Long Distance Relationship: Worth Every Mile

Long Distance Relationship: Worth Every Mile
Chapter 24: Go Wild, For a While


__ADS_3

*Kring*


*Kring*


*Kring*


Ada bunyi telepon berdering di kamar Sarah. Ini masih pukul delapan pagi, siapa yang pagi-pagi menelepon kamarnya.


Sarah kemudian mengangkat telepon itu dengan suara mengantuk dan kepala yang berat karena semalam terlalu banyak minum.


“Selamat pagi Miss Sarah.”


“ Pagi mbak ada apa ya?” jawab Sarah.


Ternyata receptionist di bawah yang menelepon.


“Maaf ada tamu yang bernama Hugo Van Rooyen, katanya sudah membuat janji dengan anda.”


“Oh, iyaa mba. Benar. Maaf apa boleh tolong beliau di antar ke kamar saya saja.”


“Baik Miss Sarah. Terima kasih. Selamat pagi.”


“Iya thank you. Selamat pagi.” jawab Sarah sambil mematikan telepon.


Ia buru-buru bangun dari tempat tidur, walau kepalanya masing pusing. Berusaha mencuci muka dan meminum beberapa gelas air dingin serta satu butir pil sakit kepala. Ia kemudian menggosok gigi dan bebenah pakaian sedikit. Menyemprotkan sedikit parfum juga.


“I smells like f***ing alcohol” batinnya sambil menggosok giginya kembali.


Tidak lama, ada suara bel, sepertinya petugas hotel telah mengantarkan Hugo ke kamarnya.


Sarah buru-buru membukakan pintu dan benar saja itu adalah Hugo dan salah satu petugas hotel. Setelah berbasa-basi sebentar dengan mereka berdua, Sarah mempersilakan Hugo masuk.


Sarah berbalik berjalanan duluan masuk ke kamarnya. Ia tahu hari ini bukan hari yang baik, ia agak tidak sanggup mendengar apa yang Hugo akan katakan.


“I’m sorry...”kata Hugo pelan.


“Untuk apa?” kata Sarah dengan suara yang masih bergetar dan membelakangi Hugo.


“I’m sorry for everything. Aku salah harusnya...harusnya aku tidak berselingkuh dengan Clara.” kata Hugo dengan nada menyesal.


“ I don’t know what to say Hugo!” kata Sarah sambil berbalik matanya yang berkaca-kaca menatap ke arah Hugo.


“Kenapa?” tanya Sarah pelan.


“Because I needed you around me!” teriak Hugo.


Sarah berbalik dan menampar Hugo keras sambil sedikit terisak.

__ADS_1


“How dare you! Aku berusaha keras supaya bisa pindah ke Brisbane! Can’t you just be patient and wait for me?!”


Hugo hanya memandangi Sarah perasaannya campur aduk. Ia takut kehilangan gadis ini. Gadis yang membantunya melewati masa-masa sulit. Rasa perih dan panas di pipinya tidak ia rasakan.


“I know!” kata Hugo sambil mengacak-acak rambutnya tanda ia frustrasi.


“ Itu terjadi begitu saja! Malam itu. Sisanya itu murni kesalahanku... I’m sorry. Aku tahu ini nggak adil. But you need to trust me that I really really do love you, Clara cuma pelampiasan...”


“ Dude are you drunk?! Pelampiasan?! Kamu melakukannya secara sadar! 3 bulan Hugo 3 bulan! Are you crazy?!”


Sarah berjalan ke arah pintu berusaha untuk keluar dari kamar. Rasanya dadanya sesak kenapa Hugo begitu tega. Hugo kemudian menarik tangan Sarah dan mendekap gadis itu.


Sarah berusaha keluar dari dekapan Hugo, dan kembali berjalan menuju pintu. Hugo manarik tangannya sekali lagi dan mendekap Sarah, serta berusaha mencium gadis itu.


“Let me go!” teriak Sarah.


“Aku tidak mau! Biar saja orang dengar”


“ Kau gila?! Sex won’t help us right now!” Sarah mendorong Hugo yang masih kaget dengan perkatannya barusan.


Sarah lalu berjalan keluar kamar dan menangis pelan. Ia menuju ke arah lift. Ia mendengar Hugo seperti berlari ke arah lift, sayang Hugo terlambat.


Sarah sudah masuk lift duluan dan turun. Sesampainya di lobby ia melihat Eric, sepertinya cowok itu tau apa yang terjadi. Sarah berjalan cepat ke arah Eric yang sedang duduk di salah satu sofa lobby itu. Gadis itu menarik tangan Eric, ia hanya pasrah dan mengikuti Sarah.


“ Give me your key!”


Setelah masuk ke dalam mobil Sarah langsung memacu mobil dengan cepat ke arah tol.


“Where are we going?” tanya Eric pelan.


“Bandung...” jawab Sarah sambil terus memacu mobil itu dan menangis terisak.


Eric tidak banyak bertanya kenapa dan bagaimana, yang jelas ia hanya mau Sarah melampiaskan semua emosinya.


“Mmm... I..” Eric ingin mengucapkan kata-kata yang mungkin bisa menenangkan Sarah.


“Shhh.. don’t say anything.” kata Sarah pelan.


3 jam perjalanan ke Bandung kurang lebih hanya diisi dengan diam. Hanya sayup-sayup suara lagu dari radio yang terdengar di mobil itu.


Lagu Miles Apart dari Nick Wilson seakan menambah suasana sedih hati Sarah. Semua kenangannya bersama Hugo, semua janjinya seakan berkecamuk menjadi satu. Long distance relationship is hard dan Sarah berusaha menjaga itu selama ini.


For all the times we've had our differences


And the tears began to fall


And the tears began to fall

__ADS_1


We've always made it to the final step


To look back at it all


Oh, God damn we've seen it all


But darling, when the sky is dark


I still see it clearly, I see...


Even when we're miles apart


I'll still hold you close


Whenever I walk too far


You'll still be my home


Honey, there's no easy part


No matter what you're told


Even when we're miles apart


I'll still hold you close


Even when we're miles apart


I'll still hold you close


Whenever I walk too far


You'll still be my home 🎶


\\\*\\\*\\\*


Hugo terlihat tertunduk lemas, kembali ke kamar hotel Sarah. Masih ada beberapa gaun dan pakaian di sana. Bau gadis itu membuat kepalanya berputar-putar.


Ia tidak sempat mengejar Sarah tadi. Hugo sangat takut, sangat-sangat takut kehilangan gadis itu.


Hugo tahu, gadis itu membutuhkan ruang untuk berpikir sementara. Hugo hanya menatap ke arah handphonenya menunjukkan foto kebersamaan mereka dan beberapa video di mana mereka tertawa bersama.


Bagaimana ia membuat janji pada gadis itu untuk setia. Ia ingat beberapa bulan lalu Sarah hampir menyerah dengan jarak ini. Ia yang memaksa Sarah, memaksanya untuk tetap berlanjut.


Gadis yang ia ambil keperawanannya, gadis yang selalu meneleponnya sebelum tidur walau ia memiliki hari yang panjang, Sarah tidak banyak mengeluhkan tentang hari-harinya yang melelahkan atau hal-hal yang lain.


“I’m sorry....” kata Hugo lirih sambil menutup muka dengan kedua tangannya dan menangis pelan. Ia tidak pernah sesedih ini sebelumnya.

__ADS_1


I hurt her... a lot.


__ADS_2