Long Distance Relationship: Worth Every Mile

Long Distance Relationship: Worth Every Mile
Chapter 15 : Her Bestfriend


__ADS_3

Hari ini hari Senin, masih ada waktu satu minggu untukku libur, setelah masa orientasi. Rencananya nanti kami akan pergi ke dufan. Aku melihat ke arah jam digital disebelah kasurku. Baru pukul delapan pagi. Aku hanya memeriksa handphoneku sekilas dan berguling ke arah Hugo.


Aku hanya memandanginya dan mengelus rambutnya pelan, betapa beruntungnya aku bertemu Hugo. Aku mencium keningnya pelan tidak mau membangunkannya. Aku duduk perlahan di kasur dan mengambil handphoneku kembali, memeriksa beberapa e-mail dan melihat-lihat berita sekilas di internet.


*Ding*


Tiba-tiba ada pesan dari Eric. Eric adalah tetangga tanteku yang tinggal di Belanda. Selama kurang lebih dua tahun ini, kami telah bersahabat baik. Ia juga mempunyai pacar orang Indonesia. Eric lebih tua dariku sepuluh tahun. Kami berkenalan saat ia ikut keluarga tanteku berlibur ke Indonesia. Tanteku sendiri menikah dengan orang Belanda dan dikaruniai dua anak, satu perempuan dan satu laki-laki.



Awal pertemanan kami, setelah aku beranjak remaja ini. Kami banyak bertukar ide dan infomasi mengenai dunia travelling. Eric tentu sangat berbeda dengan Hugo, ia tidak terlalu suka hal-hal yang menyusahkan diri sendiri dan kotor. Ia lebih suka tempat yang bagus dan mudah dijangkau. Obviously camping isn’t his hobby. He prefer to stay in hotel near the mountain or something rather than sleeping in a tent.


“Hey... are you busy? I’m sorry if I’m disturbing your morning with your boyfriend. Just want to let you know I broke up with Vivian.” kata Eric pada pesannya.

__ADS_1


“ We can text, what happened? I’m sorry dude...” jawabku.


Hugo juga tahu aku dan Eric berkawan baik. Jadi, ia tidak mempermasahkan hal itu. Apalagi saat itu Eric punya pacar.


“ I just broke up with Vivian, well I’m kinda suspicious with her for the past 6 months as I told you....”


“ Yeah.. and then keep going.... what happened? I’m sorry dude...” jawabku.


Tak lama berselang Hugo pun bangun...


“ Mmmmm... Hoaammmm... Good morning princess, you up so early babe. What happened?”


“ Nah, it’s just Eric broke up with Vivian.”

__ADS_1


“ Poor guy.... what happened? tanya Hugo sambil berguling dan tiduran di pahaku. Aku hanya mengelus kepalanya dan bercerita apa yang terjadi pada Eric.


Hugo hanya mengangguk, entah dia mendengarkan kata-kataku atau tidak. Tangan kanannya lalu masuk ke dalam baju tidurku mengusap payudaraku dan menbuatku sedikit tersentak.


“ I want you.....” katanya.


Beberapa menit kemudian kami melakukannya lagi. Kadang aku berteriak dan menggenggam lengan atau meremas selimut karena rasa yang nikmat tak terbendung saat mencapai klimaks.


Hugo tidak membiarkanku mencapai klimaks hanya sekali, beberapa kali rasanya semua tulangku hampir copot. Termasuk betapa hebat jari-jari dan lidahnya bermain di area bawah. Rasanya seperti mau tumpah isi badanku.


“ I don’t think I can go to dufan.... I hate you!” kataku sambil terkekeh dengan nafas yang masih memburu.


“ Sure we can, I will ask room service to bring out breakfast here okay... so we can sleep more a bit.” katanya sambil menelepon room service.

__ADS_1


__ADS_2