
Dillon POV
Suara bel menggema, membuat ibu yang dari subuh berkutat di dapur berteriak agar aku segera membukakan pintu.
Aku melenggang kepintu depan, memutar anak kunci, berakhir di kenop pintu, dan...
Yang ditunggu akhirnya datang juga.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dan kemudian, tidak ada lagi percakapan. Semua terasa canggung.
Aku kira akan ada sapaan santai seperti, Hey! Dillon bagaimana kabarmu? Atau Kamu masih terlihat sama seperti dulu, Dillon. Ya, sapaan normal lainnya.
Suara langkah kaki beritme cepat dari arah belakang, membuatku terbebas dari krik-krik momen tersebut.
"Devlin! Kenapa nggak minta dijemput aja sih, sayang?" Ibu menghambur memeluk gadis yang masih berdiri di bagian luar ambang pintu.
Yang dipeluk hanya mengulum senyum, tak menjawab pertanyaan ibu barusan.
"Ayo masuk. Kenapa berdiri di luar begini?" Ibu menariknya memasuki rumah dengan melontarkan berbagai pertanyaan ini dan itu.
Devlin.
Devlin.
Devlin.
Dia sudah tinggi sekarang. Kalau kutebak tingginya sekitar 165 cm, tepat setelingaku. Kulitnya kuning langsat, tak terlalu putih dan tak terlalu gelap. Mata cokelat terangnya masih menjadi identitas yang dengan mudah kukenali. Hidungnya mancung meski mungil tak kalah dengan anime-anime yang kutonton. Alisnya masih tebal, hingga tak perlu bantuan pensil alis. Bibirnya sewarna Cherry dengan bantuan pewarna bibir, mungkin. Tak banyak yang berubah darinya.
Rambutnya? Aku tidak tau, karena sekarang Devlin mengenakan jilbab.
"Dillon! Kenapa diam disana?" Suara ibu menggema menyentakku. Segera ku tutup pintu yang sedari tadi masih terbuka.
Ketika aku tiba di ruang tengah, mereka telah menaiki anak tangga menuju kamar Devlin.
Sarapan yang sejak subuh disiapkan Ibu tentu menjadi kegiatan selanjutnya. Ibu terus saja bercerita ini-itu-anu seperti biasa. Yang berbeda hanya, jika dulu suara Devlinlah yang akan selalu mendominasi, namun sekarang gadis itu hanya tersenyum simpul dan terkadang terkikik pelan menanggapi.
Aku diam saja. Membiarkan ibu dan anak itu menikmati waktu kebersamaan mereka.
Sendok di tanganku berhenti bergerak, ketika sudut mataku melihat tangan Devlin terulur mengisi gelas mikikku yang tinggal separuh. Tangan itu masih sama; terlihat ringkih dengan pergerakannya yang lembut. Tangan yang dulu selalu ku genggam kesana kemari ketika berada dalam keramaian.
Usai sarapan, Devlin dan Ibu langsung mencuci peralatan makan sambil berbincang lagi.
__ADS_1
Jam 11 siang, Devlin tampak sibuk dibantu ibu memasukkan pakaian yang ia bawa dengan kopernya ke dalam lemari.
Jam 3 sore, kami bersisihan di depan pintu kamar mandi dengan wajah basah, sepertinya dia habis berwudhu.
Jam 6 sore, ku dengar dia mengaji.
Jam 7 malam, usai makan, Devlin masuk ke kamarnya dan tidak keluar lagi.
Sepanjang hari, kami tidak saling bicara. Mengagumkan.
"Dillon, lihat! Devlin yang memasak semuanya." Aku langsung disambut celotehan antusias ibu, ketika baru saja menuruni tangga. Ungkapan bangga itu hanya ku balas dengan tatapan datar. Tak tahu harus bagaimana.
"Eh? Sekarang dia dimana, ya?" Ibu menoleh kesana kemari, meski tangannya masih menuangkan air ke dalam gelas.
"Cepat panggil Devlin, Dillon. Suruh sarapan."
Aku tergugu. Bagaimana cara aku memanggilnya? Menolak perintah ibu juga percuma.
Tempat pertama yang kutuju adalah beranda samping rumah. Disana kulihat bunga mawar yang sedang bermekaran di dalam pot yang berjejer rapi bertingkat sudah dalam keadaan kuyup. Gembor plastik warna ungu kesukaan ibu juga masih memperlihatkan bulir air tergantung disana. Itu berarti si pelaku penyiram tanaman masih belum lama melaksanakan aksinya. Aku melebarkan pandangan dan berhasil menemukan Devlin sedang berjongkok dengan kepala merunduk.
Aku mengernyit, lalu mencoba mencuri lihat apa yang sedang dilakukannya. Ternyata Devlin sedang mengelus lembut kucing kecil yang tak terlihat begitu terurus dan kenyataan itu cukup mampu membuatku mengulas senyum.
"Ayo, makan."
Dia menoleh menatapku. Tak tampak terkejut dengan suaraku barusan.
"Aku...," langkahku terhenti begitu saja, ketika Devlin mulai bicara.
Aku kembali berbalik dan mendapati dia yang sudah berdiri.
"Nanti aku boleh pinjam sepedanya sebentar?" dia melanjutkan dengan telunjuk mengarah pada sepeda kuning yang berdiri di sudut beranda.
Ya, Allah. Jadi aku seasing itu untuknya?
Sempat terdiam, karena aku menyerah untuk melanjutkan.
"Cepat makan." Akhirnya, hanya kata-kata dengan intonasi tak bersahabat itu yang keluar dari mulutku. Meski sekilas, aku dapat melihat raut wajah Devlin berubah suram dan kaki sial ini tetap melangkah menjauh, walau tahu sang adik mungkin saja tengah terluka.
***
Devlin POV
"Nanti aku boleh pinjam sepedanya sebentar?"
"Cepat makan."
__ADS_1
Kecewa saja mendengar cara dia meresponku. Aku kira dia akan mengatakan, memangnya kamu udah bisa bersepeda? Biasanya, kan kamu selalu memaksa aku buat mengayuhkannya untukmu.
Dillon.
Tak banyak yang berubah darinya. Dia masih saja lebih tinggi dariku. Kulitnya masih putih seperti dulu. Hidungnya, matanya, alis, hingga bibir masih seperti Dillon yang kuingat. Hanya... Dia dia tidak seperti Dillon nomor selaluku.
Kamu benar-benar melupakan aku, ya, Dillon?
"Ayo makan, sayang."
Aku patuh. Duduk di samping Ibu. Biasanya--dulu, aku selalu duduk di samping Dillon. Dulu.
"Ibu." Ibu menoleh mendengar panggilanku. Tangannya juga berhenti menyendokkan nasi ke piring.
"Nanti aku pergi sebentar, ya?"
Ibu mengangkat sebelah alisnya bingung. "Mau kemana memang?"
Tak ada reaksi apapun dari Dillon. Dia tetap asik menyantap makanannya.
"Oh," ibu tersenyum maklum, kemudian melanjutkan,"Kamu mau jalan-jalan, ya? Jakarta memang sudah banyak berubah, sayang." Diam sebentar, kemudian melirik putra yang duduk di hadapannya. "Diantar Dillon, ya? Ibu ada urusan sebentar nanti ibu nyusul."
Aku menoleh menatap Dillon dan masih tidak ada reaksi.
Kenapa rasanya sakit, ya?
"Nggak usah. Gibran bilang, dia mau jemput."
Ibu seperti terkejut, lalu terkekeh menggoda. "Ibu paham."
Aku menarik napas pelan. Tiba-tiba tak selera makan.
"Devlin."
Bulu romaku meremang. Ini kali pertama Dillon menyebut namaku di enam tahun terakhir.
"Bisa nggak, jangan membuat kucing jinak untuk bermain ke rumah ini. Aku nggak suka."
Jantungku mencelos. Ada nyeri didalam sana yang membuatku enggan bahkan untuk sekadar menghembuskan napas.
"Oke. Maaf."
Dia mendongak. Menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti, lalu mendengus dan beranjak dari kursinya, meninggalkan makanan yang masih tersisa.
"Dillon."
__ADS_1
"Aku mau kuliah, bu. Sudah telat."
Pandanganku mendadak buram oleh air tipis yang tiba-tiba menyeruak memaksa untuk eksis.