
"Kenapa, sih, Ibu sama Ayah nggak mau punya anak lagi? Aku kan pengen banget punya adek."
Tiba-tiba Devlin berkata demikian. Membuat Dillon yang sedang memperbaiki rantai sepedanya mengernyit bingung, tapi diresponsnya juga ucapan sang adik.
"Mereka bilang ngurus kamu aja udah repot."
Devlin mendelik, yang justru membuat Dillon terkekeh geli.
"Memang kamu mau punya adek cewek atau cowok?" tanya Dillon santai.
"Cowok!" jawab Devlin semangat. Kepalang semangat, hingga membuat Dillon terlonjak kaget.
"Kenapa?"
"Biar ada yang belain aku kalau lagi dibully sama kamu."
"Kapan aku bully kamu?" tanya Dillon sengit.
"Selalu."
"Selalu apanya? Ngarang aja kamu!" sungut Dillon tak terima.
"Aku bakalan ngajak dia lomba renang, Ngajarin dia main piano, nyanyi-nyanyi heboh di kamar, terus..." ucapan Devlin terhenti karena Dillon tiba-tiba menyela.
"Kenapa kalian mau ngelakuin hal yang nggak bisa aku lakuin?"
"Kenapa emang? Kami pasti akan jadi kakak adek yang kompak."
"Jadi, kalian mau nyuekin aku?" tanya Dillon sengit lagi.
"Siapa suruh nggak bisa berenang? Siapa suruh nggak mau belajar main piano? Siapa suruh nggak pernah mau diajak duet nyanyi?" balas Devlin tak peduli.
"Duet apanya? Nyanyianmu itu lebih mirip klakson tronton."
"Makanya kamu nggak usah ikut! Kami cuma bakal ngelakuinnya berdua, kok," sungut Devlin, lantas ia beranjak dari posisi jongkoknya.
"Kalian kejam banget, sih!" Dillon ikut berdiri.
"Biarin!"
"Pokoknya kamu nggak boleh punya adek! Apalagi cowok. Nggak boleh!"
__ADS_1
"Namanya Devlan!"
"Devlan! Devlan! Kalau sampai aku denger nama itu kamu sebut lagi, aku nggak akan nolong kamu ngerjain PR!"
"DEVLAN! DEVLAN! DEVLAN!"
"IBU! DEVLIN NYEBELIN, TUH!"
***
"Dillon, menurutmu kamarku lebih bagus dicat warna putih atau kuning gading?"
Dillon tidak langsung menjawab. Dia masih sebal dengan kejadian tadi sore.
Tanya saja sama adikmu si Devlan itu, sungut Dillon dalam hati. Tapi, tak lama karena Dillon akhirnya merespons.
"Bisa nggak sih kamu biasain manggil aku abang?" ujarnya kemudian.
Devlin mengernyit. Kenapa juga Dillon tiba-tiba protes setelah hampir 13 tahun dirinya menganggil Dillon tanpa embel-embel "abang"?
"Minimal panggil kak Dillon, kek," lanjut Dillon tersungut-sungut.
Dillon mendelik, lalu bangkit dari duduknya dengan kasar. Kemudian menghentakkan kakinya kesal, sembari berujar, "Karena orang-orang ngira aku adik kamu! Dan aku nggak suka!"
Devlin melongo sebentar, lalu terkikik geli. Tanpa rasa bersalah, ia justru menimpali, "Sikapmu, sih, kekanakan. Makanya orang-orang ngira kamu adikku."
Dillon melotot mendengar ucapan Devlin barusan. Rasanya ia semakin mau meledak saja. Kemudian ia menggerutkan kuat keningnya, lalu kembali berteriak tak terima, "Kapan aku kekanankan?! Ingat ya Devlin, gini-gini aku lebih tua darimu 13 menit, dan itu bukan jarak waktu yang bisa disepelekan!" menghela napas sebentar, dan melanjutkan lagi, "Pokoknya mulai sekarang panggil aku abang!"
Kemudian si abang Dillon melangkah dengan hentakan kesal menuju kamarnya, lantas membanting pintu dengan wajah kusut. Tak peduli jika si adik tengah meledakkan tawa geli di ruang tengah.
***
Hingga makan malam, tampang Dillon masih saja suram. Ia makan tanpa suara, meski sebenarnya banyak sekali celotehan Devlin kala makan malam berlangsung yang ingin diselanya.
Ayah menatap aneh Dillon, lalu mengedikkan dagunya meminta penjelasan dalam diam pada Devlin atas sikap tak biasa Dillon. Devlin hanya mengangkat bahunya saja sebagai jawaban. Ia tak mau repot-repot menjelaskan pada ayah jika Dillon tengah merajuk karena ingin dipanggil abang.
Ibu menghela napasnya pelan. Memilih tak turut campur dengan permasalahan anak kembarnya.
"Aku mau langsung ke kamar." Dillon bangkit, menyudahi makan malamnya.
Langkah lemah, rapuh, dan lunglainya terpaksa terhenti, ketika Devlin tiba-tiba bersuara, "Abang udah siap makannya?"
__ADS_1
Ayah dan Ibu sontak melongo. Memandang bergantian anak kembar mereka penuh tanya.
Dillon mendelik pada Devlin, lalu mendesis sebal. Kenapa Devlin akhir-akhir ini memegang alih dalam pembullyan antarmereka?
"Jangan lupa selesaikan PR Sejarah dulu sebelum tidur ,ya, abang."
Ayah yang mulai kembali menyuapi makanannya, sontak tersedak mendengar pebincangan "aneh" mereka. Ia berusaha cepat menstabilkan kondisi tenggorokannya dengan meminum segelas air putih, karena tak mau mengusik suana beraura aneh itu.
"Devlin," Dillon menggertakkan giginya geram.
"PR ku udah siap, sih. Kalau abang mau lihat boleh aja," lanjut Devlin tak peduli dengan Dillon yang sudah siap untuk menerkamnya.
Dan benar saja, Dillon langsung menghambur cepat ke arah Devlin, namun terlambat karena si adik keburu melancarkan aksi langkah seribu. Gigi Dillon mungkin bisa saja rontok saking geramnya. Dia benar-benar menggebu ingin menangkap Devlin, agar bisa menarik pipi bulatnya kuat-kuat sampai Devlin meneriakkan 'maaf' berulang kali padanya.
***
"Hey, pendek!"
Devlin yang baru saja ke luar kamar sembari mengucek matanya akibat bangun tidur, sontak menghentikan langkah dan menatap Dillon yang entah bagaimana bisa berdiri di hadapannya. Kali ini Devlin tidak marah dengan ejekkan Dillon. Selain karena memang masih terlalu subuh untuk marah-marah, perasaan Devlin pagi ini juga sedang kelampau senang.
"Masih marah gara-gara semalam? Kamu kan udah cubitin pipi aku sampai bengkak gini," ujar Devlin senyum-senyum.
"Nggak usah ngomong sama aku! Lagian pipimu memang udah bengkak dari dulu," cetus Dillon.
Devlin sontak merengut. Ia memutuskan untuk melanjutkan langkah, namun Dillon kembali berujar dengan sedikit gelagapan, "He-hei, pendek! Pinjamin aku...," berhenti sebentar, lalu Dillon melanjutkan nyaris seperti gumaman, "PR Sejarahmu."
Devlin hampir terkikik, tapi dia tahan. Dia tidak mau sampai Dillon ngamuk sepagi ini.
"Oke, silakan ambil di tasku, ya, abang."
"Devlin!" Dillon kembali menggertakkan giginya, dan Devlin paham.
"Ambil di tasku, ya, Dillon," ralat Devlin, masih mati-matian menahan diri untuk tidak tertawa.
Kali ini Dillon yang melangkah melewati Devlin. Ia berbelok ke kamar Devlin untuk "meminjam" PR Sejarah sang adik, namun muncul kembali dengan melongokkan kepalanya di ambang pintu.
"Aku nggak suka kamu manggil aku abang. Aku bukan Upin!" ucap Dillon sedatar mungkin.
Devlin yang mendengar ucapan Dillon itu, tidak menolehkan kepalanya, karena takut nanti ia benar-benar tidak bisa menahan ledakkan tawanya. Devlin hanya mengangkat tangan kanannya, dan membentuk kode "oke" dengan jari. Kemudian kembali melanjutkan langkah menuju kamar mandi dengan wajah merah akibat tawanya yang teredam.
"Aku juga nggak mau jadi Ipin," kikiknya, bergumam sendiri, setelah menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1