
Setelah Dillon dan Devlin cukup umur untuk sekolah, Gio dan Evelyn memutuskan untuk meninggalkan Kalimantan dan pindah ke Jakarta lagi, tempat pertama mereka berjumpa. Tawaran kerja yang berkali-kali di tolak Gio akhirnya ia terima demi kehidupan yang lebih baik. Anaknya sudah dua dan akan sekolah, tentu banyak yang mulai membebani pikirannya.
"Gimana kalau tawaran itu aku ambil?" tanya Gio pada Evelyn suatu hari.
"Kamu yakin? Bukannya kamu dulu yang bilang mau tinggal di daerah kecil saja sama ibu dan bapak?"
"Ibu udah nggak ada," lirih Gio.
"Kan masih ada bapak, Sayang."
Gio menarik napasnya berat. Sejujurnya ia kecewa pada sang bapak yang memutuskan menikah lagi diusia kematian sang ibu yang baru hitungan bulan.
"Iya, tapi anak-anak udah butuh sekolah. Bukannya kita mau yang terbaik untuk mereka?"
Kali ini Evelyn yang menghela napas, namun lebih halus. Perempuan yang sudah menyandang status yatim piatu sejak kecil itu menggenggam tangan sang suami dan berkata lembut, "Aku ikut kamu."
***
Percuma saja namamu Devlin, tapi penakut begini," Dillon berdecak sebal. Bagaimana tidak? Mendengar teriakan membahana Devlin di tengah malam seperti ini, membuatnya harus dengan kepala pening tergopoh berlari menghampiri kamar sang adik yang berada tepat di sebelah kamarnya. Dan teriakan yang mampu membuat cicak tuli mendadak itu, hanya dikarenakan lampu kamarnya yang mati mendadak.
Devlin mendongak, menatap sengit cowok yang memiliki wajah--sepintas lalu, serupa dengannya itu tengah berjinjit di ranjang berniat mengganti bola lampu.
"Dan kau sendiri...," Masih mendongak, Devlin melanjutkan rutukannya, "Setia apanya? Playboy begitu."
__ADS_1
Dillon merunduk, mengalihkan tatapannya dari si bola sumber cahaya, hendak membalas ucapan si manik cokelat gelap. "Salahkan saja Ayah dan Ibu yang salah memberi nama."
Mendengar ucapan Dillon barusan, Devlin segera mengacungkan ibu jarinya mantap, lalu keduanya terjebak dalam ledakkan tawa.
Dillon meloncat dari ranjang dengan tawa yang belum juga reda. Memegangi perutnya geli, lalu terduduk di lantai samping ranjang.
"Hei, kenapa turun? Itu belum siap," Devlin menghentakkan kakinya ke lantai, lalu menarik lengan Dillon agar segera beranjak.
"Tidak mau. Leherku sakit," kilah Dillon, lantas ditepisnya tangan Devlin, dan beralih mengusap tengkuk--yang katanya sakit.
"Dillon, ayo cepat! Kalau begini, bagaimana aku bisa tidur?" rengek Devlin tak mau tahu. Kakinya kembali menghentak sebal.
"Ish. Nggak mau! Lakukan saja sendiri," tolak Dillon, masih dengan posisi terduduk di lantai.
"Bilang aja."
"Aku bilang pada Ibu!"
"Bilang aja. Mereka pulang masih lusa," Dillon mencibir. Nyaris terbahak, ketika melihat wajah gadis berumur 13 tahun di hadapannya mulai memerah menahan tangis.
"Baiklah... Baiklah. Dasar anak kecil," sungutnya. Lalu kembali menaiki ranjang yang dilapisi setumpuk bantal, lalu berjinjit di atas sana.
Devlin menghentikan rengutannya, lalu tersenyum simpul. Kembali didongakkannya kepalanya memperhatikan gerak kaku Dillon yang sedang berusaha memutar bola lampu.
__ADS_1
"Sudah. Coba tekan saklarnya," seru Dillon. Patuh, Devlin bergegas menghampiri saklar di samping pintu, lalu menekannya ragu.
Trapp.
"Yey! Hidup," seru Devlin girang. "Terimakasih orang yang lebih tua dariku 15 menit."
Dillon mengerling, lalu diam-diam ikut mengulum senyum. Dia segera meloncat dari ranjang, hendak kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
Langkahnya terhenti di ambang pintu kamar, dan memilih kembali berbalik menghadap sang adik yang sudah sibuk menarik selimut.
"Devlin."
"Hhmm?"
"Selamat tidur."
"Hhmm. Kau juga."
Trapp.
"DILLON SIAL! CEPAT HIDUPKAN LAMPUNYA!"
"Puahahahaaa."
__ADS_1