
Sore hari, Raga pulang sendirian. Dia disambut oleh Allura dan Allano dengan suara riang dan canda tawanya. Saat itu, Allura hendak memeluk sang daddy, baru saja dia mau melingkarkan kedua tangannya tapi Raga menolaknya.
"Daddy capek, bukannya kalian punya pengasuh baru? dia yang kalian butuhkan, kan?"
"Tapi, aku ingin peluk daddy," lirih Allura.
Kemudian muncul Starla yang masih memakai sarung tangan plastik yang berlumur tepung. Sepertinya dia sedang memasak sesuatu. Netra hitam cantiknya bersinar cerah kala melihat suaminya sudah pulang.
"Nah, dia adalah pengasuh baru kalian, dia yang seharusnya kalian butuhkan," pungkas Raga.
Starla terkejut, mengapa Raga berani berkata semena-mena di depan kedua anaknya. Tapi, ketegaran hati Starla selalu berusaha membuat suasana stabil.
"Eh, kamu sudah pulang. Tapi, barusan aku panggil kamu kok tidak mau jawab? Kenapa? Sibuk, ya? Tapi sekarang aku masak makanan kesukaan orang-orang rumah, biasa Bi Mia yang bikin menu," ucap Starla.
"Daddy jahat!" tukas Allano. "Mau sampai kapan daddy jahat kayak gitu! Aku benci daddy!"
Kemudian, Allano mengajak Allura untuk pergi ke kamarnya. Tak ayal, hal itu membuat suasana menjadi suram. Starla pun geleng-geleng kepala, dia pergi ke dapur dahulu untuk membersihkan tangannya kemudian menyambangi kamarnya.
"Sini, biar aku saja yang buka jasnya," pintanya.
Starla mulai membuka jas Raga dengan lembut dan hati-hati, kendati dia tidak mau membuat suaminya tersinggung.
"Kapan kamu telepon aku? aku tidak terima telepon dari kamu," ungkap Raga.
"Lho, aku panggil kamu Raga tapi ada yang menolak, apa mungkin Cello yang tutup teleponnya?" gumam Starla.
"Itu pasti Dilara," sahut Raga.
"Dilara? Kenapa dia berani menutup telepon suami orang? Sepertinya dia mungkin ada hati dengan kamu Raga, tapi kalau dirasa-rasa gadis itu tidak cocok untuk anak-anak. Aku sudah bisa membaca sedikit demi sedikit tentang psikologi anak-anak, mereka labil karena daddy-nya juga labil," terang Starla.
Raga tertegun, dia tidak mau berbalik arah pada Starla. Sambil membuka kancing bajunya dia teringat kembali pada mendiang istrinya dulu, mommy yang selalu ada untuk anaknya namun kini sosok itu tergantikan dengan kehadiran Starla.
"Tidak mungkin kamu bisa jadi mommy pengganti untuk mereka," gumamnya. Tapi, Raga kesulitan membuka kancing bajunya. "Susah amat, sih! Sialan!"
"Sini biar aku bantu," pinta Starla, dia berusaha membuka kancingnya yang lumayan susah untuk dibuka. Saking susahnya sampai Starla menggigit kancing kemeja suaminya dan dia berhasil mencopotnya tapi kepalanya masuk ke perut Raga.
"Hei, apa-apaan kamu!"
"Raga, rambutku nyangkut ke resleting celanamu!"
Lalu, Raga mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar yang masih terbuka. Dan parahnya di depan sana ada Allano dan Bi Mia yang sedang bengong menyaksikan tingkah konyolnya.
__ADS_1
Sial!
Raga bergegas membuka bajunya dan berhasil membuat Starla terlepas.
"Tuan Raga, makanan sudah siap," ujar Bi Mia. Lalu, dia mengajak Allano ke dapur. "Ayo sini, jangan dilihat itu kerjaan orang dewasa."
Wajah pasangan suami istri itu memerah, mereka tidak sadar karena posisi saat ini sedang saling berpegangan tangan seperti hendak berpelukan.
"Mereka lihat atau tidak?" tanya Starla.
"Mereka lihat semuanya, lain kali tutup pintu kalau masuk kamar!" pungkas Raga.
"Iya, maaf kalau begitu, kita makan sama-sama," ajaknya.
Ketika di meja makan, ketiga anak itu duduk dengan rapi namun tampak tegang. Semua alat makan sudah tersedia dan makanan lezat sudah menyebarkan aromanya.
"Ayo kita makan, jangan lupa berdoa ya, minta kebaikan dan berharap dikabulkan," ucap Starla dengan ceria.
"Aku ingin ketemu Mama Jasmine," ucap Flo. Lalu, dia mengusap wajahnya dan Bi Mia mengambilkan makanan untuknya.
Tak lama kemudian, muncul Aslan yang baru saja datang dengan baju basah berkeringat. Dia memeluk Flo lalu mengusap rambut Allura dan Allano.
"Ayo ikut makan, semua makanan ini aku dan Bi Mia yang masak," ajak Starla.
Raga cukup terganggu dengan adanya ajakan mesra dari Starla kepada Aslan. Raga menatap adik iparnya dengan netra yang tajam dan tidak mau bertegur sapa.
"Om, barusan daddy pelukan sama tante Starla, aku yang lihat sama Bi Mia," ungkap Allano.
"Aduh, itu tidak benar," sangkal Starla.
"Wah bagus itu, itu artinya daddy sudah menikahi wanita yang tepat," ujar Aslan.
Brak!
Raga menepuk meja hingga membungkam mulut mereka agar tidak bersuara. "Sekarang waktunya makan, bukan bercanda!"
"Jangan keras-keras, mereka masih kecil," pinta Starla, dia mengusap pundak Raga dengan lembut.
Di waktu malam hari, Raga tak berhenti memperhatikan aktivitas Starla. Istrinya kini bukan hanya sebagai pengasuh anak tapi juga guru bagi mereka. Hati Raga tertegun dan berkata," apa ada wanita seperti dia di dunia ini yang tulus menyayangi keluarga ini? Aku hanya menikahinya sementara waktu sedangkan perlakuannya sudah buat aku tersentuh."
Kemudian, Aslan menepuk pundak Raga.
__ADS_1
"Sudah sadar akan perbuatan kamu yang menyangka kalau aku ini selingkuhan Starla?"
"Harusnya kamu cari Jasmine," pinta Raga. "Ingat ya, kalau bulan depan Jasmine belum bisa kamu temukan, sudah dipastikan kamu hengkang dari rumah ini."
"Ok siap, pastikan aku juga bawa Flo, aku muak tinggal dengan keluarga yang bedebah seperti ini," balas Aslan berapi-api.
"Kurang ajar!"
Bugh!
Raga menghantam punggung Aslan hingga dia terjatuh. Sontak, anak-anak terdiam dan ketakutan. Starla menyuruh mereka untuk masuk kamar.
Bugh!
Aslan membalas perlakuan Raga, dia menghantam kaki kakak iparnya hingga terjatuh dan hampir saja tersandung ke meja.
"Ingat ya! Jasmine pergi pasti gara-gara keluarga kamu juga!" tukas Aslan. "Starla, hati-hati kamu hidup sama dia, lagaknya seperti malaikat tapi berhati iblis!"
Lantas, Aslan berlalu dari hadapannya. Starla membantu Raga untuk berdiri, dia kesakitan di bagian kaki kanannya namun Starla berusaha untuk menggandengnya sampai masuk kamar.
Raga duduk di ranjangnya dan Starla mengambilkan air hangat untuk mengompres wajah dan kaki suaminya yang sedang gundah gulana itu. Wanita itu meletakan lap di kaki kanan Raga dengan lembut. Seketika Raga melihat Starla sebagai almarhum istrinya dulu.
"Alisha," gumamnya.
"Apa! Alisha?"
"Oh tidak, lanjutkan saja!"
"Raga, kamu itu kurang sabar dan masih labil. Apa yang buat mentalmu labil begini? Pasti ada faktor lain kan? Cerita saja, aku kan istrimu," pinta Starla.
Kemudian, Starla menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Dia duduk kembali di samping Raga.
"Kamu belum tahu masalah keluarga ini, pastinya hidup dengan aku tidaklah mudah. Starla, aku harap kamu bisa tegar dan kuat sampai batas waktu yang ditentukan," ucap Raga.
Bruk!
Terdengar suara riang di depan pintu kamar. Starla sudah menerka-nerka bahwa di luar sana ada yang sedang mengintip.
"Starla, kamu tahu kan kita menikah hanya untuk--"
"Sssssstt, jangan dulu berbicara!"
__ADS_1
"Aku kan suami kamu!"
Lalu, Starla nekad mendorong badan Raga hingga dia terbaring. Starla pun tak sengaja mencium bibir sang suami sementaranya itu. Matanya terbelalak dan jantung mereka berdebar kencang.