
Starla meninggalkan ruangan kerja suaminya, tampak kecewa pada Raga yang terus membela dan memuji Dilara. Kemudian, dia ke tempat yang dipenuhi oleh pasien anak-anak, terdengar suara rintihan dan rengekan keras yang menggema di seluruh ruangan.
"Starla," sapa Cello.
Wanita itu menoleh dan tertegun. "Cello? kamu menyusul ku?"
"Tuan Raga yang menyuruh ku untuk mengawasi kamu, jangan sedih ya! Suamimu hanya perlu waktu untuk menerima apa adanya, memang berat dirasa kalau dinikahi oleh Presdir yang galak, sudah ratusan kali aku juga mengalami hal itu. Kalau bukan karena finansial mungkin sudah mengundurkan diri dari sini," terang Cello.
Lalu, ada sebuah kursi roda menabrak Starla, bajunya tersangkut pada besi kursinya dan dia hampir terseret.
"Hati-hati!" teriak Cello. Dengan cepat dia menangkap Starla dan akhirnya jatuh ke pelukannya. Spontan, netra mereka saling bertatapan seperti sepasang kekasih saja.
Deg!
Starla pun malu, wajahnya merah. "Maaf, merepotkan."
"Tidak apa-apa, tapi apa kamu tidak terganggu dengan suara mereka? Anak-anak di sini butuh pengobatan khusus dan mahal, tidak semua anak lahir dari keluarga kaya. Mereka butuh bantuan juga, itulah kenapa Tuan Raga selalu mencari donatur untuk membantu pengobatan mereka," ungkap Cello.
"Bukannya dia sudah kaya? Kenapa mesti minta bantuan donatur, kalau ditipu bagaimana? Suamiku itu payah juga ternyata," gumam Starla.
Kemudian suara hentakan sepatu di atas lantai terdengar nyaring. Starla menoleh karena dia merasa suara itu menghampirinya. Rupanya sosok wanita bagai toko emas berjalan berhenti di depannya. Dia ditemani oleh tiga orang temannya yang berpenampilan sama.
"Ini Aline, kan?"
"Aduh-aduh, lupa ya? Eh, lihat gadis kampung sudah berubah jadi wanita kaya tapi tetap kampungan, jiwa missqueen melekat di tubuhnya. Kamu sungguh tak berkelas untuk Raga, adik iparku," sindirnya.
"Wajahnya juga kusam, badannya kurus banget, aduh Tuan Raga lihat apanya sih dari kamu? Punya istri malu-maluin saja!" sindir teman Aline.
"Maaf, nyonya-nyonya sekalian, anda seharusnya hormat pada istri Presdir, kalau tidak ada kepentingan sebaiknya anda pergi dari sini!" tegas Cello.
Tidak mau banyak berdebat, Cello mengajak Starla untuk pergi. Tapi, agaknya Aline tidak terima dengan kehadiran Starla di samping Raga yang dulu jadi adik iparnya. Dia bergegas mengambil satu baki minuman dari pengantar makanan.
"Hei wanita ******, tunggu! Rasakan ini!"
Byur!
Aline melemparkan semua minuman itu kepada Starla. Tapi, Cello menghalanginya dengan memeluk Starla agar tidak terkena cairannya.
"Apa! Dia dipeluk lelaki lain!" ujar semua temannya.
Starla terkejut, dia merasa bersalah karena Cello sudah berkorban untuknya. Jas hitamnya basah dan kemejanya terkena cairan jus.
"Ada apa ini!" teriak Raga yang sedang menyambangi mereka. Kemunculannya yang tiba-tiba menghentikan suasana dan membuat Aline menutup mulut, dia tak bergeming lagi.
Raga menyaksikan Cello yang sudah kotor dan basah. Kemudian dia melirik netranya ke arah Aline. Sontak Aline tercekat karena sebuah baki masih dia pegang.
__ADS_1
"Cepat kalian keluar sebelum saya memanggil satpam!" tegasnya.
"Tapi--"
"Keluar!" teriak Raga, suaranya sampai mengundang perhatian banyak orang.
Raga menoleh pada istrinya, dia menyaksikan Starla sedang mengusap wajah Cello dan kemejanya.
"Kamu baik-baik saja, kan?"
"Terima kasih ya?"
Raga menghentikan tangan Starla yang sedang mengusap cairan di kemeja Cello. Sepertinya Raga tidak menyukainya, Starla memang perhatian kepada siapa pun tapi pemandangan itu amat mengganggu.
"Starla, kita pulang! Ada tamu penting di rumah," ucap Raga. Lalu, dia memeluk Starla dengan erat, mencium keningnya dan membelai rambutnya.
"Raga?"
"Kita pulang sekarang dan kamu Cello, jemput anak-anak dulu ke sekolah," pinta Raga. Lalu dia menggandeng Starla dan berlalu dari hadapan Cello.
Hati Starla tersentuh ketika suaminya memeluknya dengan erat dan tulus. Kehangatan itu baru saja dia rasakan. Padahal selama ini mereka gontok-gontokkan, berdebat dan saling membuang wajah.
Cih!
"Raga," panggilnya.
"Ada apa? Kamu kaget karena barusan aku peluk kamu? Jangan baper! Itu cuma pura-pura mesra, biasanya di depan orang lain kita harus terlihat mesra tapi di rumah ya kita masing-masing saja," ungkapnya.
Deg!
Sontak, Starla pun terenyuh di buatnya. Rupanya itu hanya pura-pura mesra, sudah bahagia karena pelukan itu tapi hancur seketika karena kepalsuan.
"Aku dan anak-anak suka rendang buatan kamu, sering-sering masak ya? Dulu ibu mereka juga suka buatkan sayur dan kue cokelat yang disiram cokelat cair," ucap Raga.
"Anak-anak sedang butuh perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya, makanya aku berusaha dekat dengan mereka. Meskipun hanya jadi ibu sambung sementara. Raga, kamu juga harus meluangkan waktu di malam hari meski untuk bermain game, makan malam dengan penuh tawa, saling menyuapi dan bernyanyi. Itu cara mendekatkan kita dengan anak atau bisa saja temani mereka tidur sambil mendongeng," terang Starla.
"Sudah aku bilang kamu bukan ibu mereka, biasa saja," pungkas Raga, dia sedikit tersinggung pada ucapan sang istri kontrak. Tapi hati Raga menyadari bahwa dirinya bukan orangtua sempurna bagi anaknya.
Sampai di rumah, ada sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat parkir di depan dan sejajar dengan pintu masuk. Tak berselang lama, muncul mobil yang menjemput anak-anak dan Allano keluar lebih dulu untuk menyambut kepulangan orangtuanya.
"Daddy, tante!" serunya. Allano menghampiri Starla lebih dulu.
"Om Cello, gendong Allu ya, dia tidur," ucap Flo yang baru saja keluar mobil.
Tanpa permisi, Raga lebih dulu masuk ke dalam rumah sedangkan Starla hendak mengurus anak-anak.
__ADS_1
Raga menyambangi ruang tamu dan dia melihat seorang wanita dewasa sedang berdiri memperhatikan pemandangan taman lewat dinding kaca.
"Ibu, kenapa datang tanpa mengabari kami?" sapa Raga.
Ibunya menoleh, tampak awet muda dan modis. Rambutnya diikat dengan tali yang berantai emas, wajahnya dipoles make-up yang cukup tebal.
"Anak sulung sudah pulang, mana Jasmine?"
"Ibu datang ke rumah hanya untuk menanyakan Jasmine sedangkan ibu sendiri lebih sibuk dengan hedonis dan jalan-jalan ke luar negeri," sahut Raga.
"Oh, mana cucu-cucuku? Kabarnya kamu juga sudah menikah lagi? Mana istrimu?" tanya ibunya yang malah mengalihkan pembicaraan.
Tak berselang lama, Starla muncul sambil menggendong Allura yang tertidur pulas. Dia sedikit kaget karena melihat ibu mertuanya yang cantik tapi tidak menyambutnya.
"Ibu apa kabar? Senang bertemu dengan mu," ucap Starla.
"Oma!" teriak Allano dan Flo. Mereka bergegas memeluk oma-nya yang baru saja datang.
Tapi, Raga memilih untuk pergi dan langsung masuk ke kamarnya di lantai dua. Starla menghela napas mendapati perilaku suaminya yang sensitif. Tapi, dia tidak bisa menolak karena Raga keras kepala.
"Starla, tidurkan Allu di kursi," pinta mertuanya.
"Oh, sudah tahu namaku ternyata," canda Starla.
"Tentu saja, tapi kamu dinikahi Raga pasti karena alasan. Apa Raga menikahimu untuk sementara? Kalau iya bisa dipastikan dua bulan ke depan kamu sudah hengkang dari rumah ini," pungkasnya.
Starla tercekat.
"Aku sudah mencintai Raga."
***
Begitulah kisahnya dua bulan setelah dinikahi oleh seorang Raga Axelion. Hidup Starla Arandelle Axelion banyak perubahan terutama pada nasibnya yang selalu banyak berdebat dengan suami, berkecimpung dengan masalah anak-anak dan meratapi nasib kedua orang tuanya.
Dan kini, setelah menerima nafkah batin dari Raga, perasaan Starla makin berkecamuk, bukan kebahagiaan tapi rasa sakit dan kecewa.
"Aku sudah mencintainya tapi dia egois!"
Lalu, Starla meminta kepada pada reader's untuk vote, like, fav, hadiah, dan jangan lupa komentarnya.
Raga datang dan berteriak pada Starla, membuat seisi rumah kelabakan.
"Hei, jangan lupa follow dan ratingnya!!"
"Raga, sudah diam," sahut Starla.
__ADS_1