
Devlin yang sekarang, tak sefeminin Devlin masa remaja. Hanya dengan baju rajut berwarna maroon dan celana jogger yang ia padupadankan dengan jilbab bermotif, serta sneaker dengan warna senada sudah cukup baginya untuk bertemu dengan teman semasa SMP, Gibran.
Ia bergegas hendak keluar kamar, setelah meraih cepat tas selempangnya ketika pintu mendadak dibuka dan menghadirkan wajah datar Dillon.
"A ... ada apa?"
Dillon tak langsung menjawab, ia menyusupkan santai kedua tangannya ke saku celana, membiarkan sang adik menatap bingung. "Gibran udah di luar," ucapnya kemudian.
Devlin mengangguk, kemudian menggumamkan terimakasih sebelum kembali melanjutkan langkah menuruni tangga.
Dillon belum beranjak. Hanya saja, matanya tetap mengekor pandang pada pergerakan Devlin. Masih tak terbiasa dengan dua kata yang kini mendadak jadi sering didengarnya. Maaf dan terimakasih adalah kata keramat yang nyaris tidak pernah diucapkan Delvin pada Dillon, dulu.
***
Sudah tepat pukul 10 malam dan Devlin belum juga pulang. Tak berniat cemas sebenarnya, tapi tetap saja Dillon mondar-mandi tak jelas. Naik-turun tangga, lalu mengubur diri dalam selimut, kemudian turun lagi dari ranjang, melongok keluar jendela, melompat naik ke ranjang lagi, menendang selimut lagi, dan berakhir dengan gerutuan tak jelas.
Hujan yang mengguyur sejak isya dan dibarengi percikan kilat serta rentetan gemuruh menjadi alasan kekhawatiran Dillon menjadi berlipat-lipat. Dia kembali meloncat turun dari ranjang entah untuk yang keberapa kalinya, lalu melangkah menuruni tangga, lagi. Kali ini dia menuju kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Menenggaknya cepat tanpa mau repot-repot menuangnya ke gelas.
"Ku kira sudah dewasa. Ternyata sama saja," Dillon mencak-mencak. Ia meletakkan kembali botol minumannya secara kasar, lalu kembali melihat ke arah jendela. Mendesis lagi, lalu kembali menggerutu. Padahal tugas kuliahnya yang menumpuk masih belum ia kerjakan lantaran otaknya tidak bisa diajak kompromi.
Setengah jam menunggu, terdengar suara gemeretak anak kunci yang disusul oleh deritan suara pintu dibuka dan akhirnya yang ditunggu Dillon dengan kening berkerut tujuh pulang juga.
Devlin melepaskan sepatunya yang nampak sedikit kuyup, kemudian ia letakkan di rak sepatu paling bawah. Besok pagi akan dia cuci, pikirnya.
__ADS_1
Ia sedikit terlonjak ketika mendapati Dillon tiba-tiba berada tepat di depannya dengan tangan yang mengulurkan sebuah handuk berwarna biru langit. Sang kakak kembar tidak mengucapkan apapun, dia diam saja seperti zombie dan membuat Devlin bergidik juga ketika menerima handuknya.
Setelah menerima dengan kikuk handuk kering dari Dillon, Devlin kembali menggumamkan terimakasih, tanpa mau lama-lama beradu pandang dengan Dillon.
Dillon sendiri masih berdiri di tempatnya tadi dan beralih menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia gunakan, kebiasaan sepertinya.
Suasana semakin canggung, jadi Devlin memutuskan untuk berjalan melewati Dillon dengan tangan yang masih sibuk menepuk-nepuk handuk ke wajahnya yang basah.
"Ibu nggak pulang malam ini," Dillon memberi tahu, membuat Devlin sontak menghentikan langkah, kemudian membalikkan badan.
"Kenapa?"
Dillon menolehkan kepalanya ke arah jendela, lalu mengangkat ringan bahunya, baru setelah itu menjawab, "Hujan. Aku menyuruh ibu menginap saja disana."
Dillon mengangkat sebelah alisnya, kemudian menjawab lagi pertanyaan-pertanyaan irit sang adik, "Di rumah teman ibu. Partner kerja."
Devlin tercenung. Ada hal yang sedang ia pikirkan dan Dillon tahu apa itu.
"Perempuan."
Jawaban Dillon barusan secara ajaib membuat Devlin mengangkat kepalanya, kemudian mengulas senyum yang secara spontan membuat Dillon tertegun.
Kali ini Dillon yang berjalan kikuk melewati Devlin. Ia berniat ke kamar mengerjakan tugas yang mendesak ingin segera diselesaikan. Senyum terukir di bibirnya sebagai respon senyum Devlin barusan, meski tanpa sepengetahuan sang adik.
__ADS_1
***
Hujan reda ketika Dillon baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya. Ia melirik ponsel dan tak terkejut ketika mendapati angka 01.05 disana.
Baru saja dia bernapas lega karena akhirnya dapat mengistirahatkan matanya yang terasa kaku akibat membaca tulisan dengan banyak istilah latin, ketika tiba-tiba listrik padam. Dillon mendesah malas, berniat tak ambil peduli karena toh tidur juga gelap. Namun, rasa kantuk segera lenyap ketika otaknya mengingatkan jika ada Devlin disana. Tepat di samping kamarnya dan gadis itu takut gelap!
Dillon melompat turun dari ranjang dengan bantuan cahaya ponsel yang dengan sigap ia ambil dari atas nakas. Ia langsung menuju kamar Devlin dengan langkah lebar, namun langkahnya terhenti di ambang pintu ketika sadar jika Devlin sama sekali tidak meneriakkan namanya seperti dulu ketika mati listrik.
Dillon menertawai dirinya sendiri, Devlin sudah dewasa, mana mungkin masih takut gelap, pikirnya. Tangannya yang sudah menyentuh handle pintu mulai ia jauhkan.
Hingga pertikaian dibatin Dillon usai, Devlin tetap tidak memanggil. Dillon mengutuki dirinya lagi, kemudian berbalik ke kamar dengan tangan mengacak rambutnya sendiri.
***
Devlin meneguk ludahnya susah payah ketika tangannya tak juga menemukan ponsel di atas nakas. Tangannya sudah bergetar di luar kendali, namun ia tetap mencoba terus meraba dalam gelap. Dia yakin, tadi ponselnya ada disana.
Napasnya mulai tercekat ketika gelap mulai merambat pekat. Dia takut. Dan sial, sekarang ia baru ingat, jika ponsel ia letakkan di atas kasur tepat di sampingnya.
Jadi, dia segera mengubah posisi dan kembali meraba permukaan kasur. Hampir putus asa dan memilih menangis, akhirnya Devlin menemukan benda itu. Ditekannya asal tombol ponselnya, kemudian ia baru bisa bernapas lega, ketika akhirnya benda itu mulai benar-benar bercahaya.
Devlin beranjak mencari lampu emergency yang biasanya tersimpan di nakas samping lemari dan berjanji kelak akan menyimpannya di bawah ranjang saja.
Kamarnya telah terang sekarang. Devlin menyentuh dahinya dan merasakan bulir keringat dingin disana. Ia lantas tersenyum miris, menertawai dirinya sendiri, lalu menoleh menatap pintu kamar dan kembali kecewa karena Dillon sama sekali tidak mengkhawatirkannya.
__ADS_1