
Devlin mengetuk dua kali pintu kamar Dillon dan langsung masuk begitu saja tanpa menunggu dipersilakan.
Dillon yang baru saja selesai mandi dan sedang berganti baju langsung terperanjat kaget. Devlin santai saja. Ia malah langsung mengambil posisi dan duduk santai di kursi belajar Dillon. Memutar tubuhnya dan menumpukkan dagunya di santaran kursi menghadap Dillon yang sedang kelimpungan memakai cepat-cepat bajunya. Untung tinggal memakai baju saja.
"Kamu ini! Nggak sopan tau!" gerutu Dillon setelah kaos berwarna biru langit terpakai secara sempurna.
"Salah sendiri nggak ngunci pintu," kilah Devlin santai. Ia masih saja meletakkan dagunya disana. Tampak benar-benar tak bersemangat.
"Ada apa?" tanya Dillon sembari meraih handuknya yang tadi tergeletak di atas ranjang dan mengkaitkannya kembali ke belakang pintu.
"Aku bosan," jawab Devlin malas.
"Lalu?" Dillon berbalik. Kini ia sibuk menyisir rambutnya sembari melihat cermin. Meski Devlin tidak menjawab pertanyaannya, tiba-tiba saja Dillon baru menyadari sesuatu. Devlin kesepian, karena biasanya selalu ada Mackenzie yang menemaninya.
Dillon berdeham pelan. Kemudian berjalan mendekati rak buku, lantas mengambil sesuatu di bagian rak buku paling bawah. Sebuah buku gambar.
Ia menyerahkan buku gambar itu pada Devlin dan sang adik meraihnya setelah sempat diam sejenak.
Halaman pertama di buka.
"Gambar sepeda?" tanya Devlin sembari mengernyitkan dahinya.
"Itu gambar sepeda motor!" Sengit Dillon.
Devlin terkekeh. "Sepada motor dari mananya? Kamu nggak bakat gambar," cibir Devlin.
Halaman kedua.
"Whoa bunga! Kamu suka bunga juga ternyata?"
Dillon geram. Entah adiknya itu sedang mengerjainya atau bagaimana sekarang.
"Itu matahari, pendek!"
"Matahari, kok, ada mata sama mulutnya?"
"Terus, kalau bunga ada mata sama mulutnya, gitu?"
"Ya kali aja bunga matahari versi kartun," kilah Devlin.
Dillon mendelik sebal. Hampir menyesal karena sudah memperlihatkan buku gambarnya pada Devlin. Ham-pir.
Halaman ketiga.
"Ini..." Devlin mendongak menatap manik hitam milik Dillon, lalu melanjutkan, "Aku sama kamu?"
Dillon mengulum senyumnya. Kemudian mengangguk ringan. Ia beranjak mendekati Devlin, dan ikut melihat gambar tersebut. "Kok kali ini tebakkan mu nggak salah?"
__ADS_1
"Soalnya mereka pegangan tangan," jawab Devlin pelan.
Dillon kembali tersenyum.
"Tapi aku nggak sependek itu!" protes Devlin.
Meneliti lagi, dan... "Rambutku juga nggak sekeriting itu!"
Dillon menghela napasnya jengah. "Yaudah, anggap aja itu bukan kamu!"
"Nggak mungkin! Kamu kan cuma berani megang tangan aku," goda Devlin, lalu tersenyum geli.
"Eum... Devlin."
Devlin kembali mendongak mendengar Dillon menyebut namanya ragu, mengabaikan gambar pada halaman keempat.
"Aku selalu menggambar kalau lagi bosan atau sedih, dan itu ampuh. Mungkin...," pelan Dillon memegang pundak adiknya, lalu melanjutkan, "Kamu juga bisa mencoba cara itu."
Tatapan Devlin berubah kosong. Ia hanya diam, lalu menunduk, kembali melihat gambar selanjutnya.
"Ini." Dillon mengansurkan sebuah buku gambar lagi, dan kali ini buku gambar yang masih baru.
"Aku mau lihat gambar pertamamu besok. Oke?" ucap Dillon, lalu mengusap lembut puncak kepala adiknya.
***
"Kamu kenapa?" Devlin langsung bertanya ketika mendapati Dillon duduk menatap jendela.
Tak ada jawaban dari Dillon, membuat Devlin gemas. Kok gantian si Abang yang galau?
"Hei! Ada apa?"
"Ck! Nggak ada apa-apa?" Dillon menoleh jengah.
Mata Devlin membulat, dan langsung berlari mendekati Dillon, kemudian memegang pundak abangnya itu. "Kamu nangis?"
"Nggak!"
"Iya! Kamu nangis, Dillon." Dasar Devlin, dia justru menegaskan hal yang seharusnya tidak perlu ditegaskan.
"Udah aku bilang, eng... Memang kelihatan?"
"Kelihatan. Matamu basah."
Dillon langsung mengusap matanya dengan kedua telapak tangan, kemudian berbalik lagi menghadap sang adik. "Sekarang masih basah?"
Devlin mengangguk ringan. "Memang ada apa, sih?"
__ADS_1
"Nggak ada apa-apa," jawab Dillon malas.
"Gara-gara kalah olimpiade kemarin?" Tebak Devlin yakin.
"Ih! Kamu sok tau banget."
Devlin diam. Namun, matanya memicing menuntut penjelasan.
"Kamu tau, kan? Aku udah belajar mati-matian, menghafal ini itu, selalu sarapan bergizi, olahraga biar semangat, tapi..." Curhat Dillon panjang lebar.
Devlin mengangguk paham, lalu menepuk pundak sang kakak. "Yang tabah, ya, nak."
"Devlin!"
Devlin keluar kamar dengan tawa tertahan. Setelah memberi sedikit semangat dan banyak gurauan, dia memutuskan untuk menjauh sementara dari si Abang satu-satunya itu, agar Dillon dapat menenangkan diri. Devlin sudah berhasil keluar dari masa sulitnya melupakan Mackenzie, kini giliran Dillon yang harus bisa menerima kenyataan jika perjuangan tak selalu menang.
***
Keluar dari kamar Dillon, Devlin langsung mendengar ayah dan ibunya berdebat, membuat Devlin menghentikan langkah.
Sebenarnya konflik sudah mulai terasa, ketika ibu memutuskan untuk kembali bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Jakarta beberapa bulan yang lalu.
Ayah yang merasa ibu mengingkari janji, jadi sering bersikap dingin di rumah. Ya, semenjak kelahiran sepasang anak kembarnya, ibu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan memilih menjadi seorang ibu rumah tangga biasa, tapi belakangan ibu mulai mengeluh akan rutinitasnya yang itu-itu saja, jadi dia memutuskan kembali pada pekerjaan lamanya tanpa meminta persetujuan ayah terlebih dahulu.
"Kamu kira mereka udah dewasa bisa kamu tinggal lama-lama begitu?"
Obrolan dingin kembali terjadi. Ayah yang berprofesi sebagai kepala mekanik di perusahaan pabrik minyak nabati ternama di ibu kota merasa kesal, setiap mendapati buah hati mereka hanya berdua saja di rumah.
"Kalau terjadi apa-apa mereka, kan, bisa nelpon. Lagian rumah sakit tempat aku kerja nggak jauh dari rumah," balas ibu.
Ayah menatap nanar istrinya, lalu mengalihkan pandang ke arah lain mencoba mengurangi amarahnya.
"Apa harus terjadi apa-apa dulu baru kamu peduli?" sedikit berteriak ayah berujar. Membuat Devlin tersentak.
"Devlin sudah pernah terluka karena pisau. Dillon pernah demam, tapi kamu tidak pernah ada disaat mereka membutuhkanmu," lanjut Ayah mengutarakan kekecewaannya.
Dillon menyusul keluar. Mungkin suara pertengkaran mereka terdengar sampai kamar. Dia mendekati Devlin dan ikut menatap orang tua mereka dari jauh.
"Kamu bisa membuat mereka takut," ibu mencoba menenangkan.
"Justru kamu yang membuat aku takut. Mendadak memutuskan bekerja lagi," ayah menghela kasar napasnya, kemudian melanjutkan, "Bukannya dulu kita sepakat, aku yang nyari uang! Terus sekarang apa? Uang yang aku kasih nggak cukup?"
Gantian, Ibu yang mengalihkan pandangannya. Matanya memerah menahan tangis.
Dillon yang merasa ada yang aneh pada kedua orangtua mereka, berinisiatif mengajak Devlin beranjak dari sana. Belum lagi langkah mereka manapaki anak tangga, bentakan lain kembali terdengar.
"Sekarang mau kamu apa?!" ibu terisak dengan derai air mata yang terus saja mengalir.
__ADS_1
Dillon menutup rapat matanya. Kemudian kembali menarik Devlin agar kembali melanjutkan langkah.