Long Distance Marriage

Long Distance Marriage
LDM - Affection


__ADS_3

Starla masih terbayang-bayang ketika Raga memperlakukannya dengan kasar di atas ranjang. Dia hanya ketakutan suami tuanya itu akan melakukan hal yang sama, di hotel dia bisa menjerit sepuasnya, tapi di rumah sudah beda lagi suasananya.


Raga sialan!


"Raga, aku khawatir dengan anak-anak, kita di hotel beberapa hari hanya untuk bulan madu yang menyakitkan. Terima kasih sudah buat aku jera," ucap Starla.


Hingga tiba di rumah, Allano menyambutnya. Dia membawakan sebuah kipas buatannya dan menyerahkannya pada Starla.


"Ini buat tante," ucapnya.


"Terima kasih sayangku! Jadi anak yang baik dan pintar ya?" Sahutnya.


"Ada kejutan untuk tante," ucap Allano lagi.


Kemudian, Allano menarik tangan Starla lalu mengajaknya ke ruang tamu.


"Itu dia!" serunya.


Starla terkejut, orang tuanya bertandang ke rumah, dia langsung memeluk Papa Ray dan Mama Bintang.


"Ma, aku rindu," rengeknya.


"Mama juga, nak!"


"Papa juga kangen, sini papa peluk kamu. Sudah lama anakku ini tidak pulang ke rumah, kami selalu menunggu kehadiran kamu," rengek Papa Ray.


Raga menyaksikan pemandangan yang mengharukan itu, yang mana tidak dia dapatkan dari ibunya, Ibu Rose. Terlahir dari keluarga kaya raya namun minim kasih sayang. Netra cokelatnya berkaca-kaca saat menyaksikan kehangatan mertuanya itu.


"Menantu, apa kabar?" tanya Papa Ray.


"Maaf, kakiku sudah lemah. Aku tidak bisa lari cepat lagi seperti muda dulu."


Raga mendekat lalu memeluk mertuanya dengan erat. Tak ayal, kehangatan Raga kali ini mengundang senyum sang istri.


"Senang kalian datang kemari," ucap Raga.


"Ma, ini Allano," ucap Starla sambil menuntun tangan Allano agar dia lebih dekat dengan neneknya.


"Dia suka menggambar, menari dan juga memasak. Dia rajin bantu aku di dapur."


"Iya, aku suka bantu tante di dapur," sambung Allano.


Hah?

__ADS_1


Mama Bintang terhenyak begitu mendengar ucapan polos dari mulut Allano. Tersirat tatapan yang keheranan dan kaget.


"Kok panggil dia tante? Dia kan sudah jadi mommy mu, harusnya panggil dia mommy," protes beliau.


"Ya ampun, jangan-jangan kalian tidak akur ya?" tanya Papa Ray.


"Bagaimana mau punya keluarga harmonis kalau hidup masing-masing begitu. Starla, apa selama ini kamu belum melakukan tugas sebagai ibu dan istri di rumah ini?"


"Oh, tentu saja Starla sangat gesit menjalankan tugas di sini, aku sebagai suaminya tidak mau terlalu memberikan beban berat padanya," sahut Starla.


"Dia pandai memasak juga hemat. Hanya saja belum bisa bisnis dan memimpin perusahaan."


Glek!


Papa Ray dan Mama Bintang tercekat. Tatapan mereka langsung tertuju pada Starla.


"Oh, dia kan dulu seorang guru kesenian dan pernah kerja kantoran juga, jadi wajar kalau belum bisa berbisnis. Hehehe, ya setidaknya aku mendidik dia jadi anak yang baik dan penyayang," ucap Papa Ray.


Tak berselang lama, muncul Allura dan Flo mendatangi mereka. Saudara kembar Allura langsung memeluk Raga untuk melampiaskan rasa rindunya. Flo pun melakukan hal yang sama namun gadis yang satu ini masih suram dan susah tersenyum.


"Ini Allura, ini Flo, sini nenek peluk," pinta Mama Bintang. Lalu kedua anak itu juga memeluknya dengan erat. "Anak cantik pasti jadi orang sukses di masa depan nanti."


"Tentu saja," sahut Allura dengan riang.


Huh!


"Ibuku tidak pernah sekalipun bersikap hangat pada cucunya," batin Raga.


"Sedih rasanya ketika aku mengalami hal yang sama yaitu kurang kasih sayang dari orang tua."


"Dad, Oma Rose kita ke mana?" tanya Allura. "Harusnya dia juga seperti nenek dan kakek."


"Allu, oma sedang sibuk mengurus perusahaan, nanti juga pulang," ucap Starla.


Raga tertegun, dia berlalu dari hadapan semua orang. Kemudian dia bertandang ke dapur dan menemui Bi Mia yang sedang sibuk mengiris sayuran. Betapa terkejutnya ART itu bertemu Raga yang sudah tiba di rumah.


"Tuan Raga!" serunya.


"Bibi lagi masak dulu buat suguhan tamu. Mereka ramah ya, baik juga sopan. Tahu tidak? Waktu mereka tiba di sini, mertuamu langsung bersalaman terus meluk bibi juga. Pantesan Allan suka sama mereka."


Raga menghela napasnya.


"Mana ibuku?"

__ADS_1


"Nyonya Rose katanya sibuk memimpin perusahaan, tapi bibi jadi makin aneh, beliau suka teleponan dengan lelaki yang bernama Luth. Bibi juga tidak tahu mereka bicara apa soalnya pake bahasa asing. Tapi yang saya dengar nyonya suka bilang 'hallo baby'!"


"Apa!" Raga tercekat.


"Oh, baby itu artinya bayi, kan? Masa nyonya panggil temannya bayi, jadi penasaran," lanjut Bi Mia.


Raga pun mulai curiga pada gelagat ibunya. Semakin tua semakin membuatnya geleng-geleng kepala, ada masalah apa lagi dalam kehidupannya?


"Sebenarnya apa sih yang membuat Tuan Raga tertarik sama Starla, dia kan dulu gadis biasa. Bibi lebih setuju tuan menikah sama Dilara, dia berkelas dan cantik ya meskipun sedikit arogan dan seenaknya sama anak-anak," ungkap Bi Mia.


"Apa! Seenaknya? Kalau dia jahat, saya bisa saja memecat dia sebagai dokter pribadi anak-anak," tegas Raga.


Ups!


Bi Mia menutup mulutnya karena keceplosan. Wajahnya langsung merah karena malu dan Raga pun meninggalkannya.


"Cepat masaknya kami semua mau makan!" teriak Raga.


Raga melewati ruang tamu menuju tangga lantai dua, dia masih menyaksikan anak-anak bermain teka-teki dengan kakek sambungnya diiringi dengan tawa riang. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan kepada buah hatinya. Ada rasa bersalah juga kenapa dirinya begitu dingin dan kurang bertanggung jawab pada mereka.


"Luth, siapa itu Luth?" Nama itulah yang melekat di hatinya kini.


Starla melihat Raga yang sedang dalam mood tidak baik. Dia sengaja membiarkan suaminya dan lebih memilih menemani orang tuanya. Setalah dua jam bermain teka-teki, Papa Ray bermain tebak-tebakan yang mengundang gelak tawa anak-anak.


"Starla, sini mama mau ada perlu," ucap Mama Bintang. Seraya mengajaknya ke halaman rumah.


"Kenapa ma? Apa ada masalah sama kesehatan papa?"


Mama Bintang terlihat cemas, dia tidak langsung menjawab, matanya berkaca-kaca dan dia mengalihkan pandangannya ke depan seolah keberatan untuk bicara.


"Bilang saja, Ma. Aku pasti bantu," ucap Starla.


"Papa kamu itu terkena gangguan syaraf, mungkin lama-lama kakinya bisa saja lumpuh atau mengalami gangguan ingatan. Jadi jangan aneh kalau suatu hari dia lupa sama kamu."


"Apa? Kenapa bisa begitu ma? Tapi aku tidak bisa bantu mama buat merawat papa, terus terang aku sedih kenapa harus menikah lebih cepat dengan orang lain. Kenapa aku tidak jadi perawan tua saja biar bisa menemani kalian berdua," ucap Starla sambil terisak-isak.


"Eh sudah jangan nangis, kamu wanita kuat pasti bisa, mama mendidik kamu biar jadi wanita cerdas dan tegar. Tapi, mama mau tanya, apa kamu bahagia sama Raga? barusan anak-anak panggil kamu tante, kenapa tidak panggil mommy atau mama? Atau jangan-jangan--"


"Tidak, aku bahagia sama dia, sumpah!" Starla mengatakan sambil menangis.


Mama Bintang memeluknya dengan erat untuk menguatkan hati putrinya. Mungkin hanya orang tua yang kini menenangkan hati wanita itu di kala sedih dan susah.


Lalu, tiba-tiba saja terdengar suara hentakan kaki menghampiri mereka.

__ADS_1


"Kalian sedang apa di sini?"


__ADS_2