
Suasana masih gelap dan sejuk, terlebih rintik hujan juga ikut serta mempertajam dinginnya suhu. Di belakang klinik deretan pohon karet luas terbentang. Aroma khas sesekali menguar jika angin bertiup dari arah barat. Meski begitu, Gio sama sekali tidak peduli dan masih saja mondar-mandir kalut di sisi ranjang sang istri yang tengah berjuang menghadirkan buah cinta pertama mereka.
Wajahnya tampak pucat dengan rambut berantakan, akibat berkali-kali diacaknya sendiri. Mungkin akan lebih baik jika dia menunggu di luar saja, toh, dia sama sekali tidak berani menggenggam tangan istrinya dan mengucapkan kata-kata menenangkan seperti suami-suami lain, karena justru dia jauh lebih butuh untuk ditenangkan. Tapi, tidak. Dia sudah berjanji pada Evelyn―sang istri, untuk selalu berada di dekatnya saat persalinan.
Tepat pukul 04.15 langkah Gio terhenti. Jantungnya berdegup kencang sekali. Entah mengapa dia jadi mendadak gugup begini. Dia bahkan tak segugup ini, ketika mengucapkan ijab kabul pernikahan dua tahun yang lalu, tapi kali ini ... Ketika tangis bayi merah secara mengejutkan terdengar memekak memenuhi ruangan persalinan, membuat Gio lupa akan segalanya.
Dia diam membeku di tempatnya, masih membelakangi ranjang sang istri dengan tangan dikepal namun lemas. Kakinya pun begitu. Rasanya semua tulang dalam tubuhnya kompak untuk melunak.
Tangisan bayi itu tak terlalu kencang memang, tapi cukup mampu membuat Gio akhirnya meneteskan air mata. Namun, dia masih tidak berani menoleh, meski sang dokter wanita berkacamata minus mengucapkan kata selamat padanya.
Baru setelah tangis bayi itu mereda, Gio memutar tubuhnya pelan sekali dan dia langsung melihat sang buah hati tengah dibersihkan dengan kain bersih nan lembut oleh seorang suster. Tanpa sadar, Gio mengembuskan napas leganya terlalu kuat, membuat Dokter muda bernama Dina yang sedang membuka sarung tangan sembari memperhatikan sang suster yang sedang membersihkan bayi pertamanya hari ini, menoleh pada Gio dan berucap pelan dan sumringah, "Laki-laki."
Gio yang mendengarnya lebih sumringah lagi. Air mata yang sempat menetes, kini berubah dengan derai tawa lega. Ia menoleh pada Evelyn yang tak kalah sumringah meski jelas sekali istrinya itu terlihat lelah. Dia melangkah cepat dan segera mengecup dalam kening Evelyn.
"Dillon udah datang," ucapnya bergetar. Evelyn tersenyum, lalu meremas lengan Gio, sekadar membagi rasa bahagia mereka satu sama lain.
"Nggak diadzanin, Yah?" ucap Evelyn menggoda.
Gio tertegun. Dia lupa! Sempat membatu beberapa detik, akhirnya sang Ayah baru itu segera mendekati putra pertama mereka. Ia meraih pelan sekali bayi mungil yang disodorkan sang suster. Menatap sejenak wajah putra kebanggaannya, lalu ia melantunkan Adzan penuh getar di telinga bayi merah yang langsung diberi nama Dillon Gionino Eve itu.
Meski Adzan telah usai dikumandangkan, tapi pandangan Gio masih terpaku pada wajah mungil Dillon yang masih berada dalam gendongannya. Bayi itu tampak tenang sekali. Hanya tangis awal tadi saja yang menjadi tingkahnya.
Belum puas Gio mengagumi keindahan ciptaan Tuhan itu, mendadak pandangannya beralih pada dr. Dina yang tiba-tiba melangkah cepat mendekati Evelyn. Ternyata evelyn tengah merintih dan Gio sama sekali tidak menyadarinya, jika saja dia tidak melihat pergerakan sigap Dokter yang mendekati istrinya.
Gio mulai panik lagi. Dia ikut mendekati Evelyn dan mendapati sang istri menggigit kuat bibir bawahnya menahan sakit.
__ADS_1
"A-ada apa?" tanya Gio makin panik.
Suster dengan sigap mengambil kembali Dillon dari gendongan Gio dan meletakkannya di inkubator, agar Gio leluasa memastikan keadaan sang istri. Gio langsung menggenggam tangan Evelyn. Kali ini, dia berani melakukannya. Dia sama sekali tidak ingat lagi dengan rasa takutnya beberapa saat yang lalu.
"Istri saya baik-baik saja, kan?" tanyanya memastikan.
dr. Dina yang masih fokus memeriksa denyut nadi Evelyn tidak menjawab pertanyaan Gio. Dia justru menoleh mencari suster untuk meminta bantuan.
"Anaknya kembar. Persiapkan untuk persalinan selanjutnya," titah sang Dokter tegas. Gio menegakkan tubuhnya kaku.
"Kem-kembar?" tanya Gio linglung. Selama mengandung, Evelyn memang tidak pernah melakukan USG. Mereka terpaksa tinggal di tempat terpencil dan jauh dari kota karena tuntutan pekerjaan Gio.
Pertanyaan Gio kembali tidak mendapat jawaban, karena Evelyn kembali merintih dan mencengkram erat tangannya. Gio meneguk ludah. Dia melihat bulir keringat terbesar yang pernah dilihatnya menghiasi dahi Evelyn.
Gio semakin mengeratkan genggaman tangannya, ketika tubuh Evelyn bergetar hebat. Sebelah tangannya mengusap lembut kening Evelyn, seolah memastikan pada sang istri jika semua akan baik-baik saja.
Gio tidak penah melepaskan pandangannya dari wajah Evelyn. Napasnya ikut tersengal melihat perjuangan sang istri untuk melahirkan anak mereka.
"Kita menghadapinya bersama. Bersama," batin Gio terus-menerus.
Gio kemudian memejamkan kuat matanya, berharap dapat menambah kekuatan untuk Evelyn. Kali ini jantungnya tidak hanya berdegup kencang. Dia yakin dadanya bisa saja meledak saat ini juga.
Genggaman tangan Evelyn tiba-tiba melemah dan itu membuat Gio langsung membuka matanya kembali. Hal pertama yang dilihatnya adalah kepala Evelyn yang terkulai lemah dengan dada yang naik turun.
"Eve!" panggil Gio makin cemas.
__ADS_1
Sebuah tangisan sangat kencang mendadak memekak memenuhi ruangan untuk kedua kalinya, membuat Gio akhirnya mengalihkan pandangannya dari Evelyn. Dia tergugu. Ternyata bayi keduanya telah lahir. Kapan?
Gio menolehkan kepalanya lagi pada Evelyn yang disambut anggukkan lemah dari wanita yang dicintainya itu. Gio tertawa lega. Napasnya masih tersengal entah kenapa. Dia kembali melayangkan pandangannya pada bayi yang lebih merah dan memiliki tangisan jauh lebih kencang dari bayi sebelumnya. Dr. Dina bahkan tersenyum geli mendengar tangisan yang mengejutkan itu.
"Perempuan," ucap dr. Dina ikut tersengal, seolah baru saja usai berlari kencang.
Gio sumringah lagi. Dia kembali mengecup kening Evelyn. Kali ini lebih dalam dan lebih lama.
"Terimakasih," ucapnya tulus.
Evelyn mendongak, dengan suara sangat lemah, dia berkata, "Ternyata Devlin juga datang."
Gio mengangguk kuat. Ternyata mereka tidak hanya mendapatkan sebuah karunia terindah, melainkan dua. Karena... Devlin Giovany Evelyn juga turut serta di jam 04.30 subuh ini.
***
Gio mondar-mandir di koridor tepat di depan ruangan Evelyn dengan sebuah ponsel yang sedari tadi melekat di telinga kanannya. Dia tengah menyebar kabar bahagianya pada semua orang yang bisa dihubunginya.
“Bu, anak Gio kembar!” ungkap Gio sumringah. “Iya, kembar. Ibu sama Bapak nggak usah buru-buru. Hati-hati aja di jalan.”
Senyum tidak pernah hengkang dari bibir Gio sejak dirinya diikrarkan menjadi seorang ayah baru, tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah panik. Dia baru menyadari sesuatu. Ia kembali meneguk ludahnya kuat.
“Tapi, Bu.” Gio mengacak asal rambutnya, lalu melanjutkan, “Perlengkapan yang Gio siapin kan cuma untuk satu bayi. Terus bayi satunya lagi pake apa dong, Bu?”
Gio panik lagi. Selalu panik.
__ADS_1