
Devlin mendecak sebal, ketika Dillon yang baru datang, langsung begitu saja mengganti chanel televisi.
"Dillon! Aku sedang nonton," ucap Devlin geram.
"Aku juga mau nonton," balas Dillon tak mau kalah. Kemudian matanya fokus pada layar televisi yang menampilkan Spongebob yang sedang mengganggu squidward.
Devlin merebut remote televisi dalam genggaman Dillon. Kemudian mengganti chanelnya lagi dengan yang tadi ditontonnya; drama korea.
Kali ini Dillon yang mendecak sebal. "Usiamu berapa, sih? Sampai nonton beginian."
Devlin senyum-senyum saja. Tatapannya tak beralih sedikit pun dari wajah tampan Lee Seung Gi, ketika dia menjawab, "Usiamu tuh yang berapa? Masa masih nonton film kartun."
Gantian, Dillon yang merebut remote, meski Devlin berusaha mati-matian menahannya.
Devlin mendelik. Kemudian, mencoba balik merebutnya kembali. Setelah berhasil, ia berlari menjauh sambil menukar chanelnya terlebih dahulu. Dillon mau balas merebut, jadi dia berlari mengejar Devlin.
"Dillon! Kamu jangan curang, dong! Kan aku duluan yang nonton," teriak Devlin sembari berlari.
"Kamu kan udah nonton dari tadi. Gantian, dong!" balas Dillon, masih nekat mengejar Devlin.
Clekk.
Televisi dimatikan dan sepasang kembar itu berhenti kejar-kejaran dan menoleh bersamaan pada layar televisi yang kini mendadak gelap.
"IBUUUU!" teriak keduanya bersamaan.
Sang ibu cuma mengangkat bahunya ringan. Kemudian mengambil bantal sofa dan meletakkannya di atas karpet di depan televisi.
"Ibu mau tidur. Di kamar panas. Jangan ganggu ibu, ya," kata Ibu. Kemudian ibu benar-benar berbaring di sana. Membuat kedua sepasang kembar itu mendesah putus asa.
***
"Heh? Kamu mau kemana? Kenapa berkemas?"
"..."
"Memang di sekolah ada kemah, ya?"
"..."
"Devlin! Aku bicara padamu."
"Tapi aku nggak mau bicara sama kamu."
"Oh, kamu masih marah?"
Devlin menghempaskan kasar tas ranselnya yang disesaki pakaian ke atas ranjang, lalu mendelik tajam pada Dillon.
"Aku nggak mau sebelahan kamar sama kamu! Puas?"
Dillon sempat terbengong sesaat mendengar pernyataan Devlin barusan, tapi kemudian terkikik geli.
"Jadi... Jadi kamu mau pindah kamar?"
Devlin diam saja. Dia malah kembali melanjutkan kegiatannya mengemas pakaian.
"Mau pindah ke kamar mana, memang?" tanya Dillon lagi. Kali ini ia duduk di tepi ranjang, membantu sang adik memasukkan pakaiannya ke dalam tas.
"Kamar Ayah dan Ibu. Kamar mana lagi memang?" hardik Devlin.
"PUAHAHAAA." Dillon akhirnya terbahak. Ia bahkan terjungkal ke belakang saking girangnya. Masih berbaring di atas ranjang, Dillon terus saja terbahak, meski perutnya terasa sakit.
__ADS_1
Devlin mendengus, tapi dia memilih untuk mengabaikan tingkah sang saudara kembar.
"Bagus, dong. Jadi sekarang kamar ini jadi milikku."
Gerakan tangan Devlin berhenti. Ia menoleh menatap Dillon yang berbaring santai dengan sebelah tangan menopang kepala.
"Kalau malam aku akan tidur di kamarku, dan siangnya aku main PSP disini. Wah! asik sekali, kan? Ah, iya. Poster-poster boyband itu akan aku copot, dan aku ganti dengan..."
Brak!
Devlin membanting tasnya ke lantai, lalu dengan napas tersengal saking kesalnya dia berujar, "Kenapa kamu mau nyopot posterku? Kamu tau berapa lama aku ngoleksi itu semua?"
Devlin menghembuskan napasnya kasar, kemudian melanjutkan, "Mimpi saja kamu! Aku nggak jadi pindah!"
"Ok," balas Dillon kalem.
***
"Kamu kenapa?" Dillon yang hampir dua menit lalu menatap diam Devlin dari ambang pintu akhirnya bersuara.
"Hei, Devlin! Ada apa?" tanya Dillon lagi, kali ini lebih geram.
Devlin menoleh sekejap. "Nggak ada apa-apa," jawabnya singkat, lalu kembali menunduk menatap buku berisi rumus-rumus matematika.
"Terus kenapa dari pulang sekolah tadi kamu nggak ada ngomong sama sekali? Kamu masih marah sama aku?" Lagi, Dillon bertanya.
Devlin menggeleng ringan tanpa mengalihkan pandangannya dari si buku kumpulan rumus, membuat Dillon menghela napasnya panjang.
Dengan langkah lebar Dillon mendekati Devlin yang masih setia duduk di kursi belajarnya. Kemudian menarik jengkel buku 'sial' tersebut.
"Kembalikan bukuku!"
"Kamu belum makan dari pulang sekolah tadi. Sana makan dulu."
Dillon benar-benar merasa telah terjadi sesuatu pada adiknya itu. Ia tahu benar jika matematika bukanlah pelajaran yang digemari Devlin, apalagi sampai sefanatik ini.
Dillon mundur beberapa langkah, ketika Devlin mencoba merebut bukunya. Kemudian ia menutup buku tersebut, dan bertanya pelan, "Ada masalah di sekolah, ya?"
Dan pertanyaan itu sukses membuat air muka Devlin memerah menahan tangis. Ketimbang tertangkap basah, Devlin memilih melipat kedua tangannya di atas meja, lalu menelungkupkan kepalanya disana. Bahunya bergetar. Devlin menangis.
Dillon terkesiap. Ia tak menyangka dengan reaksi adiknya kali ini. Ia kembali melangkahkan kakinya mendekati Devlin, lalu menarik sebuah kursi lagi dan duduk disana. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dillon turut menumpukkan kepalanya di atas meja dengan tangan yang mengusap lembut rambut Devlin.
"Nilai ulangan matematika ku jelek lagi," Devlin mulai bersuara. Jelas sekali jika dia kesulitan mengucapkan pernyataan itu.
Dillon masih diam. Dia lebih memilih mendengarkan.
"Dan... Mereka bilang...," ucapan Devlin terhenti akibat sesegukan dan kembali melanjutkan setelah ia meneguk ludahnya susah payah, "Aku nggak cocok jadi adik kamu."
Jantung Dillon mencelos. Dadanya kini mendadak nyeri. Elusan tangannya di kepala Devlin berhenti sesaat. Tiba-tiba ia ingin sekali memaki orang yang mengucapkan kalimat itu pada adik kesayangannya.
"Dan kamu percaya?" Masih dengan kepala yang menempel di permukaan meja dan masih memandang lekat kepala Devlin yang terlelungkup, Dillon bertanya.
Devlin diam saja, namun isak tangisnya kembali terdengar meski teredam permukaan meja.
Pelan, Dillon menegakkan tubuhnya, lalu mencondongkannya lagi ke arah Devlin dan membisikkan sesuatu padanya. "Ketimbang menang olimpiade, aku jauh lebih senang ketika pada kenyataannya kamu adalah adikku."
Devlin ikut mengangkat kepalanya berlahan, menatap Dillon dengan mata basah.
"Nggak ada yang boleh jadi adikku, kecuali Devlin," lanjut Dillon.
Devlin tersenyum tipis. Ia masih menatap lekat kakak hebatnya itu.
__ADS_1
"Tidak ada yang lebih pantas menjadi adikku selain Devlin," lanjut Dillon lagi.
Devlin kembali tersenyum. Kali ini lebih sumringah.
"Aku mau saja menghapus air matamu seperti yang di televisi-televisi, tapi nanti tanganku jadi lengket." Dillon berucap melankolis, membuat Devlin terkekeh geli.
Dillon ikut tertawa sebentar, lalu menarik sang adik dalam pelukannya. Dengan suara lembut, ia kembali berucap, "Aku sayang Devlin, lalu apalagi yang kurang?"
***
Setelah Devlin tenang, Dillon mulai bertanya hati-hati, "Memang siapa yang ngomong begitu?"
Devlin diam. Kemudian menggeleng pelan. Ia tahu kekacauan apa yang akan terjadi, kalau sampai dia menyebutkan sebuah nama.
"Hei! Nggak akan aku apa-apakan."
"Bohong," desis Devlin.
Dillon tersenyum tipis. Hatinya masih terluka.
"Ngomong-ngomong, Devlin," Dillon menjeda ucapannya, menunggu Devlin mengangkat kepala, "Akan sangat membosankan kalau semua orang punya kelebihan yang sama."
Devlin tau maksud ucapan Dillon, tapi dia diam saja.
"Aku hanya lebih cepat saja menemukan kelebihanku. Ehm! Ayo, kita cari sama-sama kelebihanmu," ucap Dillon semangat.
Devlin mulai tampak tertarik. Matanya sudah mulai berbinar seperti biasa.
"Dan aku harap itu bukan matematika," lanjut Dillon pura-pura tak suka.
Devlin tertawa pelan dan Dillon mulai lega.
"Menurutmu, kapan waktu yang paling menyenangkan di sekolah?" Dillon memulai investigasinya.
"Beberapa menit sebelum istirahat," jawab Devlin ringan.
"Kenapa?"
"Karena itu saat-saat ketika aku menunggu kebahagaian. Memikirkan nanti makan apa, nanti main apa, dan..." Jawaban Devlin terhenti, karena kali ini Dillon berdecak sebal.
"Cita-citamu apa, sih, Devlin?"
"Eumm...,"
Devlin panjang sekali menggumamkan 'eumm'nya, sehingga Dillon terpaksa menyela. "Lama banget, sih, mikirnya."
"Nggak tau. Aku belum punya cita-cita," desah Devlin.
"Bagaimana kalau jadi dokter?"
"Nggak, ah. Aku nggak suka liat luka."
"Kamu bisa jadi dokter hewan. Kamu kan sayang sama Mackenzie."
"Tentu saja. Tapi masalahnya, aku cuma sayang sama Mackenzie dan sejenisnya. Sedangkan hewan itu kan banyak sekali macamnya. Aku nggak mau kalau sampai berhubungan dengan ular," ujar Devlin bergidik sendiri mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Nah! Guru saja. Kamu kan enak kalau diajak bicara, jadi muridmu pasti akan senang."
"Justru itu masalahnya. Karena aku kepalang menyenangkan diajak bicara, mereka pasti nggak mau belajar dan lebih memilih curhat denganku."
Dillon tercenung. Apakah ini gadis yang sama dengan gadis yang menangis mengkhawatirkan tadi?
__ADS_1
"Jadi kamu mau jadi apa, dong?" Lanjut Dillon akhirnya.
"Eum," Devlin kembali berdeham, namun tidak sepanjang tadi, karena dia melanjutkan, "Nanti kalau sudah ketemu baru aku kasih tau, ya."