
Keesokan harinya, istri kontrak Raga itu berbesar hati mengantar ibu mertuanya ke restoran mewah. Raga dan Cello juga ikut serta namun tidak mau makan bersama nyonya besar kehormatan.
Ketika Dilara tiba, dia langsung memeluk Ibu Rose dan hanya memberi senyuman tipis pada Starla. Lalu, dia duduk dan menyimpan tas mahalnya di depan Starla.
"Wah, mewahnya," puji Ibu Rose.
"Tas keluaran terbaru, perusahaan hanya membuat 10 buah saja dan salah satunya aku jadi pemilik dari tas ini," ucap Dilara. "Dan ibu Presdir ini kenapa tidak suka membawa barang mahal? Apa Tuan Raga tidak sudi memberi kamu nafkah? Jangan-jangan dia tidak cinta sama kamu."
"Bagiku mau mahal atau tidak yang penting bisa berfungsi dengan baik, lagian aku bukan tipe istri yang suka membuat suami kebingungan untuk menghamburkan uangnya," balas Starla.
Ibu Rose tertawa terbahak-bahak sampai Dilara mengerutkan keningnya.
"Belum, kayaknya belum sudi memberikan hadiah yang bagus dan mahal sama kamu, Starla. Tanda cinta dari suami kadang berupa hadiah itu," ucapnya.
"Jadi, maksud ibu Raga tidak cinta sama aku hanya karena tidak pernah dikasih barang mahal? Ah bukan prioritas utama, sih. Kan yang penting cinta dan sayang dulu," ujar Starla.
"Selama ini Raga tidak pernah nampar pipi aku berarti dia baik."
"Kamu mau dinikahi dia karena uang juga, kan? Money issue di kalangan bawah sedang merebak, makanya kita harus berhati-hati menjaga sikap, benar begitu kan Ibu Rose?" tanya Dilara sambil menyindir Starla dan matanya terus mendelik padanya.
"Aku rasa betul juga," sahut Ibu Rose. "Kamu memang cerdas, Dilara."
Setelah itu, Ibu Rose menceritakan semua yang dialami olehnya kepada Dilara, tapi beliau terkesan mengabaikan Starla dan tidak diajak diskusi sama sekali. Gadis yang berprofesi sebagai dokter itu seolah peduli dengan memberikan ide-ide yang belum tentu berhasil.
"Uang sebesar 100 miliar belum apa-apa untuk anda, pastinya masih ada cadangan, kan? Tenang saja, Ibu Rose pasti bisa menghadapi masalah yang ada, letak kesalahannya ada pada pasangan yang kurang cerdas dan bermoral, aku rasa dia harus segera disingkirkan," pungkas Dilara.
Niat sang nyonya besar ingin menemuinya untuk meminta solusi namun yang ia dapat adalah sindiran dan ucapan yang tidak berkenan di hatinya. Kemudian, Starla minta izin ke toilet lalu dia langsung bercermin sambil mengeluh sampai menjadi bahan tontonan pengunjung toilet.
"Ugh, mau sampai kapan dia sindir aku di depan mertua!" keluh Starla dengan wajah menyeramkan. "Awas kamu Dilara! Lain kali bisa aku injak mukamu! Aku remas pipinya lalu aku banting sampai ja--"
Glek!
Ada beberapa orang wanita menertawakan gelagatnya. Sontak, Starla pun menghentikan aksinya yang sedang naik pitam.
"Hei wanita, kalau sikapmu seperti itu mana ada yang mau deket-deket sama kamu!"
"Eh, aku ini istri dari CEO Axelion Corp! Masih mending aku nikah sama dia, kalian dapat pasangan seperti apa, coba!" lawan Starla.
__ADS_1
Mereka tertawa terbahak-bahak lagi. Lalu menyindirnya. "Cuma mirip saja tapi pedenya tidak ketulungan, halunya turunin, sist! Nanti kamu jatuh! Habis obat jadinya setengah miring, ya?"
Starla berlalu dari hadapan mereka. Batinnya masih geram dan dia tidak mudah melupakan ucapan buruk dari orang lain. Untuk mengatasi rasa geramnya dia memesan makanan pedas level dewa di restoran itu juga. Sengaja dia mencari tempat yang lebih aman untuk meluapkan rasa panasnya di lidah.
Seporsi mie pedas jumbo dan susu murni sudah tersaji di mejanya. Lalu dengan lahap dia menyantapnya seperti wanita yang sedang kesurupan.
"Awas, kau! Raga, Dilara, mertua! Perlakuan kalian lebih pedas daripada mie ini, ingat pembalasan aku nanti!" keluhnya. Lalu dia menyeruput kembali mie pedas level dewa yang bisa membuat lidahnya kepanasan.
Prok!
Prok!
Prok!
Suara tepuk tangan itu terdengar nyaring. Starla mendongak dan terkejut melihat Cello sudah berdiri menontonnya.
"Cello?"
"Lap dulu bibirnya pake tissue, kalau belepotan begini cantiknya hilang," pinta Cello.
"Minum susunya sampai habis," pinta Cello. Dia menaruhnya ke dalam gelas hingga penuh dan dia berikan pada Starla. "Minum, nih!"
Starla langsung meneguknya hingga habis. "Lagi!"
"Hahahaha, kamu lagi marah, ya? Kenapa? Tuan Raga berulah lagi atau Dilara?"
"Semuanya, mereka sudah seperti monster, kurang apanya aku!" ucapnya sambil melirih.
"Aku hanya jadi istri pajangan di rumah, ibu sambung yang jadi pengasuh, menantu yang jadi pembantu. Kenapa juga aku nikah sama dia."
"Kamu cinta pada Tuan Raga?" tanya Cello.
Tiba-tiba Starla terbelalak. Dia kebingungan dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Itu sih, itu sih!"
"Kalau kamu cinta pasti kamu katakan cinta, kalau tidak?"
__ADS_1
"Ya, aku mulai cinta sama dia, benar itu!"
"Kamu gemesin ya Star. Lain kali kalau lagi kesal jangan lampiaskan ke makanan pedas begini, lambungmu bisa bermasalah, kalau sakit bagaimana?"
Starla terenyuh mendapati perhatian dari Cello. Air matanya kembali menetes lalu dia mengambil tissue dan membuang ingusnya tepat di depan Cello.
"Coba suamiku kayak kamu, pasti aku bahagia," ucapnya sambil senggugukan.
Cello terhenyak, dia melirik-lirik kanan kiri karena takut orang lain berspekulasi macam-macam. Kemudian, dia membawa Starla ke tempat yang lebih sepi agar bisa menangis dengan keras. Tiba di lorong yang cukup sepi, Cello terhenti karena melihat ada Dilara dan ibunya sedang menuju ke arahnya.
Dia membuka jasnya lalu menutupi wajahnya dan wajah Starla agar tidak diketahui oleh Dilara.
"Ssssstt, ada Dilara dan ibunya mau lewat," bisik Cello.
Ketika Dilara dan ibunya melintasinya, terdengar percakapan seperti ini.
"Mama barusan lihat kan, Rose itu bodoh, aku bisa memanipulasi dia agar mau menyuruh Raga untuk merayu Tuan Daffa kerjasama lagi dengan begitu aku bisa dapat imbalan juga," ucap Starla. "Wanita tua itu sedang bermasalah juga sama pacarnya."
"Kamu pasti hanya ingin Raga, kan? Mama dukung saja asalkan putri mama ini bahagia. Raga dan Rose memang kelihatan banget tidak peduli sama Starla, apalagi anak-anaknya," lanjut mama-nya.
Kemudian Dilara melirik pada dua orang yang tampak sedang berciuman.
"Anak muda, ada-ada saja! Tidak tahu malu."
Setelah Dilara dan mama-nya meninggalkan ruangan itu, Cello membuka jas yang menutupi wajahnya dan wajah Starla. Wanita itu batuk-batuk lalu bersin.
"Aduh, maaf hidungku kena bubuk cabe," keluhnya.
Kemudian, smartphone miliknya berbunyi nyaring. Starla mendapatkan panggilan dari suaminya tapi dia tidak menerimanya. Dia dan Cello lantas ke depan untuk mencari Ibu Rose dan ternyata nyonya besar itu sudah menunggu di sana.
"Ibu, maaf aku baru saja makan di tempat lain," ucap Starla.
"Ibu Rose kok pucat?" tanya Cello.
"Ibu, aku harap jangan menerima kerjasama lagi dengan Tuan Daffa, aku mohon," pinta Starla.
"Jangan bahas itu, kita temui Raga!" gertaknya.
__ADS_1