LONLIN: Kembar 13

LONLIN: Kembar 13
Mackenzie Sayang


__ADS_3

Ini adalah kisah yang paling ingin aku lupakan, tapi justru kisah inilah yang paling aku ingat ketika mendengar nama Devlin, mulai hari itu.


***


"Ibu bilang, kan makan siang kita di beli aja. Kenapa masih nekad buat masak sendiri, sih?" Dillon sewot melihat Devlin yang sibuk memasak, padahal tadi pagi jelas-jelas ibu berpesan jika makan siang dibeli saja di luar karena ibu tidak sempat menyiapkan.


Devlin diam saja. Dia kepalang serius mengiris wortel agar potongannya sama besar.


Masih bersender di pinggiran meja pantry, Dillon memandang ngeri pada pisau tajam yang 'dimainkan' Devlin. Sesekali dia tersentak kaget ketika pisau Devlin meleset memotong bagian badan wortel yang agak keras.


Dengan tangan bersedekap di dada, Dillon setia menunggui Devlin, takut jika nanti terjadi apa-apa pada adik 13 menitnya itu.


"Aw!"


Dillon sontak menolehkan kepalanya cepat, ketika mendengar ringisan Devlin, dan ia melihat jari telunjuk adiknya itu mengeluarkan darah. Sigap, ia menarik tangan Devlin yang terluka dan mengucurinya dengan air kran.


Devlin masih meringis. Ia menutup matanya, takut jika jarinya putus akibat irisan pisau tadi.  Kemudian, Dillon membimbing Devlin menuju sofa ruang tengah, lalu menyuruh Devlin duduk disana. Dia sendiri bergegas mencari kotak obat, dan mengambil obat merah serta plester disana.


"Tahan, ya." Dillon berjongkok di depan Devlin, dan mulai meneteskan obat merah ke jari telunjuk Devlin.


Devlin kembali meringis, meski mati-matian dia tahan. Kemudian, Dillon membuka plester yang tadi dibawanya dan melilitkannya pada luka di telunjuk Devlin.


"Udah siap," kata Dillon pelan dan Devlin mulai membuka matanya. Bibirnya bergetar menahan tangis. Tadi dia sangat takut jika telunjuknya benar-benar putus seperti wortel yang tadi dipotongnya.


"Nggak apa-apa," kata Dillon menenangkan. Ia ikut duduk di samping Devlin. "Aku nggak suka kalau kamu sampai luka kayak gini. Jadi, udah nggak usah masak lagi."


Devlin diam saja. Dia menatap jarinya yang sudah dibungkus rapi oleh plester. Entah apa yang dipikirkannya, tapi kali ini bukan tatapan takut, melainkan tatapan sedih.


***


Tak lama, terdengar suara deru mobil di depan rumah yang mereka kenali sebagai suara mobil sang ayah. Membuat anak kembar itu saling menatap bingung. Namun, tak lama karena suara pintu terbuka dan ucapan salam membuat Devlin berlari menyambut ayah dan mencium tangannya. "Tumben, ayah pulang cepat?" Cecarnya kemudian.


Dillon menyusul dan mencium tangan ayah juga, setelah menjawab salam terlebih dulu.


Ayah tergelak mendengar pertanyaan sang putri. "Kangen kalian," goda ayah. Kemudian mengelus puncak kepala Devlin dan Dillon bergantian.


"Kalian udah makan?" Tanya ayah kemudian. Pertanyaan yang hampir tidak pernah absen ia lontarkan pada kedua anaknya.


Tak ada yang menjawab, hingga ayah menatap Dillon menunggu jawaban.


Dillon menggeleng. "Baru mau pesan," jawabnya pelan.


Ayah melirik jam yang terpatri di dinding ruang televisi. Membuat raut wajahnya berubah keras.


"Ayo makan diluar," ajak ayah sumringah yang langsung disambut sorakan setuju antusias dari anak-anaknya, Devlin sih lebih tepatnya.


Ayah kembali tergelak. Bahagia saja melihat betapa sederhananya kebahagiaan anak-anaknya. Namun, ekspresi itu segera berubah, ketika melihat jari telunjuk Devlin.

__ADS_1


"Kenapa, Devlin?" Tanya ayah khawatir. Ia berjongkok untuk melihat lebih jelas.


Belum sempat Devlin menjawab, Dillon keburu menyambar, "Devlin main pisau, Yah."


Mendengar aduan Dillon membuat Devlin melotot. "Nggak, Yah! Devlin mau masak tadi," ucapnya membela diri.


"Sama aja. Main pisau," balas Dillon.


Ayah diam saja. Hanya tatapannya yang bicara. Dia kecewa.


***


"Ibu lihat Mackenzie?" Ibu yang sedang mengupas apel di sofa ruang tengah segera menggeleng, ketika mendengar pertanyaan Devlin.


Perhatian Devlin teralih pada Ayahnya yang tengah membaca koran di dekat Ibu. "Ayah juga dari tadi nggak liat," ucap Ayah, mengerti akan arti tatapan putrinya.


Devlin menghela napasnya gusar. Dari pulang sekolah kemarin hingga hari ini, dia belum juga melihat Mackenzie. Padahal, biasanya Mackenzie paling suka bermanja-manja dengannya, ketika hari libur begini.


Bahkan, mangkuk makanan Mackenzie masih terisi penuh oleh makan siang kucing kelabu itu.


Devlin kembali gelisah. Kesana kemari dia memanggil khawatir nama kucing yang sudah tiga tahun ini dirawatnya.


"Ada apa?" tanya Dillon yang tampak segar karena baru selesai mandi pagi.


"Mackenzie hilang," jawab Devlin lirih.


Dillon mengedarkan pandangannya. Dia juga sudah seharian kemarin tidak melihat si kucing buntal milik Devlin itu.


"Nggak mungkin. Dia kalau tidur selalu di dalam rumah, kok."


"Yaudah, mandi dulu sana. Nanti kita cari keliling kompleks," kata Dillon. Melihat adiknya kelimpungan begitu, Dillon jadi ikut khawatir.


Devlin akhirnya setuju. Ia bergegas mandi sesuai usul Dillon, agar bisa mencari Mackenzie setelah itu.


"Kita naik sepeda aja. Kamu duduk di belakang. Biar aku yang mengayuh," usul Dillon, setelah melihat Devlin berlari menuruni tangga dengan rambut yang masih belum kering sempurna.


Devlin mengangguk setuju. Ia segera memakai sandalnya, dan menyusul Dillon ke beranda.


Baru saja beberapa kali Dillon mengayuh sepedanya keluar dari pagar rumah mereka, tiba-tiba dia mengerem sepedanya mendadak.


Devlin meringis, karena kepalanya membentur punggung Dillon. Sambil mengusap dahi, ia bertanya, "Kenapa berhenti?"


Tak ada jawaban, karena Dillon memilih bungkam dan tak memberikan reaksi apa pun.


Devlin mengernyit bingung. Kemudian, berinisiatif turun dari sepeda. Hendak melontarkan pertanyaan yang sama pada Dillon, namun urung dilakukannya setelah melihat langsung penyebab kebungkaman Dillon.


Mata Devlin melebar seketika. Napasnya mendadak tercekat, diikuti oleh bulir air mata yang menetes begitu saja.

__ADS_1


"Mackenzie," desisnya getir.


Ia berlari mendekati sosok kelabu yang terdampar tragis di pinggiran jalan aspal. Berjongkok disana dan mulai histeris meneriakan nama sosok kelabu itu.


"Mackenzie! Mackenzie bangun!"


Dillon melepaskan sepedanya dan membiarkan sepeda itu terjatuh begitu saja. Ia segera mendekati Devlin dan mencegah adiknya itu untuk menyentuh Mackenzie yang dipenuhi darah segar.


Devlin menepis tangan Dillon dan kembali berusaha untuk menyentuh kucing kesayangannya itu. Namun, lagi-lagi gagal karena Dillon telah menariknya menjauh.


"Dillon, Mackenzie luka! Kita harus bawa dia ke dr. Hanum!" isak Devlin.


Dia masih saja mencoba melepaskan diri dari Dillon.


"Dia nggak luka. Dia udah mati," ucap Dillon hati-hati.


Devlin menggelengkan kepalanya kuat. "Enggak! Biar nanti dr. Hanum yang ngobatin. Ayo, bawa Mackenzie sekarang, Dillon!" Devlin masih meronta minta dilepaskan.


Ia ingin segera menggendong Mackenzie, dan membawanya ke Dokter hewan yang membuka praktik di ujung kompleks.


Dillon memandang Devlin getir, lalu memeluk erat adiknya itu, meski Devlin tetap saja meronta. Dadanya sakit sekali melihat Devlin begini. Andai dia tahu pelaku yang menabrak Mackenzie, ia bersumpah akan membuat ******** itu babak belur.


"Udah Devlin."


"Mackenzie kasihan."


"Kita panggil Ayah, terus bawa Mackenzie pulang, ya?"


"Nggak mau! Mackenzi kasihan."


***


Setelah mengubur Mackenzie di pekarangan belakang rumah, Devlin langsung masuk ke kamarnya dan tidak mengatakan apapun. Matanya masih merah, karena tak sedetik pun ia membiarkan air matanya berhenti menetes.


Ayah menyusul ke kamar Devlin. Ia khawatir, karena putrinya itu menolak makan malam. "Makan dulu, ya, sayang. Nanti Devlin sakit, loh."


Devlin tak menyahut. Dia masih membelakangi sang Ayah dengan tubuh yang ditutupi selimut.


Ayah mengusap lembut rambut Devlin. Kemudian, hati-hati berucap, "Besok pagi-pagi sekali, kita beli Mackenzie lagi, ya."


Ucapan ayah barusan sukses membuat Devlin menolehkan kepalanya. Bibirnya bergetar ketika mencoba mengeluarkan suara. "Memangnya Mackenzie kembar? Kalau kembar pun tetap aja nggak sama. Mackenzie cuma satu. Mana bisa dibeli lagi!"


Devlin terisak lagi. Ia kembali membelakangi ayahnya, dan menutupi wajahnya dengan selimut.


Ayah diam saja. Ia khawatir sekali melihat keadaan Devlin. Lebih dari 20 menit ayah berdiam diri di kamar Devlin dan terus mengusap lembut rambut putrinya itu. Baru setelah yakin Devlin telah terlelap, ayah ke luar dari kamar.


Kali ini Dillon yang masuk. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dan langsung mengambil tempat di samping Devlin. Berbaring disana dalam diam dan memeluk adiknya itu dari belakang.

__ADS_1


"Mackenzie pasti senang, karena pernah dirawat sama kamu," ucap Dillon pelan.


Terdengar lagi isakan dari Devlin. Ternyata gadis itu belum tidur. Ia membalikkan tubuhnya, dan membiarkan Dillon memeluknya erat. Membiarkan tangisnya pecah, hingga tersedu-sedu.


__ADS_2