Long Distance Relationship: Worth Every Mile

Long Distance Relationship: Worth Every Mile
Chapter 11: First Good Bye


__ADS_3

Tidak terasa sudah dua minggu lamanya Hugo berada di Indonesia. Waktu berjalanan begitu cepat. Kami banyak menghabiskan waktu di Bali. Sedih rasanya untuk berpisah dengannya malam ini. I will miss him batinku sambil melihatnya mengemasi barang-barang.


Aku membuka hpku dan melihat-lihat fotonya yang aku ambil. I’m not ready to go back to the routine again sadly but yea he should go back anyway.



Hugo menbalikkan badan dan menatapku sedih. Kemudian duduk di kasur di sebelahku.


“ I will miss you...” kata Hugo sambil memegang daguku untuk menatapnya.


“ Me too...” kataku sambil menangis sedikit.

__ADS_1


Kami berpelukan erat.. seperti tidak mau berpisah lagi. Aku tahu dia memberikannku promise ring artinya dia akan kembali tapi aku rasanya menolak untuk kembali ke rutinitas mengobrol melalui hp masing-masing. Berat rasanya.


Sisa hari itu kami hanya berjalan-jalan di sekitar hotel. Selama menunggu di bandara kami hanya bergandengan atau aku bersandar di pundaknya. Rasanya aku tidak bisa melepaskannya... I will miss his smile and his how good his perfume smell.


Tepat ukul 9 malam kami berpisah di bandara. Hugo terbang ke Australia dan aku kembali ke Yogyakarta. Penerbangan pulang ke Yogyakarta rasanya sangat singkat, benar kata orang jalan pulang setelah liburan yang menyenangkan akan terasa sangat cepat.


Selama di pesawat aku hanya melamun. Aku masih ingat bagaimana expresinya ketika meninggalkanku, matanya memerah dan berkata-kaca. Aku memeluknya erat. Dia menciumku sebelum kami berpisah. I miss him already. Aku hanya membuka galeri- galeri foto dan melihat foto-foto konyol kami. Aku masih ingin bersamanya.



Saat ini aku telah menginjak kelas 3 SMA dan aku sangat sibuk mempersiapkan ujianku. Perjalanan di Bali beberapa bulan lalu sangat menyenangkan.

__ADS_1


*Ding*


“How are you baby? How’s your preparation for exam? My day at uni was great.... I miss you”, kata Hugo.


Akupun membalas pesan Hugo itu, “ My day was okay ish kinda tiring. I will manage... I miss you more....” balasku.


Hari-hari kami diisi dengan candaan melalui social media. Aku tahu Hugo suka mengambil gambar pemandangan melalui kameranya, makannya aku menyuruhnya menguplodnya ke Instagram. Tapi dia tidak mau, kata Hugo Instagram tidak terlalu berguna untuknya lagi pula dia tidak mengerti dan tidak mau memiliki banyak sosial media.


Di samping itu selama kami berpacaran hampir setahun ini sudah banyak perubahan yang terjadi padanya, well positive way of course. Seperti dia mengurangi minum alkohol dan kembali berkuliah di jurusan ekonomi. Kami tentu bertengkar kadang-kadang dengan masalah sepele, Ldr is hard okay?! Well sometimes it’s much easier to talk in person than on text or call.. cause sometimes the connection sucks......... Pernah aku sampai harus naik ke genteng untuk telpon dia.


Hugo is a clingy boyfriend, he would call me 20 times and text me everywhere if I don’t reply or give him an update in long time. Jadi harus kasih kabar kalau engga dia bisa ngambek. Kami juga saling terbuka dengan satu sama lain. Dia tau teman-teman dekatku baik laki-laki maupun perempuan, sama juga denganku aku tahu siapa teman-temannya.

__ADS_1


I miss him...


“Distance means so little when someone means so much.”


__ADS_2