LONLIN: Kembar 13

LONLIN: Kembar 13
Dillon Keok


__ADS_3

"Assalamualaikum. Di rumah. Berdua saja dengan Dillon. Sudah. Ayah pulang jam berapa? Ibu belum pulang. Huum. Waalaikumsalam."


Devlin meletakkan kembali ponselnya setelah menjawab rentetan pertanyaan dari sang Ayah via telepon. Ayahnya itu memang setiap sore begini selalu menelpon dia atau kakaknya. Sekadar menanyakan, dimana? Sama siapa? Sudah makan? Dan, ibu sudah pulang? Khusus di pertanyaan terakhir, biasanya ayah akan segera mengakhiri sambungan telepon dan setengah jam kemudian sampai di rumah.


Seperti hari ini, si kembar yakin setengah jam lagi deru mobil sang ayah akan terdengar.


Sambil menunggu ayah pulang dan demi mengganggu Dillon yang serius mengisi LKS matematika di meja belajarnya sepulang sekolah tadi, Devlin masuk ke kamar Dillon dan iseng bertanya, "Dillon, seperti apa tipe pacarmu?"


"Tipe penurut. Bukan seperti seseorang yang mengaku sebagai adikku," jawab Dillon enteng.


"Aku tipe penurut! Tapi, hanya orang-orang terpilih saja yang aku turuti," balas Devlin, lalu duduk di tepi ranjang.


"Dih. Menurut apanya? Waktu ayah bilang jangan memotong rambut, kamu tetap memotong rambutmu, dan akhirnya kamu menangis seharian gara-gara tidak suka dengan modelnya," Dillon menatap Devlin sebentar, kemudian menunduk lagi fokus pada LKS nya.


"Hanya sekali itu saja."


"Oh, iya! Ada lagi. Waktu ibu menyarankanmu untuk memelihara kelinci, kamu malah merengek untuk memelihara si kucing buntal."


"Kamu cuma ingat hal-hal jelek saja, ya?"


"Dan yang paling parah adalah... Waktu aku mengajakmu belajar bersepeda, kamu menolak. Tapi, kamu justru nekat bersepeda sendirian ke sekolah tanpa latihan, meski aku sudah melarangmu. Kamu pasti ingat akibatnya, kan?" Dillon bersemangat menjelaskan, kini perhatiannya tak lagi pada si soal matematika.


"Hentikan, Dillon!" Devlin berdiri. Keputusannya untuk mengisi waktu luang salah besar.


"Kamu jatuh. Kakimu berdarah. Kamu mogok sekolah selama tiga hari, dan nggak mau beranjak dari ranjang seolah-olah kakimu benar-benar patah. Itu yang namanya penurut?" Tidak peduli dengan peringatan sang adik, Dillon tetap melanjutkan.


"Biar saja! Memangnya kenapa kalau aku nggak penurut? Siapa juga yang mau masuk kategori tipemu. Kalau bukan karena temanku yang memaksa untuk menanyakan hal ini padamu, aku juga nggak akan bertanya!" Sembur Devlin.


"Puahahaa. Tolong hentikan cinta terpendammu itu, Devlin."


"DILLON JAHAT! AYAAAAAAAAHHHHHH!"


***


Setelah berhasil membujuk Devlin selama 10 menit agar menghentikan tangisannya, akhirnya Dillon membuka obrolan untuk mengalihkan perhatian sang adik agar tidak kembali terisak. Bisa kena jewer ayah nanti, batin Dillon.


"Memangnya siapa yang nyuruh kamu nanya tipe pacarku?"


"Naura," jawab Devlin singkat.


"Dia itu bagaimana?"


"Dia... Lumayan cantik," tambah Devlin, meski terdengar ragu.


"Terus?"


"Dia juga nggak bodoh-bodoh amat."


Dillon mengernyit. "Kamu nggak niat muji orang, ya?"


Devlin mengangkat bahunya.


"Sebenarnya dia nggak cukup baik untuk dipuji," jawab Devlin santai.


"Terus kenapa memaksakan diri buat muji dia?"

__ADS_1


"Dia bilang, kalau aku mau masuk eskul dance, aku harus muji dia di depan kamu," terang Devlin polos.


Dillon terkikik sebentar. Kemudian beranjak dari kursi belajarnya, ikut bergabung duduk di atas ranjang bersama Devlin.


"Ya udah, nggak usah masuk eskul itu. Lagian sejak kapan kamu suka joget?"


"Tapi eskul dance itu yang paling populer di sekolah."


"Terus?"


"Terus aku masuk eskul apa, dong?"


Dillon menghela napasnya pelan. Ternyata sampai sekarang adiknya itu belum menemukan cita-citanya.


"Gimana kalau eskul badminton?"


Devlin menggeleng.


"Drumband?"


Devlin menggeleng lagi.


"Lukis?"


Lagi-lagi menggeleng.


"Jurnalistik?"


"Jurnalistik?"


"Aku jadi wartawan, gitu?"


"Nggak musti jadi wartawan, kan? Bisa jadi editor, desain grafis, dan..."


"Nara sumber pertamaku, kamu, ya?" Devlin mendadak semangat, lupa dengan pertengkaran tadi, wkwkwk.


"Hei, aku bilang, kan..."


"Sebentar! Aku mau nyusun kerangka pertanyaan dulu." Devlin melompat turun dari ranjang, lalu berlari menuju kamarnya.


"Hei, Devlin! Kamu bahkan belum daftar, kenapa udah nyari narasumber, sih?!"


***


Setelah menghabisi Dillon dengan pertanyaan absurd, sekarang Devlin bosan lagi. Mau ngobrol dengan Dillon takut berakhir tragis.


Mackenzie juga sekarang lagi sibuk-sibuknya menyatroni kucing tetangga. Makan saja kadang dia lupa. Fiuh.


Devlin menjentikkan kukunya dan menyadari bahwa kukunya sudah panjang. Akhirnya dia punya pekerjaan, huhu.


Devlin keluar kamar menuju teras depan dengan pemotong kuku di genggaman. Untung-untung nanti dia melihat Mackenzie. Biar dikurung di rumah sekalian biar nggak ngeluyur terus, pikirnya.


Baru sampai kuku jari kelingking kanan yang terpotong, Dillon melongokkan kepala. "Oh, disini rupanya. Aku kira hilang."


Devlin tidak menjawab. Kali ini dia mau main aman saja. Kemudian, dia melanjutkan memotong kuku jemari tangan kirinya.

__ADS_1


Dillon pun tidak peduli. Dia ikut duduk di sana, membuat Devlin mendelik sebal.


"Potong kuku itu bagusnya hari Senin,  Kamis, dan Jumat," terang Dillon.


Devlin diam lagi.


"Mackenzie kemana, ya?" Dillon tau adiknya itu sedang puasa bicara padanya, makanya dia godain terus.


Pertanyaan Dillon barusan sukses membuat Devlin mengangkat kepalanya.


"Aku rasa Mackenzie akan menjadi seorang Ayah. Dia tampak dewasa sekarang."


Dillon melirik singkat pada Devlin yang rupanya sudah berpindah memotong kuku kakinya, lalu mengernyit menanggapi ucapan Devlin barusan.


"Dia sekarang nggak suka di gendong," racau Devlin tanpa menolehkan pandangannya dari si kuku kaki.


"Sekarang dia juga jarang tidur siang. Keluyuran terus kerjaannya." Masih ada tiga dari lima kuku lagi yang harus dipotong, dan Devlin akan tetap terus melanjutkan racauannya.


Sedangkan, Dillon yang awalnya berniat menggoda sang adik mendadak hilang selera.


"Kira-kira istrinya yang mana, ya? Apa kucing tetangga yang warnanya belang-belang itu?"


Dillon mengernyit.


"Kalau anaknya banyak, kita minta satu, ya? Ayah, kan, juga berhak mengasuh anak." Khayalan Devlin semakin melambung saja.


"Tapi, kamu yang minta izin sama Ibu, ya, Dillon. Soalnya, aku kan udah punya Mackenzie, jadi nggak mungkin diizinin. Nanti urusan ngasih makan, biar aku yang tangani deh." Kuku terakhir telah siap di potong.


"Nanti kucingnya aku kasih nama Bibong. Lucu, kan?" Devlin menoleh, dan tidak menemukan keberadaan Dillon disana.


Devlin mendengus, lalu dengan cueknya melanjutkan obrolan sendiri, "Atau aku kasih nama Qubil aja, ya?"


Dillon bergidik. Devlin yang bicara setelah puasa bicara setengah hari rupanya mengerikan. Ia memutuskan duduk di sofa ruang keluarga untuk menonton acara apa saja yang ada di televisi.


Jantungnya nyaris melompat ketika Devlin secara mengejutkan duduk di sampingnya. Kemudian bicara nyaris bertetriak, "Kamu jorok banget, sih!"


"Apanya?" Tanya Dillon bingung.


"Itu kukumu udah panjang."


"Biarin aja, sih. Lagiankan putih bersih."


"Ish!" Devlin langsung menyambar tangan kanan Dillon.


"Eh! Eh! Devlin! Kamu mau apa?"


"Motong kukumu lah. Malu-maluin kalau punya saudara kembar yang cacingan."


"A-apa?" Dillon melotot tidak percaya.


"Ih, diam! Kalau telunjukmu putus, jangan salahin aku."


"Devlin, maaf. Besok-besok aku nggak ngajak kamu ngobrol duluan, deh."


Devlin menyeringai puas.

__ADS_1


__ADS_2