Long Distance Relationship: Worth Every Mile

Long Distance Relationship: Worth Every Mile
Chapter 2 : Her


__ADS_3

Aku baru saya kembali ke kamarku setelah membantu ayahku mengganti lampu mobilnya. Panasnya hari itu membuatku ingin meminum sebotol bir dingin yang ada di kulkas.


“ What should I do next?” batinku sambil melihat ke arah layar komputerku.


Satu menit kemudian kuputuskan untuk menyalakan komputer dan bermain omegle. Tidak ada salahnya kan untuk berkenalan dengan orang baru siapa tahu aku bisa mengunjungi negara yang baru setelah itu dan melupakan semua kenanganku bersama Elizabeth.


Elizabeth, seorang wanita cantik dengan rambut coklat panjang terurai dan mempunyai poni lurus serta mata coklat yang indah seperti biji almond. Aku kira dia adalah cinta pertama dan terakhirku, we already moved in together but I guess not everything goes as we planned. Kuputuskan untuk melakukan video chatting hari ini di Omegle. Beberapa waktu berlalu tidak ada obrolan yang terlalu menarik untukku.


“Shit! What’s wrong people ?!” batinku. Selama setengah jam online aku hanya bertemu laki-laki nakal atau perempuan aneh yang ada di situs itu. Sampai aku melihat ada seorang perempuan terlihat masih umur belasan tahun mungkin usianya sekitar 14-15 tahun, well orang-orang asia selalu terlihat lebih muda dari usia mereka kan?

__ADS_1


“Hi...,” tulisku. Tapi baru beberapa detik ternyata sudah disconnect. Ada rasa sedikit kecewa karena perempuan tadi terlihat imut dan sepertinya anak baik-baik. Ada sedikit harapan agar aku dapat bertemu dengan perempuan tadi, kerena kadang itu terjadi di aplikasi Ini bila tidak banyak orang yang menggunakan.



Ternyata 15 menit kemudian aku kembali bertemu perempuan imut tadi. Ah.. senangnya batinku. Belum sampai aku mengetik ternyata dia men-disconnectku lagi, kecewa rasanya. Begitu seterusnya sampai tiga kali, peremumpuan ini men-disconnectku. Apa Ada yang salah denganku batinku.


Akhirnya pada kali keempat kami pun tersambung lagi dan perempuan imut itu menyapaku. Setelah mengobrol beberapalama ternyata benar dia memang imut dan ramah. Umurnya tak semuda dugaanku, ia berusia 17 tahun dan bernama Sarah. Aku juga menanyakan kenapa dia men-disconnectku terus-terusan sampai kali keempat baru kita mengobrol. Katanya kalau ada cowok telanjang dada biasanya cowok nakal atau horny. Begitu katanya... yang tentunya membuatku tertawa geli. Aku pun meminta maaf dan mengatakan bahwa itu aku lakukan karena udara sangat panas dan aku juga mau menghemat listrik sedikit.


Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul dua pagi. Tak terasa aku sudah mengobrol banyak dengan Sarah. Dia seorang yang ramah dan pendengar yang baik. Walaupun usianya berbeda 8 tahun dariku tetapi aku rasa dia lebih dewasa dari anak-anak seusianya.

__ADS_1


“ Hey... aren’t you tired or sleepy?” kata Sarah.


“ No, I’m not. I’m happy and still fresh. Hahah” jawabku.


“ OMG.. for real it’s late for you. I’m sorry keeping you up so late. You are so fun to talk with Hugo” kata Sarah lagi sambil matanya berbinar.


“ But here is the thing I need to go to sleep now cause I will have another morning class tomorrow. So I guess talk to you tomorrow???” ujarnya lagi.


“ Of course! I’m glad if you still want to continue these tomorrow. Good night Sarah!!!” jawabku.

__ADS_1


Entah apa yang berbeda dari dia. Suaranya yang khas dan tertawanya yang lepas, hari itu aku sangat senang mengobrol dengannya. Kalau diperhatikan Sarah terlihat cantik walaupun tanpa adanya make up, kulitnya yang agak sedikit tan pun terlihat sangat cantik dan cocok padanya.


“ I guess I wanted to know her more tomorrow” batinku sebelum akhirnya terlelap setelah meletakkan hpku.


__ADS_2