LONLIN: Kembar 13

LONLIN: Kembar 13
Episode Baru Kehidupan LONLIN


__ADS_3

"Dia mau kuliah disini?" Pemuda berkaki jenjang dengan kulit putih bersih, melayangkan pertanyaan pada sang ibu yang tengah sibuk menganti bedcover dengan yang baru dibelinya.


Tangannya ia silangkan di depan dada, kemudian bersandar santai di dinding dekat pintu menunggu jawaban.


"Nggak. Dia memutuskan untuk nggak kuliah," jawab ibu tanpa mengalihkan pandang. Bedcover motif bunga super heboh menjadi fokus sorot matanya.


"Terus, ngapain dia kesini?"


"Dillon!" Wanita paruh baya yang masih memancarkan pesona seorang wanita diusianya itu, menghardik tak suka.


Dillon menegakkan tubuhnya kikuk. Dia salah bicara nampaknya. Dengan canggung, dia menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia gunakan.


"Devlin itu adikmu. Kamu nggak lupa, kan?" Sang ibu masih menatap tak suka, hingga Dillon berdeham dan mengangguk ringan.


Aneh memang. Terbiasa memiliki adik, lalu dipaksa berpisah. Dan sekarang ... Bertemu lagi.


"Kenapa kamu nggak pernah menghubungi dia lagi?" Ibu beranjak ke arah lemari, dan membuka ke dua pintunya. Penuh. Lemari itu masih penuh oleh pakaian kecil Devlin.


Ibu kembali menoleh pada Dillon, ketika tak juga kunjung mendapat jawaban.

__ADS_1


"Dia juga nggak penah menghubungiku." jawab Dillon malas.


Ia memajukan kakinya beberapa langkah, dan langsung di hadapkan oleh jendela besar berbingkai putih. Ia teringat wajah cemberut Devlin di malam minggu ketika cuara berangin.


"Kenapa harus gengsi, sih? Kalian, kan adik kakak."


Dillon menoleh, lalu memilih duduk di ranjang yang mendadak seperti taman bunga. Angannya menerawang lagi. Dia ingat Devlin meringkuk ketika sakit gigi di sini.


"Dia udah dewasa sekarang." Suara ibu terdengar lagi. Kini ia sibuk memilah pakaian di lemari, demi menyediakan ruang kosong.


Ayunan kaki Dillon terhenti ketika kakinya tak sengaja terantuk sesuatu. Ia membungkuk, lantas mengintip ke bawah ranjang dan mendapati sebuah kotak di sana. Di bawah ranjang Devlin.


Tangannya meraih pelan kotak yang terbuat dari bahan kardus berwarna cokelat kayu, lalu meletakkannya dipangkuan tak peduli dengan debunya dan membukanya.


Ya, satu-satunya high heels milik Devlin. Tak sadar, Dillon mengulum senyum ketika sekelebat kejadian ketika Devlin berlatih memakai high heels mengawang dipikirannya.


"Ibu harap kalian bisa seperti dulu lagi."


Seperti dulu lagi?

__ADS_1


Mendadak senyum Dillon memudar. Ia menutup kembali kotak itu dan memandang punggung ibu yang sibuk bergerak kesana-kemari.


Bisakah?


Enam tahun bukan waktu yang singkat, kan?


Kemudian banyangan Devlin yang meraung ketika mendapati Mackenzie bersimbah darah muncul di kepalanya, membuat Dillon meneguk ludah pahit.


"Kamu pasti kaget kalau ngelihat dia." Suara ibu terdengar lagi.


Pasti.


Wajah Ayah masih terbayang jelas di benak Dillon karena meski tak sering berkunjung, namun dapat dipastikan sang Ayah akan datang setiap tahun untuk menemuinya dan setiap kedatangan Ayah itu ... Devlin tak pernah ikut.


"Kamu sih, kalau diajak kesana nggak pernah mau."


Ya, Dillon juga tidak pernah mau mencoba untuk menemui Devlin, walau sang Ibu sering kali bertandang ke Kalimantan menemui Devlin dan mengajak dirinya.


Kenapa harus dia yang mencoba duluan?

__ADS_1


Hingga, kini yang tersisa di benak Dillon hanya bayangan Devlin yang memutuskan pergi  mengikuti ayah pergi jauh tanpa sekali  pun menoleh padanya.


"Aku tak penting baginya," desis Dillon. Kemudian, dengan langkah lebar keluar kamar meninggalkan sang ibu yang menatap punggungnya putus asa.


__ADS_2