LONLIN: Kembar 13

LONLIN: Kembar 13
Nyamuk


__ADS_3

Ayah dan ibu belum pulang, jadi Devlin memutuskan untuk mengganggu Dillon yang sedang berbaring di sofa ruang tengah. Sebenarnya sore ini ada acara Pramuka di sekolahnya, tapi dia terpaksa tidak ikut serta karena terhalang izin orang tua.


"Ini nggak adil!" Devlin menarik napasnya dalam, kemudian dengan sedikit menggebu melanjutkan, "Minggu lalu kamu dibolehin ikut kemah. Kenapa giliran aku nggak boleh?" Matanya lantas mendelik tajam pada Dillon. Membuat si lelaki muda, mau tak mau berjengit ngeri.


Dillon memilih menarik sebuah majalah lama dari bawah meja, membuka lembaran demi lembaran, baru kemudian dengan santai berujar, "Umurmu itu masih 13 tahun. Bahaya kalau keliaran di hutan. Terima sajalah, bocah."


Devlin murka. Ia ingat betul, jika mereka itu kembar. Ulangi, Kem-bar!


"Kalau aku 13 tahun, kamu  juga 13 tahun, bocah!" semburnya.


Seolah sudah menjadi tradisi bagi Devlin, jika kemurkaannya memang harus direalisasikan dalam bentuk jambakan. Maka, itulah yang terjadi selanjutnya. Si pemilik tangan mungil sudah melancarkan aksinya menarik sadis rambut hitam pekat sang kakak tunggal.


Dillon meringis di tengah kekagetannya mendapat serangan mendadak itu, lalu spontan ia berteriak, "IBUUUU!"


Devlin membelalak. Meski tak rela, ia akhirnya menghentikan aksi andalannya itu. "Dasar anak Ibu," desisnya.


"Dasar anarkis!" Balas Dillon. Sementara tangannya terus saja mengusap rambut yang tadi menjadi korban kekerasan Devlin.


"Anak Ibu!"


"Anarkis!"


"ANAK IBU!"

__ADS_1


"ANARKIS!"


Hening sejenak, karena Devlin mendadak melengkungkan bibirnya ke bawah, ketimbang membalas ucapan Dillon. Dan, dengan mata berkaca-kaca, ia berteriak...


"AYAAAAH!"


"Oh! Anak Ayah."


"HUWEEEEE."


"Aish. Maaf, ya... Devlin sayang."


***


"Bangun! Dan pukul nyamukmu sendiri," dengus Devlin dengan mata mendelik pada Dillon yang dari tadi meringkuk di pangkuannya.


"Dilloooonnn," Devlin menggeram. Ia mendorong kepala kakak tunggalnya itu, hingga terkulai ke atas kasur. Ya, terkulai, karena Dillon diam saja membiarkan.


Devlin bukan tipe orang yang suka dengan keheningan seperti ini. Melihat Dillon tidur membuat rasa bosannya makin ke ubun-ubun, sedangkan dirumah hanya ada mereka berdua saja, seperti biasa. Ayah dan ibu belum pulang dari tempat kerjanya masing-masing, Mackenzie juga begitu. Bedanya, Mackenzie belum pulang dari rumah tetangga pemilik kucing betina berwarna cokelat kusam. Hus!


"Aku mau nonton tv," Devlin memberi tahu. Kemudian segera beranjak dari ranjang, namun tiba-tiba dia berubah pikiran. Devlin kembali lagi naik ke atas ranjangnya. Dia takut ketika nonton teve nanti lampu tiba-tiba padam dan ia terjebak sendirian di lantai bawah dengan kegelapan. Hih! membayangkannya saja sudah membuat Devlin sesak napas.


"Dillon buka matamu," Devlin merengek. Sifat bocah 13 tahun mulai ia nampakkan. "Ayo, kita ngobrol," lanjutnya.

__ADS_1


Tak ada respon.


"Aku nggak akan peduli walau darahmu habis dimakan nyamuk."


Masih tak ada respon.


"Lihat! Nyamuk gendut menggigit lenganmu."


Sepertinya sia-sia saja.


"Aku nggak bohong! Perutnya benar-benar besar."


"Terserah! Jangan harap aku akan mendonorkan darahku."


Hening.


PLAK!


Nyamuk terkapa dan Devlin merengut. Ia tidak bersungguh-sungguh mau mempunyai kakak pucat yang kehabisan darah.


Plak! Plak! Plak!


"Aku benci padamu, Dillon!"

__ADS_1


Plak!


Dillon hanya tersenyum geli di sela rasa kantuknya. Ia tahu, adiknya itu terlanjur terlalu sayang padanya.


__ADS_2