
Devlin menyusul Dillon ke kamarnya. Ia masih menerka-nerka, mungkin saja Dillon sedang patah hati.
"Kak Leo nggak ada di sini!"
Ucapan--atau sergahan, Dillon barusan membuat Devlin berjenggit. Pasalnya, dia baru saja membuka pintu, dan langsung dihadiahi ucapan ketus itu.
"Aku nggak nyari Kak Leo, kok," protes Devlin, tapi akibat ucapan Dillon tersebut, akhirnya Devlin tahu apa yang sedang terjadi pada sang saudara kembar.
Devlin menyeringai jahil, lalu ikut melompat ke atas ranjang, namun Dillon justru membalikkan tubuhnya dan lebih memilih menatap dinding.
"Dillon," panggil Devlin pelan.
Dillon diam saja. Ia masih saja sok meneliti kadar cat yang mewarnai dinding kamarnya. Lebih tepat dikatakan warna mint, tosca hijau telur asin atau biru muda? pikir Dillon.
"Kamu tau, kan? Aku sukaaaaaa banget sama high heels," lanjut Devlin.
Dillon mengernyit dalam diam. Tampak tak paham dengan topik pembicaraan Devlin yang salah waktu.
"Tapi... Kemana-mana aku tetap milih sepatu flat. Soalnya lebih nyaman, lebih aman, dan lebih...,"
Ucapan Devlin terhenti, karena tiba-tiba Dillon bangkit dengan kasar, lalu mendelik ngeri padanya. "Apa aku terlihat seperti seseorang yang ingin dengar curhat?"
"Dan lebih... Terbiasa," lanjut Devlin pelan. Ia menatap lekat Dillon, lalu melanjutkan lagi, "Seperti kamu."
Dillon kembali mengerutkan keningnya tak mengerti.
__ADS_1
"Kak Leo itu memang lebih menarik, tapi kamu kan nomor selalu. Jadi, apa yang kamu takutkan?" Devlin mengendikkan dagunya, lalu tersenyum miring. "Udah, nggak usah cemburu-cemburuan lagi, deh. Mending bantuin aku ngerjain PR Matematika. Soal nomor 7 susah banget."
Dillon memberengut. Namun, kemudian tersenyum juga. Ia lantas mengaitkan gemas lengannya ke leher Devlin, "Kamu nyebelin, Devlin!"
***
Leo sedang duduk bersila di atas sofa dengan sebuah laptop di pangkuannya, ketika Devlin datang dan ikut serta duduk di sampingnya.
"Lilian itu siapa, Kak?" tanya Devlin. Telunjuknya mengarah pada layar laptop yang menampilkan laman WhatsApp web. Leo sedang membalas chat orang yang bernama Lilian rupanya.
"Teman kampus Kakak," jawab Leo, lalu meraih kripik kentang dari dalam toples kaca di atas meja. Kemudian, jarinya kembali mengetikkan sesuatu, setelah memasukkan sekaligus kripik itu ke mulutnya.
"Pacar Kakak?"
"Pacar apa? Itu bukan topik yang tepat, Devlin."
"Kenapa? Aku udah SMP sekarang." Devlin merengut, kemudian menambahkan, "Dillon aja udah pernah pacaran. Masa Kak Leo gitu aja malu, sih?"
Leo ternganga. Perkembangan zaman memang berbeda. Memang kenapa kalau sudah SMP? SMP juga penghuninya anak kecil, kan?
"Lilian itu anak baik, nggak? Aku nggak setuju kalau dia tipe cewek yang cuma bisa teriak gara-gara liat kecoak, doang." Setelah mengucapkan pernyataan itu, Devlin langsung melenggang pergi dengan tampang tanpa dosa. Meninggalkan Leo yang bulu kuduknya mendadak berdiri.
***
Sekali shut saja, Leo sudah bisa membuat bola basketnya menerobos ring. Meskin lawannya masih anak SMP, tapi itu cukup membuatnya kewalahan.
__ADS_1
Leo menyeka keringatnya, lalu dengan napas tersengal meminta Dillon untuk memberinya waktu istirahat.
"Aku udah cukup tua. Nggak selincah kamu yang masih muda," kata Leo terengah. Ia lalu duduk berselonjoran kaki di lantai lapangan. Kemudian menenggak sebotol minuman tanpa jeda.
"Permainan Kak Leo nggak jelek, kok." Dillon ikut duduk di samping Leo. Kemudian memainkan bola basketnya dari tangan satu ke tangan lainnya.
"Kalau besar nanti, Kak Leo yakin kamu bakalan jadi orang hebat." Leo mencondongkan tubuhnya ke belakang, menopangnya dengan ke dua tangan.
Dillon melirik singkat, lalu berbaring begitu saja di atas lantai lapangan dengan tangan yang mendekap erat si karet bundar. "Aku tau, kok," jawabnya ringan.
Leo terkekeh. "Devlin beruntung punya saudara kayak kamu. Tapi, kamu tau? Sebenarnya kamulah yang lebih beruntung karena punya saudara kayak Devlin."
Dillon diam saja. Dalam hati ia menyetujui ucapan Leo.
"Devlin itu tulus. Siapa pun, akan mudah merasa nyaman berdekatan dengan dia. Iya, kan?"
Dillon berdeham pelan, mengiyakan.
"Kamu harus waspada. Sebentar lagi, Kak Leo yakin akan banyak cowok yang dekatin dia," lanjut Leo. Senyumnya mengembang mengingat adik sepupu kesayangannya itu.
"Sekarang juga udah banyak," ucap Dillon. Ia kembali melambungkan pendek bola basketnya.
"Berarti kamu harus ekstra menjaganya. Kamu tau, kan, kalau Devlin itu adik kesayanganku?" Leo menyenggol pelan lengan Dillon.
"Iya, aku tau." Dillon bangkit, lalu di lemparnya bola basket yang sedari tadi di pegangnya pada Leo yang berhasil ditangkap mantap oleh Leo. "Tapi, Kak Leo juga harus tau kalau akulah kakak kesayangan Devlin."
__ADS_1