
"Maaf, ya. Kamu baru aja datang tapi harus selalu menyiapkan sarapan begini." Ibu yang baru tiba pagi ini, tampak menyesal ketika mendapati putri tunggalnya kembali berkutat di dapur. Dia kalah cepat ternyata.
Devlin menoleh, lalu tersenyum lembut. "Setiap hari aku memang selalu masak, kok, Bu."
Ibu balas tersenyum, lantas menyusap lembut puncak kepala Devlin. "Karena itu ... Sekarang ibu ingin, ibu yang masak untuk kamu."
Dillon yang baru turun dari lantai atas, diam-diam mengamati dua orang wanita itu dari belakang. Ketika Devlin berbalik dengan tangan berisi piring-piring makanan, barulah ia beranjak dan duduk di kursinya.
Tidak menyangka saja, anak manja, cengeng, dan selalu merengek jika menginginkan sesuatu, kini mahir mengolah makanan. Dan kemarin, diam-diam Dillon sudah mengakui kelezatan masakan Devlin.
"Tadi malam, Ayah nelpon Ibu. Dia merindukanmu sepertinya." Ibu tersenyum lembut, lalu duduk di kursinya, disusul Devlin.
"Ayah juga menanyakan kuliahmu, Dillon," lanjut Ibu.
Dillon mengangkat bahunya enteng, lalu menyeruput minumannya sedikit.
"Kenapa nggak nelpon aku aja, sih?" sungut Devlin. Dia mengerucutkan lucu bibirnya, lalu mengetikkan beberapa kata di ponsel dan mengirimnya pada sang Ayah.
Dillon mengamati Devlin yang tersenyum sumringah, ketika membaca pesan balasan. Ternyata senyum Devlin masih sama, hanya intensitasnya saja yang berbeda.
"Ibu, nanti aku keluar lagi, ya." Devlin meletakkan kembali ponselnya, lalu menoleh pada Ibu.
"Hm, dengan Gibran?" tebak ibu dengan senyum menggoda.
Devlin melongo, lalu salah tingkah hendak menjelaskan. Namun, Dillon sudah lebih dulu menyela untuk pamit ke kampus.
***
Sore hari, Devlin sudah pulang dan mendapati Dillon duduk di sofa menonton televisi. Ia beranjak menghampiri kulkas dan menenggak segelas air bening disana. Sesekali ia mencuri pandang pada Dillon yang tak juga mengacuhkan keberadaannya.
"Sudah pulang?" Devlin memulai. Membuat Dillon mau tidak mau terkejut juga. Hanya gumaman Dillon yang didapat dari pertanyaan Devlin barusan. Membuat Devlin melirik kecewa.
"Kenapa nggak kuliah?"
Devlin membatalkan niatnya untuk langsung menuju kamar, ketika Dillon bertanya demikian.
"Kenapa memang? Apa kuliah menyenangkan?"
Dillon mengangkat bahunya ringan, "Cukup menyenangkan."
"Kalau gitu mungkin akan aku pertimbangkan," balas Devlin.
Rasanya memang harus ada yang merobohkan sekat, jadi Devlin mendekat dan memutuskan duduk di samping Dillon. Benar-benar canggung.
Menit berlalu begitu saja dan tidak ada yang kembali mencoba untuk memulai. Keduanya seolah lebih memilih berpura-pura terhanyut dalam acara televisi di hadapan mereka.
Devlin sudah mati-matian mengalahkan egonya demi bisa duduk disini. Jadi, dia tidak akan mengalah lagi demi menciptakan sebuah topik pembicaraan, begitu pikir Devlin.
__ADS_1
Jengah, Devlin berencana beranjak dan melanjutkan niatnya ke kamar. Namun, Dillon terlanjur membuka obrolan lagi.
"Masih berhubungan dengan Gibran?"
Devlin tak menoleh, namun dia tampak berpikir sejenak. "Sejak pindah ke Kalimantan dia sering menghubungiku," jelasnya.
Dillon mengangguk, lalu diam lagi.
"Gigih juga, ya, dia."
Kali ini Devlin menoleh. Mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"Mana boleh memutuskan hubungan dengan orang seperti Gibran, kan?"
"Dillon."
Cukup tertegun mendengar Devlin menyebut namanya. Namun, ia kembali melanjutkan, "Enam tahun, kan, bukan waktu yang singkat dan kalian masih begitu akrab. Itu bagus."
"Memang nggak singkat," tukas Devlin dingin.
"Baguslah. Memang nggak boleh sembarangan menurunkan gengsi hanya demi menghubungi seseorang. Harus dipilih-pilih memang."
Devlin menatap Dillon tajam. Tak habis pikir dengan apa yang diucapkan Dillon barusan. "Tentu saja. Mana boleh sembarangan mengalah."
Dillon menoleh cepat. Membalas dingin tatapan sang adik.
"Kan, udah aku bilang, bagus," balas Dillon sengit.
Dillon mengerutkan keningnya kesal. Ia mendengkus, lalu bangkit dan melangkah pergi.
"Dia nggak pernah ninggalin aku," tukas Devlin tajam. Pandangannya merunduk, memandang tangannya yang mengepal di atas pangkuan.
Dillon berhenti, lalu membalikkan kasar tubuhnya. Sedikit kesal, dia berujar, "Nyindir aku?"
"Ngerasa kesindir?" Devlin ikut bangkit. Tak berusaha menampik, Devlin justru melangkah meninggalkan Dillon. Mengutuki keputusannya tadi yang sok ingin mengubah keadaan.
"Kamu yang ninggalin aku. Kamu lupa?"
Devlin menghentikan langkah kakinya. Namun, tampak tak berniat membalikkan badan.
"Kamu yang memutuskan pergi. Mengakhiri semuanya," tekan Dillon. Napasnya memburu. Rasanya suhu mendadak berada di atas ambang normal. Dia butuh pergi sekarang. Butuh mendinginkan kepala.
"Jadi, menurutmu saat itu aku mengakhirinya?" suara Devlin terdengar bergetar. Dia akhirnya membalikan tubuhnya, membalas tatapan Dillon tajam.
"Kalau aku biarin Ayah sendirian waktu itu, menurutmu gimana?" Wajah Devlin mengeras menahan tangis. Dia kepalang kecewa kali ini.
"Memang waktu itu, aku berhak buat egois?" Diam sejenak, lalu setengah putus asa, Devlin melanjutkan, "Aku kira kita bisa berbagi tugas. Aku kira kamu ngerti."
__ADS_1
Dillon membisu. Dia membiarkan Devlin mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
"Aku nggak percaya aku bisa, tapi aku percaya pasti ada kamu yang nguatin aku. Aku percaya kamu pasti selalu ada meski kita pisah." Setetes air mata akhirnya lolos di sudut mata Devlin. Bibirnya bergetar menahan isak.
"Aku percaya, suatu saat kamu pasti menjemputku."
Dillon meremang. Hatinya mencelos saat itu juga.
"Aku menunggumu. Kamu nggak tau, kan?"
Pertahanan Devlin roboh. Dia akhirnya benar-benar terisak. Dillon melangkahkan kakinya cepat, merengkuh Devlin dalam dekapannya. Hatinya hancur saat merasakan pundaknya terasa hangat karena air mata Devlin.
Dillon juga menangis. Dadanya terasa nyeri. Ia benar-benar mendekap Devlin erat. Memeluk kuat sang adik yang sudah sangat lama tidak ditemuinya. Ya, adiknya.
Mereka menangis bersama. Terisak bersama. Kali ini bersama.
***
Devlin menolehkan kepalanya ketika mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia bergegas meninggalkan laptop yang masih menyala dan beralih membuka pintu.
Ada Dillon disana.
"A ... Ada apa?" tanya Devlin bingung.
"Ti ... tidak ada apa-apa," cibir Dillon, lalu tersenyum puas ketika melihat Devlin memasang wajah cemberut. Ia kemudian melangkah memasuki kamar Devlin, meninggalkan sang pemilik yang masih terdiam di ambang pintu.
"Cuma mau berkunjung aja, nona gagap," goda Dillon, lalu dengan santai ia duduk di ranjang Devlin.
Devlin melemparkan kesal boneka paha ayam raksasanya ke arah Dillon, lalu kembali duduk di depan laptopnya.
"Ayo jalan-jalan."
Devlin sontak menoleh cepat mendengar ajakan Dillon barusan dan mendapati Dillon tengah berpura-pura menggigit boneka paha ayamnya.
Terkekeh sebentar, Devlin kemudian mematikan laptopnya, lalu memutar tubuh menghadap Dillon. "Mau kemana memang?"
"Kemana aja."
Memasang tampang berpikirnya sejenak, Devlin kemudian menimpali, "Kamu yang traktir, ya."
Dillon membelalak. Membuka lebar mulutnya pura-pura terkejut. "Masih nggak berubah ternyata."
Dan, ya. Akhirnya mereka terbahak bersama.
"Tapi aku nggak bisa lama. Nggak apa-apa, kan? Jam 3 nanti aku ada janji."
"Gibran?"
__ADS_1
"Yup."
Seketika wajah Dillon berubah masam.