LONLIN: Kembar 13

LONLIN: Kembar 13
Sakit


__ADS_3

"Dillon! Dillon!"


Dillon yang sedang serius membaca komik Detective Conan, langsung tersentak kaget mendengar teriakan histeris Devlin. Adiknya itu bahkan berlari heboh memasuki rumah. Seingatnya, tadi Devlin pergi belanja bersama ibu. Paling mau pamer, batin Dillon.


"Tadi aku ketemu dr. Dina," Devlin yang tidak sabaran, langsung memulai cerita tanpa diminta.


"dr. Dina, siapa?" tanya Dillon tak minat.


"Ish. Dokter yang dulu nolong kelahiran kita."


"Oh." Setelah memberikan respon ala kadarnya tersebut, Dillon kembali memfokuskan perhatiannya pada komik yang sempat diabaikannya tadi.


Devlin tak ambil pusing dengan respons malas Dillon. Ia kembali antusias melanjutkan, "Ibu bilang aku lahir 15 menit setelah kamu lahir, kan? Ternyata Ibu salah. dr. Dina bilang, selisih kita cuma 13 menit, kok!"


"Terus?"


"Itu artinya jarak usia kita makin dekat."


"Ish."


"Jadi, kamu nggak boleh nyuruh aku ini itu lagi."


Dillon mendelik.


"Mulai sekarang, jangan pernah manggil aku 'bocah' lagi."


Mendelik lagi.


"Oke, kakak yang lebih tua 13 menit! Kita sepakat, ya?"


"Ish. Anak siapa sih dia?" geram Dillon, setelah Devlin kembali berlari super riang meninggalkan dirinya menuju kamar tidur.


Setelah kejadian tadi siang, Devlin tak lagi tampak, bahkan ketika ibu pamit untuk kerja sift malam dia tetap tidak keluar kamar. Sedangkan, Ayah memang sedang dinas keluar kota sejak kemarin. Jadilah, rumah sepi begini. Karena khawatir akhirnya Dillon mengetuk kamar Devlin dan melongokkan kepala setelah membuka pintu sendiri.


Dillon mengernyit ketika melihat sang adik bergelung di bawah selimut.


"Kamu sakit lagi?" tanya Dillon lembut.


"Hhm," jawab Devlin lemah. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Dillon dan wajahnya tampak merah. Mungkin akibat demam.


"Udah minum obat?" tanya Dillon khawatir.


"Udah.”


Dillon mengulum senyum tipis. Kemudian melangkah mendekati sang adik. "Pakai selimutnya yang benar, dong," ujarnya sembari membantu Devlin memperbaiki selimut, lantas duduk di samping Devlin.


"Dillon, badanku panas," adu Devlin.


“Iya, namanya juga demam. Tapi nanti pasti sembuh, kok," ucap Dillon menenangkan.


"Ayah, Ibu, belum pulang?"


"Belum. Ibu kan masuk malam. Kalau Ayah, tadi nelpon katanya pulang besok subuh."

__ADS_1


Tak ada lagi yang bicara, hingga Dillon berinisiatif untuk melakukan sesuatu.


"Sini kepalamu aku pijat."


Devlin mendongak. Kemudian menggeser bantal dan kepalanya mendekati Dillon.


“Pijatnya yang benar,” rintih Devlin, ketika Dillon baru saja memulai.


"Ini udah benar."


"Kamu mijat tulang pelipisku. Kan, sakit!”


"Ish, anak ini!” Dillon menggeram, namun kemudian ia bertanya lagi dengan intonasi lembut,  “Sekarang udah benar?"


"Hhm." Devlin mulai mejamkan matanya yang terasa panas kalau dibuka terus.


"Apa nggak lebih baik dikompres, biar demamnya cepat turun?" usul Dillon.


"Nggak usah, deh."


Hening lagi.


"Dillon."


"Hhm?"


"Tolong ambilkan air minum. Aku haus."


"Oke, sebentar."  Dillon bangkit dan akan mulai melangkah keluar kamar, tapi terhenti lagi karena Devlin kembali melontarkan permintaan.


"Iya."


"Pakai gelas yang besar."


"Iya, cerewet."


"Dillon."


"Apa lagi?"


"Makasih."


"Sama-sama, adik yang lebih muda 13 menit."


***


Pagi-pagi Dillon sudah heboh sembari memasuki kamar Devlin.


"Devlin."


"Hhm?"


"Devlin!"

__ADS_1


"Apa?"


Devlin yang masih setengah sadar dari tidurnya, akhirnya bangkit juga.


"Kepalaku sakit. Wajahku panas. Kayaknya aku demam," ucap Dillon, lalu ia berbaring dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Devlin begitu saja.


Devlin segera meletakkan telapak tangannya di dahi Dillon, dan tampak khawatir setelahnya. "Eh, beneran, keningmu hangat. Mungkin ketularan demamku. Aku kompres, ya?"


"Hhm."


Pelan, ia beranjak dari ranjangnya menuju dapur. Tak lama, ia kembali dengan perlengkapan untuk mengompres di tangannya.


"Ayah belum pulang?"


"Belum tadi SMS, pesawatnya delay."


Devlin mengangguk paham. Dia mulai merendam handuk kecil bersiap mengompres Dillon. Untung sekarang hari Sabtu dan sekolah libur kalau tidak mereka berdua tidak akan bisa berangkat sekolah, pikirnya.


"Usahain belajar nelan obat dong, Dillon. Kan nggak lucu, kalau udah sebesar kamu belum bisa nelan kapsul," cetus Devlin, sembari tangannya telaten meletakkan handuk basah ke kening Dillon.


"Devlin, air kompresannya merembes ke mataku, ini," protes Dillon, tanpa menggubris ucapan sang adik barusan.


"Eh? Sori.. Sori."


"Di peras dulu, baru diletakkan."


"Iya, cerewet."


Merasa cukup nyaman, Dillon mulai memejamkan matanya.


"Masih sakit kepalanya?"


"Masih," jawab Dillon masih dengan mata terpejam.


"Kamu tidur?"


"Enggak."


"Memang kepalamu masih sakit?"


"Kamu baru nanya pertanyaan itu sepuluh detik yang lalu loh, Devlin," geram Dillon.


"Aku kan khawatir," rajuk Devlin. Ia beranjak pergi, namun hanya untuk mengambil selimut di sudut ranjang.


"Pakai selimut, ya? Atau mau aku ambilin selimut yang lebih lebal?"


"Nggak usah. Pakai yang itu aja."


"Oh, oke."


"..."


"Kepalamu masih sakit, Dillon?"

__ADS_1


"Hfff."


__ADS_2