Long Distance Relationship: Worth Every Mile

Long Distance Relationship: Worth Every Mile
Chapter 23: Peachy Keen


__ADS_3

Dear lovely readers,


Dikarenakan ada beberapa saran dan masukan tentang dialog bahasa inggris tidak akan saya hilangkan atau revisi pada chapter-chapter sebelumnya.


Namun, mulai pada Chapter yang ke 23 ini, saya akan campur dengan dialog bahasa Indonesia. Harap pengertiannya ya... hehehe. Mohon maaf bila ada kesalahan 🙏🙏🙏


Terima kasih atas kritik dan sarannya dan selamat membaca 🦋🦋🦋


\\\\*\\\\*\\\\*


Eric masih duduk di sofa kamar hotelnya, sama seperti satu jam yang lalu, memandangi handphone Sarah, terlihat foto profil handphone itu dengan wallpaper foto Sarah yang tersenyum lebar bersama Hugo yang mencium keningnya di depan cermin.


“Girl... you deserve so much better!” kata Hugo sambil berjalan ke arah safety box dan menyimpan handphone Sarah di dalamnya. Setelah itu, ia pergi membersihkan diri di kamar mandi. Guyuran air hangat dari shower membasahi tubuhnya.


Eric sadar mungkin besok Hugo akan datang kalau cowok itu nekat. Malam ini ia harus memberikan malam yang baik untuk gadis itu. Selesai mandi Eric berjalan ke arah telepon, menelepon salah satu butik mahal yang ada di Grand Indonesia, untuk mengirim satu set pakaian dan beberapa dalaman untuk Sarah. Eric tidak tau pasti ukuran Sarah jadi ia membeli beberapa ukuran.


Eric tahu, ia bisa memberikan kebahagian yang lebih dan pengalaman yang lebih karena uang yang ia miliki, namun Sarah berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia kencani sebelumnya. Like seriously different!


Sarah dari keluarga yang mampu, namun ia selalu low profile, where have you been girl batin Eric.


Eric kemudian berjalan ke arah telepon, menelepon kamar gadis itu.


“Hello?”


“Hey girl, tolong pakai pakaian yang barusan diantar ya... hehehe I hope you like it” kata Eric.


“ Kita mau ke mana???”


“Hahahah it’s a secret. Pakai saja, ohh one more thing, aku ngga tau ukuran dalaman kamu, jadi aku beli beberapa hahaha”


“ Weirdo! Bye!” jawab Sarah sambil menutup teleponnya.


Malam ini Eric akan mengajak ke Skye Bar, itu tempat favorite Sarah, bar itu terletak di salah satu gedung tinggi di Jakarta, buka mulai pukul tujuh malam, ada lampu-lampu remang dan kolam renang ditengah-tengah bar itu. Malam itu ia memakai pakaian kasual kemeja berwarna abu-abu muda dan celana jeans santai dengan dua lubang di lutunya.


Eric mengetuk pintu kamar Sarah, ia tahu Sarah senang berdandan kasual jadi ia memilihkan baju yang sesuai cewek ini mau. Sarah terlihat sangat cantik dengan rok pendek hitam dan kemeja dengan V line yang cukup rendah, sedikit memperlihatkan dadanya. Of course her perfume....smells so damn good!

__ADS_1


“So are you ready?!”


“Yeah... let’s go!” kata Sarah sambil berjalan meninggalkanku menuju arah lift.


Dadi lantai kami menuju lantai dasar ke arah lobby memerlukan waktu beberapa menit.


“Apa kamu pikir Hugo berselingkuh dengan Clara? Tadi aku sempat turun ke lobby dan menggunakan komputer gratis di sana. Cewek itu mengirimkan foto-fotonya bersama Hugo melalui e-mail dan direct message Instagram.” kata Sarah dengan suara bergetar dan mata yang sedikit berkaca-kaca.


“Should I give up on him?”lanjutnya lagi.


Eric terpaku memandang Sarah, tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya. Ia kaget tidak menyangka Clara akan setega itu. Well, walau Eric tahu cepat atau lambat Sarah pasti mengetahui perselingkuhan ini entah dari mulut Hugo sendiri atau dari cewek gila itu.


“I’m sorry...” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Eric.


*Ding* kemudian pintu lift terbuka dan mereka menuju mobil Eric yang sudah ada di lobby. Thanks to valet parking. Mereka berjalan berdua menuju mobil sepanjang jalan Sarah hanya diam, begitu pula dengan Eric.


Sarah sedih dan marah, apa gunanya selama ini mempercayai Hugo. Membantunya dari kecanduan alkohol dan mendorongnya kembali ke dunia perkuliahan. Beberapa bulan lalu Sarah sempat meminta putus, ia sudah tidak tahan dengan sifat Hugo yang lumayan posesif. Sarah benar-benar sibuk dengan tugas kuliah yang banyak dan tentu beban yang sangat berbeda dari kampus-kampus lain. Ia masih ingat saat Hugo memohon agar tidak meninggalkan dirinya.


Tidak terasa Sarah menangis tanpa bersuara sambil memandangi arah jalanan Jakarta yang penuh dengan gedung tinggi dan lampu-lampu gedung pencakar langit. Ia mengusap air matanya dengan tissue dari dalam tasnya.


“Hugo berubah...”batin Sarah.


Beberapa menit kemudian mereka berdua telah sampai di Skye Bar, Sarah berusaha untuk tetap tersenyum menikmati malam itu bersama Eric.


Sesampainya di rooftop, Sarah sedikit terkejut karena sudah ada meja yang disiapkan khusus untuk mereka. Reservasi bar ini cukup sulit karena selalu ramai.


“I’m sorry, I hope I can make you happy tonight”kata Eric sambil mengelus punggung tangan Sarah.


“ Yeah.. hahah give me some shots!” teriak Sarah sambil tertawa.


Mereka lalu menyantap makan malam tersebut dengan lahap, walaupun ada sedikit perasaan canggung dari dalam hati Sarah.


“Hey Buddy... let’s move to a club near here”


“Hah?! Kamu tidak suka berada di sini?”

__ADS_1


“Bukan begitu I just need some drinks and crowded place with good DJ.”kata Sarah sambil menarik tangan Eric.


Ada sebuah club bernama 101 club, hanya di gedung sebelah dari Skye Bar. Sarah minum banyak malam itu, Eric berusaha menghentikannya pada shots yang entah keberapa.


“Please...aku butuh Ini..” rengek Sarah yang sudah mabuk.


“Tidak, ayo pulang...”kata Eric sambil beranjak dari kursinya.


“Two more shots ? Okay....”


“Nah... let’s go back” kata Eric sambil menggandeng tangan Sarah.


Mereka lalu berjalan ke arah lift. Gedung itu sangat tinggi, club terletak di lantai dua puluh dua, sisanya perkantoran. Club ini buka saat kantor sudah tutup yaitu pukul sepuluh malam. Sarah berjalan setengah terseret, ia hanya berpegangan pada tangan Eric dan bersandar di bahunya.


“You are so late...” gumam Sarah.


“Apa?”


“Kamu seharusnya datang lebih dulu sebelum aku dan Hugo melangkah sangat jauh” kata Sarah lagi.


Eric lalu memegang leher Sarah pelan dan mencium bibirnya lembut. Sarah membalas ciuman itu dan entah kenapa mendorong Eric pelan setelah itu.


Suasana menjadi hening sampai pintu lift terbuka. Kemudian Sarah menarik Eric ke salah satu sudut lobby berjalan cepat ke arah disable toilet, yang ukurannya lebih besar dari toilet biasa.


Eric kemudian menggunci pintu, memperhatikan Sarah sekilas dan mendorongnya ke arah tembok sambil menciumnya dengan ganas. Tangannya sudah masuk kedalam rok mini Sarah dan menyentuh pada bagian sensitive wanita itu. Hanya nafas berat yang terdengar menandakan sebentar lagi ia akan mencapai puncaknya.


Setelah mencapai klimaks Sarah terkulai lemas, kakinya sedikit bergetar. Eric membantunya berdiri mendorongnya ke arah washtafel, mengeluarkan ****** dari dompetnya. Memasang condom itu dengan cepat dan mulai memompa Sarah dari belakang.


“Mmmm.....” kata Sarah dengan suara nafas yang berat.


Sekitar dua puluh menit mereka melakukan itu, kemudian setelah selesai mereka langsung beberes dan pulang ke hotel, sepanjang perjalanan mereka hanya diam tidak percaya dengan kejadian barusan.


Sesampainya di hotel Sarah langsung berjalan meninggalkan Eric menuju kamarnya. Ia merasa bersalah.


Sarah langsung merebahkan diri di atas kasur dan menangis pelan.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan?! Dasar bodoh! Harusnya aku tidak minum tadi!” isaknya.


__ADS_2