
“Kak Leo beneran mau pulang?” Devlin merengut, lantas memeluk lengan Leo erat.
Leo tersenyum hangat, lalu menarik Devlin dalam pelukannya. Dipeluknya erat si sepupu kecil, kemudian mengusap lembut puncak kepala Devlin.
“Secepatnya Kak Leo main kesini lagi, ok?”
Devlin melepaskan pelukan, lalu balas tersenyum. “Secepatnya,” ulang Devlin memastikan.
“Yup! Se-ce-pat-nya.” Leo mencubit gemas pipi Devlin sebentar, lalu memutar tubuhnya mengambil sesuatu di atas nakas. Kemudian mengulurkannya pada Devlin.
"Apa ini, Kak?"
"Kaktus."
"Buat apa?"
"Ya, buat kamulah, sayang." Leo terkekeh, lalu kembali mencubit gemas pipi Devlin.
"Aku tau. Tapi kan, kaktus itu berbahaya. Dia berduri," balas Devlin ngeri.
"Udah, Devlin. Rawat aja. Kamu kan mirip sama Kaktus. Jadi, pasti cocok," sambar Dillon yang membantu membawakan tas milik Leo.
Devlin mendelik, lalu menggerutu tak jelas.
Leo justru terkekeh melihat perdebatan sepupu kembar kesayangannya. "Memang apa jeleknya mirip kaktus? Kaktus itu tanaman ajaib, loh."
"Ajaib gimana?"
"Kaktus itu punya pertahanan hidup yang mantap. Dan kalau kamu beruntung, kamu bisa ngeliat dia berbunga," terang Leo.
"Berbunga?"
__ADS_1
"Huum. Ini jenis kaktus parodia magnifica. Orang-orang juga menyebutnya ball cactus. Dan bunganya sangat cantik," terang Leo.
"Tapi, kan berduri," balas Devlin masih ragu.
"Mawar juga berduri. Lidah buaya juga sebenarnya berduri. Sesuatu yang berharga itu memang harus punya senjata penjaga, kan?"
Devlin diam sejenak, kemudian berujar mantap, "Oke. Aku setuju mirip kaktus kalau gitu."
Dia meraih pot kecil berisi kaktus yang konon berasal dari Brazil bagian selatan itu dari tangan Leo. Membuat sang kakak sepupu tertawa renyah.
Dillon mencibir, tapi dia tidak mau protes. Karena, memang seperti itulah Devlin baginya, pendek dan berduri, puahaha.
***
Sejak Leo pamit mau kembali pulang ke Sumatra setengah jam lalu yang didominasi oleh rengekan Devlin, kini rumah terasa sepi. Si kembar ada di kamarnya masing-masing, sedangkan ibu sedang memberi makan Mackenzie, karena si mama kucing buntal sedang galau-galaunya.
Ayah baru pulang, dan mengucapkan salam. Namun, tidak ada yang menyahut, hingga ibu melongokkan kepala dari pantry, baru kemudian menjawab salam ayah.
"Anak-anak mana, sayang?" Ayah memang masih terbiasa memanggil ibu, dengan panggilan semasa pacaran dulu. Cie.
Ayah terkekeh, kemudian memanggil si kembar agar segera turun.
Dillon turun dengan gaya petakilan, di tangannya terdapat sebuah komik yang sepertinya sedang ia baca. Berbeda dengan Devlin yang tampak lesu sekali.
Mereka mencium tangan Ayah, kemudian duduk mengambil tempat di sofa. Devlin memilih duduk di dekat Ayah. Ia menyenderkan kepalanya yang mendadak jadi super berat ke lengan ayah kesayangan. Ayah hanya mengulum senyum geli, melihat tingkah putri semata wayangnya.
"Handphone?" tanya Dillon antusias, setelah ayah menyebutkan oleh-oleh yang ia bawa setelah dua hari tidak pulang akibat harus dinas keluar kota.
"Ayah beliin kami handphone?" Devlin ikut bertanya tak kalah antusias.
Ayah mengulum senyumnya, lalu mengangguk kuat.
__ADS_1
Devlin sontak berteriak girang dan langsung menghambur memeluk Ayah. Dillon lebih kalem. Dia hanya tersenyum sumringah, dan ikut memeluk ayahnya, ketika sang Ayah membuka tangannya satu lagi sebagai kode baginya untuk masuk dalam pelukan.
"Punyaku yang mana, Yah?" Devlin lebih dulu melepaskan pelukan dan memandang takjub pada dua buah kotak persegi di atas meja. Ia mendadak lupa pada kegalauannya sesaat tadi.
"Yang putih," jawab Ayah.
Dillon ikut melepaskan pelukan. "Berarti punyaku yang hitam, Yah?" tanyanya berbinar.
Sang ayah mengangguk, dan sepasang anak kembar itu kegirangan.
"Terima kasih, Ayah." Devlin kembali memeluk ayah kesayangannya, dan kali ini tidak lupa mengecupi sayang kedua pipi ayahnya itu.
Dillon yang tak kalah senang, ikut memeluk ayahnya dan mengucapkan terimakasih juga, namun dia ogah mencium pipi ayahnya layaknya Devlin, meski sang ayah sudah menyodorkan pipinya pada Dillon.
Ibu yang duduk tak jauh dari mereka ikut terbahak melihat penolakkan Dillon.
"Aku mau ke kamar dulu, ya. Mau nyoba hape baru," pamit Dillon girang.
"Aku juga," Devlin ikut pamit.
Keduanya masuk ke kamar masing-masing setelah mengecup singkat pipi ibu mereka. Ayah merengut karena ibu mendapat dua kecupan, sedangkan dia cuma dapat satu.
***
Hal pertama yang dilakukan Devlin sesampainya di kamar adalah memotret kaktusnya. Ia memotret dari berbagai sisi, hingga akhirnya tersenyum puas.
Cekrek!
Langkah selanjutnya adalah mengatur password untuk handphone. Devlin tampak berpikir lama. Kemudian mengetikkan beberapa karakter, menghapusnya lagi, dan mengetik lagi, menghapus lagi, begitu seterusnya. Berbeda dengan Dillon yang tampak mantap dengan password yang baru dipikirkannya.
__ADS_1
"LONLIN." Itulah password yang digunakan Dillon.
Dan Devlin... Setelah berpikir panjaaaaang sekali, akhirnya dia memutuskan untuk mengkorfirmasi passwordnya. Dia mulai mengkonfirmasi passwordnya di kolom kedua dengan kata, "LONLIN."