Allan dan Allu mulai berubah, mereka tidak sedingin dulu," ucap Raga.
"Bukannya kamu juga dingin?"
Deg!
Raga tersinggung. Dia langsung mengerubungi badannya.
"Eh, kamu mau tidur?" tanya Starla.
"Iyalah, masa mau jalan-jalan! Kamu juga tidur sana!"
Lima belas menit kemudian, Raga tertidur lelap. Suara dengkuran mulai terdengar keras dan mengganggu telinga Starla.
Suara keras itu terdengar lagi. Starla bergegas keluar sendirian dan dia keheranan mengapa lampu kristal tidak dimatikan? Lalu dia memeriksa kondisi ruangan yang baru saja disinggahi oleh mertuanya dan rupanya kosong.
"Suara apa itu?" gumam Starla. "Masa ada hantu di sini, tidak mungkin di rumah mewah ada hantunya. Atau jangan-jangan di kamar anak-anak?"
Starla bergegas pergi memeriksa kamar anak-anak. Dia mendapati kamar Allura sudah terkunci sehingga tidak ada yang perlu dicemaskan. Namun, kamar Allano di sebelahnya masih terbuka. Starla berniat menutupnya namun matanya langsung terbelalak karena anak lelaki itu tidur di bawah ranjang.
"Oh, jadi barusan ada suara itu rupanya dia jatuh?" gumam Starla. Lalu, dia mengembalikan Allano ke tempat tidurnya semula dan menyelimuti tubuh kecil Allano. Setelahnya, istri Raga itu menutup pintu kamarnya pelan-pelan dan hendak kembali ke kamarnya.
Tapi, ada suara mertuanya yang terus meringkih dan menangis. Kamar Ibu Rose berada di tengah ruang lantai dua dan dari sanalah sumber suara itu bergema.
"Luth, aku sadar bahwa anakku tidak pernah menyetujui hubungan ini? Aku mohon jangan tinggalkan aku," ucap Ibu Rose terdengar gamblang.
"Ibu seperti tidak mau ditinggalkan sama orang? Apa Luth itu pacar dia ya? Masa mertuaku yang sudah tua masih suka jadi budak cinta?" gumamnya.
Bruk!
Suara itu terdengar lagi, Starla bergegas kembali ke kamar Allano karena menyangka anak lelaki itu jatuh dari ranjangnya. Namun apa yang dia temukan lagi?
Starla melihat ada cahaya yang menyebar terlihat dari jendela kaca. Bertepatan dengan kamar milik Flo Dengan hati-hati dia melangkah untuk mengintip siapa yang ada di luar sana, hingga mendekati gorden terlihat ada seseorang yang sedang berdiri di luar sambil menyalakan lampu senter.
Orang itu melempar sesuatu ke balkon dan tersangkut di sana.
"Starla!" Suara itu mengangetkannya dari belakang.
Dasar kamu tuh! Jangan lupa dukung terus deh!
__ADS_1