
Pagi itu Eric sudah naik taxi menuju bandara, ia mengambil penerbangan yang lumayan pagi pukul 8 tepat. Sekarang masih jam enam tiga puluh. Ia berangkat pagi-pagi karena takut macet saat menuju Bandara Soekarno Hatta.
*Ding*
“Hey there I will be there around 9 okay... can’t wait to see you. See ya soon Eric!” kata Sarah dalam pesan itu.
“Heheh.. yeahh!!! Me too.. why you woke up so early. Go back to sleep.” balas Eric.
Eric tersenyum-senyum sendiri. Membuat supir taxi itu menatapnya dari spion dari dalam mobil. Supir taxinya lumayan bisa bahasa inggris ternyata.
“Heheh.. Mr. Pagi-pagi udah ketawa sendiri. Mau terbang ke mana Mr?” tanya supir taxi itu ramah.
“Mau ke Yogya Pak. Hehehe”
“Wah... mau liburan apa ketemu pacar nih Mr?” goda supir taxi itu sambil terkekeh.
“Mau liburan Pak dan bertemu someone special” jawab Eric sambil tersenyum.
Sepanjang jalan supir taxi itu bercakap-cakap dengan Eric. Ia ternyata mempunyai saudara di Yogya dan menceritakan apa saja yang harus dilakukan di Yogya dan makanan atau minuman apa yang harus dicoba.
Supir itu bilang ada kopi joss yaitu kopi ada arang membara dalam gelasnya, dari cara supir itu menceritakan sepertinya rasanya mantap.
Tapi lebih penting dari semua itu, ia bisa lebih dekat dengan Sarah. Mengenal gadis itu lebih baik lagi.
Tidak terasa perjalan lebih satu jam terasa singkat. Ternyata perjalanan pagi itu sangat lancar tidak macet sama sekali.
Eric kemudian memberikan ongkos taxi pada supir itu dan langsung melangkah masuk ke bandara.
“ Yogya here I come” batinnnya sambil melangkah masuk.
\*\*\*
Perjalanan ke Yogya dengan pesawat itu sangat menyenangkan bagi Eric, pesawat tidak terlalu penuh. Walaupun tadi pesawat sempat delay kurang lebih dua puluh menit. Ia sudah mengabari Sarah mungkin ia sedikit akan telat.
Penerbangan dari Jakarta ke Yogya lumayan singkat hanya empat pulih lima menit kurang lebihnya, cuma masalahnya pesawat ini lama mendarat karena landasan pacu di Bandara Adisucipto penuh. Bandara ini jauh lebih kecil dari Bandara Soekarno Hatta, Sarah tadi sudah memberitahunya akan hal ini kalau tidak mungkin ia sudah sangat kesal karena lamanya mendarat dan berputar-putar di atas menunggu landing sekitar lima belas menit.
Setelah pesawat mendarat dengan sempurna Eric langsung mengemasi barangnya memeriksa kalau-kalau ada yang tertinggal. Kemudian, tidak lama pintu pesawat terbuka yang artinya ia sudah boleh turun, untungnya ia duduk di kelas bisnis ia bisa turun terlebih dahulu.
__ADS_1
Eric kemudian mengambil bagasi dan melangkah keluar. Ia melihat Sarah sudah menunggunya dengan kertas bertuliskan namanya. Eric sangat senang dan berjalan cepat ke arahnya dan otomatis ia memeluk gadis itu. Well, aksinya itu lumayan menarik perhatian orang-orang disekitar.
“Heheh.. Eric let me go. People are watching...” bisik Sarah pelan.
“Oh.. yeah.. sorry” kata Eric sambil melepaskan pelukannya kepada gadis itu.
Mereka kemudian menuju mobil Sarah yang ternyata sudah ada seorang supir di dalamnya. Supir itu terlihat ramah, Sarah bilang namanya Pak Joko.
Mereka kemudian menuju rumah Sarah, sepanjang perjalanan Eric sangat menikmati pemandangan jalajan Yogya yang sangat berbeda dengan Jakarta.
“Mmm.. Sarah. Nanti malam mau tidak kalau kamu menemani aku mencoba kopi joss”
“Hah?! Hahaha. Beneran? Tahu dari mana kamu? Bukannya kamu kurang suka kaki lima? Mr. Super Clean” ledek Sarah.
“Yeaah... tadi supir taxi di Jakarta yang bilang. Please...?”
“Sure.. okay whatever you want Mr.” jawab Sarah sambil tertawa lebar.
\*\*\*
Rumah Sarah sangat besar, ia tidur di kamar adik Sarah. Kenapa tidak di kamar tamu? Well, karena adik Sarah lebih suka kamar lamanya dari pada kamar barunya di rumah itu. Bangunan rumahnya terdiri dari bangunan lama dan baru yang disatukan dengan jembatan kecil diantara dua rumah itu.
“But guess what Hugo, I will spend more time with her!” batin Eric.
\*\*\*
Sore hingga malam itu, mereka berkeliling Yogya. Eric sangat suka Jalan Malioboro. Mereka berjalan-jalan sepanjang jalan itu, sampai ia melihat sebuah benteng peninggalan Belanda.
Namanya Museum Benteng Vredeburg, besok ia dan Sarah akan ke sana. Eric selalu tertarik dengan hal-hal yang berbau sejarah. Mereka juga foto-foto sepanjang Jalan Malioboro. Eric juga kagum dengan istana negara dan bangunan-bangunan di sepanjang jalan itu yang masih memiliki asitektur kolonial, tapi lebih dari itu ia sangat senang menghabiskan waktu dengan Sarah.
Malam itu Eric keturutan mencoba kopi joss, rasanya memang mantap, supir taxi tadi tidak bohong rupanya. Mereka hanya berjalan berdua, Eric yang menyetir malam itu.
“Wanna go to club or bar?” celetuk Sarah pelan.
“Yeah.... sure.” kata Eric ragu.
“Kenapa mau ke sana?” tanya Eric.
__ADS_1
“I just feel like it. Kalau kamu tidak mau ya ngga papa.” jawab Sarah lagi.
“Nah, i want to. Tunjukin dong jalannya” jawab Eric sambil tersenyum.
\*\*\*
Sekitar empat puluh menit kemudian mereka tiba di salah satu club. Club terlihat lumayan ramai ternyata malam itu ada DJ tamu dari Australia.
Mereka berdua sangat menikmati suasana, tidak banyak minum alkohol hanya dua botol sedang masing-masing, sisanya pesan coca-cola atau jus.
Eric memandangi Sarah yang sangat menikmati musik, lagu, dan suasana malam itu. Sesuai dengan lagu yang dimainkan DJ itu. Saat ini sebesar apapun ketertarikan Eric padanya, ia hanya sebatas teman.
I found out the way to your heart
Then found myself completely lost
Whatever, it doesn't matter, we fine
I don't need to label how we good time
And we don't need to tell nobody, we ride
'Cause **** it, we're young, it's just fun
It started off just a touch
Innocent like friends, like friends
Yeah, wake up here tired, horizontal
We just friends, just friends
Maybe one drink, nothing too far gone (too far)
Is it the stars saying fall in love? No
We don't say much as we lay here
__ADS_1
We just friends, just friends 🎶
Lagu “Just Friends” dari Hayden James dan Boy Matthew ini sukses membuat Eric bersikap sedikit pesimis akan mendapatkan gadis ini lebih dari teman, karena sebesar apapun usahanya saat ini “he is just her friend”.