LONLIN: Kembar 13

LONLIN: Kembar 13
Tebak-tebakan


__ADS_3

Devlin menghela napasnya bosan. Ia menutup novel yang tadi dibacanya, kemudian menatap Dillon yang berbaring di sofa dan menghela napas lagi ketika melihat Dillon asik membaca komik.


"Dillon! Gimana kalau kita main tebak-tebakan?"


Belum sempat Dillon menjawab, Devlin sudah memulai aksinya.


"Kota, kota apa yang paling enggak sabaran?"


Tak ada jawaban dari Dillon, dia hanya melirik Devlin malas.


"Jawabannya Cikarang, yey!" Sorak Devlin dengan jawabannya sendiri.


"Lagi, ya?" Devlin memasang tampang berpikir, kemudian memulai lagi, "Kenapa dalam film Frozen nama tokohnya Ana dan Elsa?"


Dillon tak menjawab lagi, tapi kali ini dia mengangkat sebelah alisnya.


"Karena kalau yang main Ana dan Antum itu namanya film Arab," jawab Devlin cekikikan.


"Lagi, ya?"


Masha Allah. Dillon menatap adiknya tak habis pikir. Namun, dia mengangguk juga.


"Sekarang kita ke materi kimia dulu," terang Devlin sebelum memulai. "Senyawa kimia apa yang paling menyeramkan?"


Dillon bangkit dan duduk menghadap Devlin. Dia tampak mulai tertarik.


"Asam Asetan".


"Aish! Kasih aku kesempatan buat mikir dulu," balas Dillon sebal membuat Devlin kaget dan tidak jadi bersorak.


"Ok. Tenang masih ada." Devlin menyeringai, lalu melanjutkan, "Senyawa kimia apa yang sering kena sumpah serapah?"


Devlin sudah hampir membuka mulutnya lagi, ketika Dillon berteriak, "Asam laknat!"


Jawaban Dillon barusan membuat Devlin mendelik.


"Ah, kimia nggak seru. Kita pindah ke biologi aja."


"Yey! Benarkan?" Dillon bersorak dan Devlin tidak peduli. Dia sudah bersiap melanjut tebak-tebakannya.


"Penyakit apa yang kalau dilihat berdosa?" tanya Devlin percaya diri. Dia yakin Dillon tidak akan bisa menjawab.

__ADS_1


"Asam aurat," jawab Dillon santai.


Devlin yang sudah hampir menjawabnya kembali mengatupkan bibir. Dia menatap tajam Dillon kemudian beranjak dan menjambak rambutnya tanpa aba-aba. Membuat Dillon berteriak kaget.


"AAAA! Kalau aku nggak boleh jawab kenapa kamu mengajakku main tebak-tebakan?"


Devlin melepaskan tangannya dari rambut Dillon dengan wajah cemberut, kemudian ia berjalan menghentakkan kaki menuju kamar. Meninggalkan Dillon yang menatapnya bingung.


***


Dillon menyipitkan mata ketika cahaya senter menyorot tepat di bola matanya. Devlin beserta senter pink kesayanganlah yang menjadi tersangka utama.


"Dillon, kamu curiga nggak kalau malam ini bakalan hujan?" tanya Devlin tetap mempertahankan sorotan senter tepat di wajah sang kakak.


Dillon memutar tubuh membelakangi meja belajar, tempat ia menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya sejak tadi.


"Aku nggak curiga. Lagi pula kata guru agama, curiga itu nggak baik," balas Dillon sembari menepis senter Devlin agar wajahnya tak terus-terusan menjadi korban.


"Aku serius." Devlin akhirnya mematikan senternya.


"Ada apa memang?" tanya Dillon akhirnya.


"Wow. Mengejutkan malam-malam begini bisa berangin," sahut Dillon malas.


"Aku serius," bisik Devlin penuh penekanan.


"Lalu kenapa?"


"Kalau berangin, biasanya hujan."


"Lalu?"


"Kalau hujan, biasanya listrik akan padam."


"Dan?"


"Kamu tau, kan? Aku takut gelap."


"Lanjutkan."


"Aku tidur di sini, ya?"

__ADS_1


"Lupakan," jawab Dillon sigap. Ia langsung lompat ke ranjangnya. Seolah mencoba menegaskan, bahwa tidak ada ruang untuk Devlin.


"Aku akan tidur dengan tenang," bujuk Devlin.


Dillon menggeleng.


"Aku bisa tidur di sudut ranjang."


"Aku lebih suka sudut ranjangku ditempati Tutu," balas Dillon. Tutu itu boneka kura-kura milik Dillon.


Kali ini Devlin tak lantas menawar. Wajahnya sendu, ketika berkata, "Tidur di sofa juga nggak apa-apa."


Dillon diam sejenak, lalu berdeham bijaksana. "Aku nggak mau berbagi bantal denganmu. Ambil bantalmu sendiri."


Wush~


Bagai mendapat angin segar, Devlin sumringah akut. Dia mengangguk kuat dan berjalan cepat mengambil bantal di kamarnya.


Selang 30 detik, ralat, 20 detik, Devlin kembali dengan sebuah bantal, guling, dan Tuto--boneka jerapah kesayangan. Membuat Dillon memutar bola matanya, ketika melihat semua perlengkapan numpang tidur Devlin.


Masih sumringah, Devlin langsung meluncur menuju ranjang, tapi cepat-cepat dihentikan oleh Dillon.


"Eits! Sofa, kan, di sana," ucap Dillon sembari mengedikkan dagunya ke arah sofa.


Devlin tergugu. "A-aku beneran tidur di sofa?"


Wajah Devlin sendu sekali. Dia sedih bukan main. Namun, akhirnya dia melangkah gontai menuju sofa yang ditunjuk Dillon.


"Aku bercanda." Dillon cekikikan melihat betapa sengsaranya ekspresi Devlin.


"Serius?" tanya Devlin cemberut.


"Iya. Sini-sini, tidur di sudut bareng Tutu."


"Dillon?"


Dillon cekikikan lagi. "Cukup hanya kamu dan bantalmu yang menumpang disini. Buang guling dan jerapah itu."


"Dillon?"


"Kali ini aku serius, Devlin!"

__ADS_1


__ADS_2