LONLIN: Kembar 13

LONLIN: Kembar 13
Sakit Gigi


__ADS_3

Tak seperti biasa, hari ini Devlin tak begitu banyak bicara. Ia turun dari kamarnya di lantai atas, lalu berjalan memasuki dapur melewati Ibu dan Dillon tanpa sepatah kata pun. Tak lama, ia kembali dengan segelas air bening yang tampak masih mengepulkan uap, lalu kembali lagi ke kamar.


Dillon mengernyit. Ini aneh. Biasanya Devlin akan segera histeris jika dia menganiaya Mackenzie, tapi tidak kali ini. Bahkan, ketika Dillon sengaja menjungkirbalikan Mackenzie hingga si kucing buntal berwarna abu-abu gelap itu berteriak dramatis, Devlin sama sekali tak menoleh.


"Devlin kenapa, Bu?" tanyanya pada sang Ibu yang tengah serius menjahit kancing kemeja Ayah yang terlepas, dengan kacamata bacanya. Dillon sendiri masih menyorotkan matanya pada Devlin yang telah sampai di ujung tangga.


Ibu menoleh, lalu dengan setengah berbisik menjawab, "Sakit gigi."


Dillon ber-ohh paham, lalu kembali menggelitiki Mackenzie di pangkuannya.


"Jangan ganggu adikmu," ucap Ibu kemudian. Membuat Dillon langsung menoleh tak terima, memangnya kapan dia pernah mengganggu Devlin? Batinnya.


***


Bosan karena tidak berhasil membuat Mackenzie menangis, apalagi sang ibu telah berwanti-wanti untuk tidak mengganggu konsentrasinya menjahit, membuat Dillon memutuskan untuk kembali kamarnya saja.


Dia sempat berhenti di depan pintu kamar Devlin yang sedikit tersingkap dan melihat sang adik berbaring memunggunginya. Namun, akhirnya ia memilih kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya sendiri, tapi lagi-lagi langkahnya terhenti. Kembali di tutupnya pintu kamar yang sudah separuh terbuka dan berbalik menuju kamar Devlin. Dia bukan pengganggu! Tukasnya dalam hati.


Pelan, Dillon melangkah memasuki kamar Devlin. Berharap kedatangannya tidak membuat si adik terkejut. "Masih sakit?" tanya pelan.


Devlin menoleh, lalu membalikan badan menghadap cowok semampai itu. Tampak sekali, jika dia berusaha menahan rasa sakit.


Dillon maju selangkah, lalu duduk di tepi ranjang. "Sudah minum obat?" tanyanya lagi.


Devlin mengangguk pelan. Mata bermanik cokelat gelap itu tampak sembab. Mungkin tadi dia menangis. Tak tega sebenarnya, tapi Dillon hanya mampu mengulas senyum sekadar menenangkan. "Sebentar lagi pasti sembuh."

__ADS_1


Dillon bergeser, lalu mengangkat kakinya menaiki ranjang, kemudian menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. "Kemari." Ditepuknya pelan pahanya sendiri, mengisyaratkan agar gadis yang masih bersekolah di tingkat menegah pertama itu mendekat.


Devlin paham. Ia segera menggeser kepalanya dan menempatkannya perlahan di atas paha sang saudara kembar.


"Tidur dulu. Nanti pasti nggak akan sakit lagi," ucap Dillon pelan, lalu tangannya bergerak mengusap lembut kepala Devlin. Membelai halaian rambut yang berwarna senada dengan manik mata si empunya seirama.


Devlin bergeming. Dia mulai membiarkan matanya terpejam. Membiarkan dirinya terlelap sejenak disini. Karena dia tahu. Dia aman sekarang.


"Cepat sembuh, Devlin."


***


"Kalau sudah menikah, potong rambut saja harus izin suami."


Baru saja sehari giginya sembuh, Devlin kembali menjadi Devlin yang hobi nyerocos. Dari sekian banyak ocehan yang dilontarkannya, itulah satu-satunya kalimat Devlin yang mampu membuat Dillon menoleh, dan mengabaikan komik absurd yang sedari tadi ia baca.


"Aku. Tentu saja suatu saat aku harus menikah."


Dillon memutar matanya jengkel. Sebenarnya, sejak sore tadi, dia sudah kepalang kesal dengan Devlin. Alih-alih pulang dengannya seperti biasa, Devlin lebih memilih pulang bersama Radev. Dan, Devlin pun demikian. Dia juga kesal pada Dillon, karena mentang-mentang ia pulang bersama Radev, Dillon seenakknya saja mengantar Gea pulang sebagai gantinya.


"Kamu masih 13 tahun, bocah," sungut Dillon.


Devlin gemas. Nalurinya sedang menolak untuk dipanggil 'bocah' sekarang. "Lalu, kamu apa? Kita hanya beda 15 menit, Bung," semburnya.


Cowok berambut hitam pekat di sofa seberang itu tampak terbelalak tak terima. "Kamu..."

__ADS_1


Belum selesai sangkalan lanjutan dari Dillon terlontar, Ayah segera menyela, "Ah, kalian lanjutkan saja berdebatnya. Ayah mengalah. Biar Ayah teruskan minum kopinya di balkon saja." Lalu lelaki yang disebut-sebut sebagai duplikat lain dari sepasang anak kembar itu menjauh dengan membawa cangkir berisi kopi hitam bersamanya.


Devlin mendengus. Ia kembali menolehkan kasar kepalanya pada Dillon. Membiarkan manik mata cokelat gelapnya beradu dengan manik hitam sang saudara kembar. "Karena kamu, ceritaku dan Ayah terganggu," rutuknya.


Dillon mencibir. "Cerita kamu dan Ayah apanya? Dari tadi telingaku cuma mendengar suara cemprengmu saja."


Devlin murka. Wajah mungilnya memasang raut tak bersahabat sekarang.


"Apa lihat-lihat, pendek?"


Bibir Devlin tampak berkedut dengan mata yang tak juga mengerjap. Mungkin shock mendengar kata mengerikan yang didengarnya barusan. Lalu detik selanjutnya, ujung bibirnya telah bergerak melengkung ke bawah. Ia akan segera menagis sepertinya.


Dillon tampak was-was. Dia mulai salah tingkah sekarang.


"Bu-bukan begitu maksudku." Digaruknya kasar belakang kepalanya sendiri, lalu beranjak mendekati Devlin.


"Jangan begini." Dillon makin kelimpungan. Kini ia duduk di sofa yang sama dengan Devlin. Tepat di samping gadis yang mulai berkaca-kaca itu.


"Jangan nangis," suara Dillon melemah. Antara takut, khawatir, atau apalah, lalu diusapnya sayang kepala sang adik.


"Aku nggak pendek," tampik Devlin hampir tersedu.


"Iya. Kamu panjang, kok," angguk Dillon.


Lalu entah kenapa, entah ada apa, dan entah bagaimana, sepasang saudara kembar itu terkikik, lalu memecah tawa geli. Jeda sebentar, lalu tertawa lagi.

__ADS_1


***


Di balkon sana, Ayah yang sedang duduk menikmati embusan angin malam, menolehkan kepalanya ke belakang sejenak, lalu tersenyum geli sembari kembali menyesap kopi hitamnya yang tinggal separuh.


__ADS_2