Long Distance Relationship: Worth Every Mile

Long Distance Relationship: Worth Every Mile
Chapter 9: Love or Lust


__ADS_3

Was is love or lust??? batinku sambil membasuh badanku di bawah shower. Aku masih tidak percaya kemarin aku melakukannya dengan Hugo.


What the hell did I do? Am I do it right? But it felt so good while we became one and touch skin to skin. I mean I don’t even know that sex could be that passionate and good. I thought it was just on the movies.


Aku masih membayangkan kejadian kemarin. Ciumannya masih begitu dekat dan hangat. Lekuk tubuhnya dan dadanya yang bidang serta kekar.


“Hey Babe..” kata Hugo sambil memelukku dari belakang.


“Gosh.. I’m still on the shower....” kataku.


“ Hahah... I don’t care.. I mean I saw you n**** too yesterday” jawab Hugo sambil mencium leherku kemudian membalikkanku dan mencium


bibirku.

__ADS_1


Hugo mendorongku ke arah tembok, masih dengan shower yang menyala kami melakukannya lagi.


\\*\\*\\*


Pagi itu setelah kami melakukannya kami berdua menuju restaurant untuk breakfast. Makanan di hotel ini sangat lengkap.


“ Babe do you want some eggs ?” tanya Hugo yang sedari tadi mondar mandir melihat-lihat makanan.


“ Yes, please can I have a sunny side up but make it well done okay....” jawabku dengan senyuman.


Menit-menit selanjutnya kami hanya makan dan mengobrol santai, rencananya kami akan berjemur lagi nanti. Hugo bilang untuk nanti siang ia mau mencoba ayam betutu dan **** guling yang kebetulan ada rumah makan yang jual dekat hotel kami.


Setelah selesai sarapan kami menuju pantai berjalan melewati toko-toko kecil berjualan berbagai pakaian pantai dan pernak-pernik khas Bali. Aku hanya memandangi Hugo yang terus menggandeng tanganku sambil berjalan ke arah pantai, how lucky I’m to have him batinku.

__ADS_1


\\*\\*\\*


Pantai pribadi hotel kami sangat luas, pasirnya putih. Banyak tempat duduk dan ada beberapa cafe. Kami duduk di sofa pantai dan kembali berjemur. Sesekali aku memeluk Hugo dan mengusap rambutnya. Memandangi matanya yang biru dan mengecupnya pelan.


Kami berada di pantai itu sampai pukul sebelas lebih tiga puluh menit, kemudian mampir ke salah satu rumah makan yang menjual ayam betutu dan **** guling.


Hugo bilang mau mencoba makanan pedas, well I already warned him that the those foods are so spicy for bule. He still wanted to try anyway.


Aku tahu Hugo akan kepedasan jadi aku jaga-jaga di tasku dengan tiga kaleng susu, karena susu bisa menetralkan pedas.


Tidak sia-sia aku membawa susu tersebut karena berguna hahahaha. Hugo kepedasan tapi tidak bisa berhenti makan, katanya makanan di Indonesia pedas tapi enak-enak. Sangat berbeda dengan restoran Indonesia yang ada di Australia yang sudah beradaptasi dengan lidah bule.


Setelah kenyang kami kembali ke hotel dan bersantai sejenak di dekat kolam renang yang adem karena banyak pohon. Ada banyak bule yang berjemur di sana. Beberapa ada yang bertanya tentang kulitku yang sudah gosong seperti ikan teri gosong, menurutku..... tapi kata mereka kulitku bagus.

__ADS_1


Aku merasa gerah kemudian kembali ke kamar duluan dan mandi. Kemudian aku terlelap karena AC kamar yang dingin dan perut yang kenyang membuatku ngantuk.


__ADS_2