LONLIN: Kembar 13

LONLIN: Kembar 13
Lagi-lagi Mackenzie


__ADS_3

"Mackenzie mana, Bu?" Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Devlin ketika baru saja keluar kamar.


Ibu menoleh pada putri kesayangan, lalu menggeleng ringan di sela kesibukannya menyiapkan sarapan. Gusar, Devlin bergegas melangkah menuju balkon samping rumah dengan tangan yang menjinjing sepatu hitam khas sekolah, lalu kembali lagi dengan tampang was-was.


"Dillon, Mackenzie mana?" Cowok yang masih terkantuk-kantuk menuruni anak tangga terakhir itu, ternyata juga kena imbasnya.


"Aku nggak ingat pernah mengirarkan diri menjadi pengasuh kucing buntal itu," sungut Dillon, lalu kembali melanjutkan langkah menghampiri meja makan dan duduk disalah satu kursinya.


Devlin mendengus. Masih dengan sepatu yang dijinjing kesana-kemari, dia melongokkan kepalanya ke bawah meja, lalu mendengus lagi.


"Nanti dicari lagi. Sekarang sarapan dulu, Devlin," Ayah yang juga baru keluar kamar ikut menyuarakan pendapatnya. Mencoba mengakhiri keriuhan yang ia sendiri tak mengerti mengapa bisa terjadi.


Devlin patuh. Ia meletakkan sepatunya di lantai, lalu beralih menuju tempat dimana Ayah, Ibu, dan Dillon telah duduk dengan manis. "Tadi malam, aku mimpi Mackenzie," katanya lemah.


"Dia berubah jadi penyihir, begitu?"


Devlin menoleh, lalu memberengut tak suka mendengar terkaan Dillon barusan.


"Atau jangan-jangan dia pangeran yang dikutuk, ya?"


"Dillon, aku serius."


"Atau... Atau... Dia menemukan wanita lain, lalu mencampakkanmu?"


"Kalau bicara macam-macam lagi, ku jambak rambutmu," ancam Devlin geram.


"Dasar perempuan," Dillon berdesis, lalu mulai menggigit potongan roti pertamanya.


Devlin sendiri lebih memilih menyeruput susu hangatnya sedikit, lalu menyikut lengan Dillon yang duduk tepat di sampingnya, hingga cowok berkulit terang itu melayangkan lirikan tajam ke arahnya.


"Aku mimpi Mackenzie...," semakin berbisik Devlin melanjutkan, "Dicabuli."


"Uhukkk." Dillon terbatuk, lalu menepuk-nepuk kasar dadanya sendiri mencoba mengakhiri penderitaan konyolnya pagi ini.


Devlin melongo sesaat, namun kemudian diangsurkannya segelas air bening pada si saudara kembar.


Ibu juga bangkit hendak beranjak menghampiri, namun Dillon segera mengangkat tangannya agar sang Ibu tenang saja. "Aku nggak apa-apa," ucapnya setelah berhasil menenggak paksa segelas air bening tadi.


Dillon kembali mengarahkan tatapan sengitnya pada Devlin, lalu dengan setengah ngotot, dia berujar, "Aku nggak ngelakuin itu!"


"Apanya?"


"Aku nggak ngapa-ngapain Mackenzie. Kami cuma tidur bareng. Cuma itu."


Butuh waktu lebih untuk Devlin agar dapat mencerna pernyataan Dillon barusan. Dan inilah responnya ....


"PUAHAHAA. Jadi tadi malam, kamu tidur sama Mackenzie?"


Menyadari kebodohannya, Dillon gelagapan berkilah, "Ta-tadi malam aku mimpi jelek, jadi ...."

__ADS_1


"Jadi .... Kamu ngajak Mackenzie tidur bareng, gitu?"


"Bukan..."


"Mackenzie masih di kamarmu, ya?"


"Ah. Sial."


"Puahahhaa."


"Kami nggak tidur bareng! Aku di ranjang, dan dia di sofa."


"Puahahaa."


Sial. Kenapa aku lupa mencampakkan keluar kucing jelek itu? Dillon meratap. Kali ini dia bahkan mengacak frustasi rambutnya sendiri.


Di seberang meja, Ayah dan Ibu yang tak paham akar permasalahannya, lebih memilih diam. Sesekali bertukar pandang, lalu mengangkat bahu. Dan sesekali lagi, tampak menggeleng pasrah.


***


"Udahlah, jangan memakai sepatu aneh begitu."


Dillon frustasi melihat Devlin yang sedari tadi mondar-mandir berlatih menggunakan sepatu high heels barunya. Mungkin kata 'cemas' lebih tepat untuknya karena tidak sekali dia harus sigap bergerak untuk menangkap tubuh Devlin yang terkadang limbung. Namun, gadis remaja itu tetap keras kepala ingin terus mencoba.


"Kalau kakimu terkilir, jangan memintaku menggendongmu," gerutu Dillon.


"Lepas sekarang, atau kubuang langsung ke tong sampah!" ancamnya kemudian.


Devlin merengut, namun diturutinya juga titah sang kakak. Dia berjongkok, lalu dilepaskannya sepatu berwarna cream dengan pita merah muda yang hampir setengah jam ini dipakainya. Lagi pula, kakinya memang sudah terasa nyeri dan benar saja, ia harus dengan terpincang-pincang berjalan menuju sofa, lalu duduk di sana.


"Nah! Benarkan?" Dillon menggeram, lalu membantu Devlin agar meluruskan kakinya di atas sofa. Kemudian duduk di dekat kaki si gadis yang mendadak ingin dewasa itu.


"Kamu itu masih terlalu kecil untuk ini. Jangan berlagak kayak tante-tante, lah," sungutnya lagi.


Devlin masih merengut. Membiarkan Dillon berceloteh sesukanya. Matanya hanya menyorot lurus ke ujung kakinya yang tampak memerah. Dillon mendesah, lantas beranjak meninggalkan Devlin.


Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan satu buah baskom berisi air dan handuk kecil yang tersampir di pundaknya. Diletakkannya baskom yang dibawanya tadi ke atas karpet tepat di depan Devlin, lalu berjongkok disana.


"Kemarikan kakimu," titahnya.


Devlin menurut saja. Digerakkannya kakinya menuruni sofa, lalu memasukkannya ke baskom yang ternyata berisi air hangat.


Setelah beberapa saat, diangkatnya kembali kaki Devlin lalu mengeringkannya dengan handuk kecil tadi.


"Sini aku aja."


"Aish! Diam."


Lagi-lagi Devlin menurut. Dia diam tanpa protes dalam bentuk apapun.

__ADS_1


"Dillon."


"Hhhmmm."


"Gimana Hana?"


"Baik."


"Aish! Kamu ditolak atau diterima?"


"Ditolak."


Devlin menyingkirkan kakinya cepat, lantas meletakkan kakinya ke atas karpet dan dengan sedikit tergesa melanjutkan, "Ditolak?!"


Dillon bangkit. Memasukkan handuk kecil yang ia pegang ke dalam baskom, lalu mengangkat baskom itu dan meletakkannya ke atas nakas.


"Iya. Ditolak," ulangnya tak acuh, lalu duduk di samping Devlin.


Devlin memutar tubuh menghadap Dillon--yang sangat sangat, bersikap biasa-biasa saja.


"Ditolak gimana?" tuntut Devlin tak terima.


"Ya ditolak. Dia bilang...," Dillon menatap lekat sang adik, baru kemudian melanjutkan, "Sebenarnya aku nggak jadi nembak dia."


Kali ini, Devlin terbelalak. "Maksudmu? Sebenarnya ada apa? Dia udah punya pacar? Atau...," Devlin memicingkan matanya, lalu melanjutkan, "Kamu takut?"


"Anggap aja gitu," jawab Dillon seraya mengangkat bahunya--lagi-lagi, tak acuh.


"Aku serius," ucap Devlin geram.


"Aku juga serius." Dillon mengerling sebentar, lalu mengalihkan pandangannya pada televisi yang tak menyala.


"Tiba-tiba aku berpikir, sekarang ini, aku cuma ingin menjaga Ayah, Ibu...," mengerling lagi. "Dan kamu."


Devlin terkesiap. Matanya tak mengerjap menatap sosok di hadapannya.


"Aku masih ingin memaki kekanakanmu. Itu saja." Diacaknya pelan rambut Devlin dengan senyum yang terus mengembang.


Dia dewasa, kan? Selalu dewasa, Batin Devlin.


"Kamu terharu, kan?"


"Hhmmm."


"Aku kakak yang baik, kan?"


"Hhmmm." Manik cokelat gelap Devlin tampak mulai dilapisi air tipis.


"Kalau begitu...," Dillon kembali tersenyum hangat, "Besok aku pinjam uang jajanmu, ya? Uang jajanku habis."

__ADS_1


__ADS_2