
"Adikmu, tuh," Adam menyenggol pelan lengan Dillon, hingga membuat si cowok berambut hitam pekat itu mendongak. Membiarkan gerak tangannya yang sedang mengoleskan lem di karton putih terhenti mendadak, lalu memilih memperhatikan pergerakan Devlin yang semakin mendekat.
Sempat mengernyit, karena tak biasanya Devlin menghampirinya di kelas seperti ini, Dillon akhirnya bangkit.
"Kenapa?" tanyanya cepat ketika Devlin telah sampai di hadapannya.
"Namamu ada di mading, tuh," ujar Devlin riang. "Kamu menang olimpiade matematika. Wah! Keren," Devlin bersorak, membuat Dillon terpaksa mengulas senyum geli. Inilah adiknya. Manis. Menggemaskan. Dan .... polos.
"Jadi cuma mau ngomong itu?" Dillon mendecih, lalu melanjutkan, "Aku udah tau."
"Iya. Mau apa lagi memang? Selamat, ya," Devlin menepukkan tangannya pelan, sambil tersenyum sumringah. Tampak sekali, jika cewek berambut panjang itu bangga pada sang saudara kembar.
Lagi-lagi Dillon tersenyum geli, lantas mengangkat ringan bahunya. Kemudian, berdeham sebagai tanda jika ucapan selamat diterima. Sedangkan Adam yang duduk tepat di samping Dillon, hanya diam mengamati. Matanya tampak berbinar, ketika tadi melihat Devlin bersorak riang.
"Udah, ah. Aku mau ke kantin. Minta uang." Devlin menengadahkan tangannya di hadapan Dillon, membuat si saudara kembar melongo kaget.
"Uang apa?"
"Uang yang kamu pinjam kemarin."
Dillon mendecak sebal. Jadi, alasan Devlin datang, sebenarnya untuk mengucapkan selamat atau menagih utang?
Namun, disodorkannya juga selembar uang dua puluh ribu dari saku bajunya kepada Devlin meski dengan tampang cemberut.
"Sisanya?"
"Aish! Besok."
"Oh. Oke." Devlin berbalik, setelah sempat melempar senyum ala kadarnya pada Adam, lalu melangkah keluar kelas sang kakak. Menoleh lagi di ambang pintu, lalu melambai singkat.
"Dia cantik, ya," Dillon tahu pasti itu bukan pertanyaan. Jadi, dia tidak perlu repot-repot untuk menjawabnya.
"Matanya cokelat." Adam melanjutkan, yang hanya dibalas oleh lirikan tajam Dillon yang lebih memilih melanjutkan perkerjaannya yang tadi sempat tertunda.
"Rambutnya juga cokelat. Cantik." Abizzar yang tiba-tiba muncul, ikut menimpali yang langsung disambut oleh anggukkan kuat dari Adam, meski matanya masih menyorot mengikuti pergerakan Devlin yang kian menjauh.
"Kalian kembar, kan?" Adam menolehkan kepalanya pada Dillon. Namun, si juara olimpiade matematika tetap tampak sibuk dengan pekerjaannya.
"Tapi, kalian nggak mirip. Dia cantik," gumam Abbizar, dan lagi-lagi disambut anggukkan kuat oleh Adam.
"Ya, jelaslah! Aku kan cowok."
Dillon menghentakkan keras botol lem ke atas meja, hingga membuat Adam dan Abbizar terlonjak kaget. Kemudian, ia menarik kasar kertas karton yang telah rampung diolesi lem dan membawanya ke depan kelas, lalu menempelnya ke dinding dengan tenaga ekstra. Hingga terdengar suara "Dug! Dug! Dug!".
Membuat kedua temannya menatap ngeri.
Sambil memastikan jika lem melekat secara sempurna, Dillon terus saja menggerutu. Inilah alasan, kenapa dia tidak suka Devlin berdekatan dengannya di sekolah. Dia tidak suka, jika Devlin menjadi bahan pembicaraan. Dia tidak suka, jika Devlin dijadikan fantasi aneh oleh para teman lelakinya.
***
"Kamu dimana?"
Ponsel Dillon bergetar singkat sebagai tanda jika sebuah pesan telah masuk. Ia mengernyit, kemudian segera membalas.
"Di kantin. Kenapa?"
"Ke kelas ku sekarang."
Dillon mengerutkan keningnya lagi. Ini kali kedua Devlin bersikap aneh. Ia mendadak jadi khawatir setelah membaca pesan dari Devlin tersebut, lalu beranjak pergi meninggalkan kantin, meski ia baru saja makan dua suap.
__ADS_1
Sedikit berlari kecil, Dillon bergegas menuju kelas Devlin dan langsung masuk begitu saja sesampainya disana. Wajah khawatirnya musnah seketika, ketika mendapati Devlin dan kawan-kawannya justru saling berebut untuk mengumbar cerita.
"Ada apa?" tanya Dillon sesampainya di dekat Devlin.
Devlin yang tidak menyadari kehadiran Dillon langsung menolehkan kepalanya dan tersenyum hangat.
"Hei, Dillon!" sapanya ringan.
Dillon mendadak jengah. Ia sudah khawatir setengah mati setelah membaca pesan Devlin dan itu hanya untuk mendapat kata 'hai' saja?
"Ada apa?" ulang Dillon. Ia baru sadar jika di kelas Devlin hanya ada satu laki-laki, dan itu adalah dirinya. Jadi, ia mendadak kikuk sekarang.
"Kenalin. Ini Jia. Ini Meara. Ini Sibil. Ini Visha. Dan, ini Rinia," ucap Devlin, sembari menunjuk temannya satu per satu sesuai dengan nama yang disebutnya tadi.
Teman-teman Devlin terseyum malu-malu, dan sekarang Dillon benar-benar merasa canggung. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Terus?" tanya Dillon makin kikuk.
"Terus... Sesuai perjanjian Rp. 10.000 per orang." Devlin mengucapkan kalimat itu bukan ditujukan untu Dillon, melainkan untuk teman-temannya. Ia menengadahkan tangannya pada teman-teman yang tadi namanya ia sebut dan mereka pasrah saja ketika Devlin mengambil uang mereka.
Dillon bingung. Benar-benar bingung. "Maksudnya apa, sih?"
Devlin kembali mengarahkan pandangannya pada Dillon, setelah memasukkan uang-uang itu di sakunya. Kemudian mengangkat bahunya ringan.
"Nggak ada apa-apa. Mereka cuma mau kenalan sama kamu aja," jawab Devlin santai.
"Aku mau ke kantin. Kamu nggak ikut?" Devlin yang sudah beranjak dari duduknya segera menarik Dillon yang masih melongo di tempat.
***
Devlin mendenguskan napasnya pelan, ketika memandang rintikan hujan yang justru dijumpainya siang ini. Ia sudah berlari keluar kelas mau cepat pulang dan ternyata hujan sedang lebat.
Devlin menoleh, lalu menggeleng pelan.
"Mau ikut pulang sama aku? Nanti biar Papa yang ngantar kamu," tawar Meara.
Devlin menggeleng lagi, lalu tersenyum sungkan. "Nggak usah, deh. Aku pulang sama Dillon, kok," ujarnya. Kemudian, mengedikkan dagunya ke arah Dillon yang berjalan mendekat.
"Oke. Aku duluan, ya," pamit Meara, yang disambut oleh anggukkan Devlin dan lambaian tangan darinya.
"Ayah belum jemput," adu Devlin, ketika Dillon sudah hampir sampai di hadapannya.
"Memang nggak jemput. Tadi ayah nelpon, katanya ada rapat jam 2, jadi nggak bisa jemput," terang Dillon.
Devlin mengembuskan napasnya gusar. "Terus kita gimana, dong, pulangnya?"
Dillon terkekeh pelan. Kemudian menjawab pertanyaan sang adik kesayangan dengan gemas, "Ya, naik bus lah. Kan memang selalu kayak gitu."
"Iya, tapi kan sekarang hujan," keluh Devlin.
Dillon menengadahkan wajahnya, memastikan jika hujan memang sedang deras dan tampaknya akan lama kalau menunggu reda.
"Kita lari ke halte," usul Dillon.
"Nanti basah."
Dillon kembali tersenyum. Disaat-saat seperti ini, dia memang selalu mengambil peran sebagai seorang kakak.
"Pakai hoodieku." Dillon mengulurkan hoodie hitam miliknya yang baru saja dikeluarkan dari ransel.
__ADS_1
"Terus kamu?"
Dillon mendecakkan lidahnya. Kemudian tanpa bicara lagi, dia memasangkan Hoodie itu pada Devlin. Menarik sempurna resletingnya, dan memakaikan penutup kepala ke kepala Devlin, lalu mengikat talinya di bagian leher.
"Terus kamu gimana?" ulang Devlin masih khawatir.
"Aku kan abang." Setelah kalimat khas Upin itu terucap, Dillon langsung menggenggam tangan Devlin, dan menariknya agar ikut berlari menuju halte depan sekolah.
***
Menunggu bus datang, Dillon teringat pada kejadian tadi pagi.
"Sebenarnya aku masih kesal dengan kejadian tadi," Dillon mengawali pembicaraan diiringi suara gemericik hujan. Kemudian, ia memicingkan matanya dan berkata penuh selidik, "Kamu ngejual aku?"
"Ngejual apanya? Memang kamu dagangan?" kilah Devlin santai. Ia masih menggoyang-goyangkan kakinya. Memperhatikan percikan hujan yang berbenturan dengan aspal.
"10 ribu per orang?" ucap Dillon tak percaya. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis. "Yang benar aja!"
"Terus berapa, dong? 20 ribu?" Goda Devlin.
"Kamu ini! Besok kembaliin uang mereka. Memangnya aku apa digitu-gituin?" Dillon melotot, membuat Devlin merengut.
"Dillon... Tapi mereka bilang, mereka ikhlas, kok," ucap Devlin bernegosiasi.
"Aku yang nggak ikhlas. Pokoknya kembaliin!"
"Atau... Kamu kenalin juga, aku sama teman-temanmu biar impas."
Dillon menatap adiknya itu datar membuat Devlin tak dapat berkutik dan mengangguk pelan mengiyakan meski berat hati. Tapi, diam-diam dia memperhatikan baju kakaknya yang kuyup.
***
Sepulang sekolah tadi, Devlin dan Dillon langsung bergegas mandi secara bergantian. Lagi-lagi, Dillon mengalah dan mempersilakan Devlin untuk mandi duluan, meski tadi sempat terjadi saling tolak dan berebut mau mengalah.
Ya, akhirnya memang Devlin yang kalah dan mendapat bagian mandi duluan. Jika biasanya waktu yang diperlukan Devlin untuk membersihkan dirinya tak pernah kurang dari 15 menit, tapi tidak untuk kali ini. Belum sampai 3 menit saja, Devlin sudah keluar dari kamar mandi tunggal lantai dua milik keluarga mereka. Apalagi alasannya, kalau bukan tidak ingin membuat Dillon kedinginan terlalu lama.
Dillon yang baru saja siap berganti pakaian dan langsung keluar kamar dengan tangan yang masih sibuk menggosok kepalanya dengan handuk kecil, mengernyit ketika mendapati Devlin sudah berada di balik pintu kamarnya dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Apa?" tanya Dillon bingung.
"Obat."
"Obat apa?"
"Obat untuk kamu."
Dillon terkekeh renyah. Ia menghentikan kegiatannya mengeringkan rambut, dan menyampirkan handuk itu di pundaknya.
"Aku nggak sakit," kilahnya.
"Nanti kamu demam, makanya minum obat dulu."
Dillon terkekeh lagi. Kemudian mencubit gemas pipi adiknya. "Biar aja. Kan ada kamu yang ngompres kalau aku demam."
Devlin mengerucutkan bibirnya. Tangannya masih menggenggam si sirup penurun demam, dan sebuah termometer.
"Udah, sana simpan lagi. Aku mau masak mie. Kamu mau?"
"Mau!" jawab Devlin sembari tersenyum sumringah.
__ADS_1