
Setelah perdebatan malam itu, suasana semakin terasa dingin. Tak ada di antara keduanya yang saling membuka suara berbincang seperti biasa, bahkan beradu pandang saja jarang.
Devlin mencengkram erat sendoknya, tak berniat makan. Dillon menyadarinya, tapi dia sendiri pun sama merasa tak nyaman.
Makan malam hanya dilewati bertiga tanpa gelak tawa seperti biasa. Semuanya dingin. Semuanya suram.
"Ayah nggak pulang, Bu?" Devlin bertanya pada sang ibu yang sudah bersiap hendak tidur.
Ibu mengulum senyum tipis, lalu berucap pelan, "Mungkin lembur."
Devlin mengangguk meski dia tak paham dengan hubungan kedua orang tuanya kini.
Pagi-pagi sekali, ketika ibu sudah berangkat ke rumah sakit untuk bekerja dan Dillon bersama Devlin masih bersiap-siap mau berangkat ke sekolah, ayah pulang.
Devlin tersenyum samar, lalu berlari mendekati ayahnya. "Semalam ayah nggak pulang?" tanya si gadis kecil.
Ayah menggeleng pelan, lalu menggendong putrinya yang sudah cukup berat itu. Kemudian bertubi-tubi menciuminya, lalu kembali menurunkan Devlin lagi.
Ayah beranjak pada Dillon. Memeluk hangat putranya dan mengusap puncak kepalanya.
"Kalian udah makan?" tanya ayah pada kedua buah hatinya.
Keduanya mengangguk dan wajah ayah berubah sendu. "Berdua saja," desis ayah pelan.
Ayah menghela napasnya panjang, lalu mencoba tersenyum. "Ganti baju sana. Hari ini kita jalan-jalan."
Dillon dan Devlin menatap bingung, tapi keduanya memilih patuh, tak ingin membuat ayah bertambah sedih.
***
"Tadi Dillon dan Devlin nggak sekolah."
"Aku ngajak mereka jalan-jalan."
"Kamu ini kenapa, sih? Nggak usah bawa-bawa mereka dalam masah kita!"
Ayah menoleh, menatap marah istrinya itu. "Mereka anakku," desis ayah.
"Mereka juga anakku!"
Ayah mengusap kasar wajahnya. Putus asa dengan semuanya.
"Kita pisah saja."
Deg.
Devlin yang sedari tadi memperhatikan mereka dari lantai atas, menggigit kuat bibir bawahnya. Berharap jika ibu berbuat sesuatu untuk menghentikan ayah.
"Memangnya aku nggak berhak hidup sesuai keinginanku? Aku cuma mau punya kegiatan lain," ucap ibu bergetar.
Ayah menggenggam kuat kedua telapak tangannya di atas pangkuan, dan Devlin makin tercekat.
"Tapi, jangan telantarkan mereka," desis ayah tajam.
__ADS_1
"Aku nggak menelentarkan mereka!" bantah ibu kuat, air matanya mulai menetes di sudur matanya.
"Aku selalu membencimu setiap mendapati mereka di rumah sendirian. Aku membencimu, setiap memikirkan mungkin saja akan terjadi hal-hal buruk pada mereka selagi kita tidak ada di rumah, karena itu..." ayah menghela lagi napasnya, "Kita pisah aja, supaya aku bisa berhenti untuk membencimu."
Tangis Devlin pecah. Dia menggenggam tangannya dan membekap mulutnya sendiri, tidak membiarkan isak tangisnya sampai keluar.
***
"Ayah sama Dillon mau kemana?"
Devlin bertanya ketika melihat Ayah dan Dillon bersiap-siap hendak pergi dengan menggunakan jaket tebal dan sebuah tas yang jinjing.
"Memancing," jawab Dillon semangat.
Ia memang sengaja ingin pamer pada adik kembarnya itu.
"Cuma berdua?" tanya Devlin lagi. Kali ini bibirnya bergetar mau menangis.
Ayah mendongak karena ia sedang mengikat tali sepatunya, lalu tersenyum lembut, "Devlin tunggu di rumah aja, ya. Nanti ikan pancingannya untuk Devlin, oke?"
Dillon yang sejak awal berniat memanasi Devlin, kembali menimpali, "Hal yang paling menyenangkan itu adalah ketika memancing, bukan ketika memakan ikan hasil pancingan."
Dan benar saja, Devlin mulai berkaca-kaca mendengar penuturan Dillon. Ayah menghela napasnya pasrah melihat tingkah kedua anaknya.
"Aku ikut!" rengek Devlin. Dia benar-benar akan terisak sekarang.
"Nggak boleh! Kami mau naik motor perginya," balas Dillon.
Ayah kembali tersenyum, lalu memengang lembut pundak Devlin, "Devlin sayang, Ayah mengajak Dillon memancing, ini sebagai hadiah untuknya karena nilainya selalu bagus di sekolah. Apalagi nilai Matematika," Ayah menoleh pada Dillon lalu tersenyum bangga pada putranya itu.
Kemudian, Ayah kembali menghadap pada pada Devlin dan mengusap lembut puncak kepala putrinya, lalu melanjutkan, "Siapa bilang makan ikan hasil pancingan nggak asik? Ikan hasil pancingan Ayah itu selalu istimewa, loh. Nanti kita bersihkan dan masak bersama, oke?"
Devlin tersenyum, lalu mengangguk setuju.
Dillon tercenung. Jadi, memancing adalah hadiah untuknya. Jadi, Ayah juga memperhatikan dirinya. Ayah bahkan tahu kalau nilai Matematikanya paling tinggi. Diam-diam dia tersenyum.
***
"Kalimantan?"
"Ya."
"Dia itu anak perempuan," jeda sejenak, namun kemudian Ibu kembali melanjutkan dengan suara kian lemah, "Akan lebih baik, jika dia tetap tinggal bersamaku, disini. Di Jakarta."
Ayah menundukkan pandangannya. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat. "Aku akan menjaganya dengan baik."
"Bukan begitu, aku khawatir..."
"Bukannya kita udah membicarakan ini berulang kali?" ayah mendongak, menatap lekat ke arah ibu. "Apa aku nggak berhak atas anak-anakku sedikit pun? Apa aku seburuk itu sampai nggak pantas menjadi seorang ayah?"
Ibu kembali memecahkan tangis. Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan dan terisak disana.
Di balik pintu kamar, Dillon menoleh, menatap sendu sang adik kembar. Berharap--sangat berharap, ini cuma mimpi konyol yang patut dilupakan keesokan harinya.
__ADS_1
Devlin diam saja. Matanya masih menatap kosong daun pintu yang tertutup rapat, mencoba membuka telinga meski ia ingin sekali menulikannya saat ini.
"Tapi mereka nggak mungkin dipisahin," suara Ibu kembali terdengar setelah cukup lama terdiam.
"Kalau gitu, keduanya ikut denganku."
"GIO!"
Dillon terkesiap, ketika tiba-tiba Devlin bangkit dari duduknya di tepi ranjang, lantas membuka pintu kamar dan melangkah cepat keluar.
Dillon ikut melangkah tergesa menyusul Devlin, meninggalkan kamar yang menjadi tempat mereka mendengar perdebatan kedua orang dewasa yang ditakdirkan menjadi orang tua mereka.
"Kalau memang mau pisah, ya udah, pisah aja!" si pirang berseru. Tangannya mengepal rapuh dikedua sisi tubuhnya. Dillon yang baru tiba, hanya menatap punggung Devlin dari belakang.
"Nggak usah saling membenci kayak gini." Kepalan tangan itu, mulai bergetar, ketika Devlin berdesis melanjutkan, "Jangan bertengkar terus."
Dillon menerka-nerka, mungkinkah Devlin yang biasanya cengeng itu, kini tengah berkaca-kaca menahan tangis.
Di seberang sana, Ayah berdiri dengan rahang mengeras, diam tak menanggapi, sedangkan sang Ibu duduk dengan kepala menunduk. Dia masih menangis.
Dillon mendekat, lalu meraih tangan Devlin dan menariknya pergi, namun terhenti karena Devlin menolak beranjak. Manik mata cokelat terang itu tetap memandang lekat ke arah Ayahnya, membuat Dillon menatap bingung.
Tatapan bingung Dillon terganggu, ketika Ayah berucap setelah tadi menghela napas beratnya, "Devlin..."
Dillon takut. Hampir seluruh organ tubuhnya bergetar diluar kendali. Ia bersumpah tak ingin mendengar apa pun keputusan kedua orang tuanya atas nasibnya dan Devlin.
"Devlin nggak boleh pergi!" Dillon menoleh menatap sang Ayah sengit. "Kemana pun," tukasnya tajam.
Ibu akhirnya mendongak. Wajahnya sembab. Menggetirkan. Sedangkan Devlin, masih tetap diam. Inilah yang paling Dillon tak suka. Ia tak pernah suka, tak pernah mau, tak pernah berharap, tak ingin melihat, adik sematawayangnya itu terluka.
Ayah mengusap kasar wajah kakunya. Membuang pandang sekejap, lalu kembali menatap sepasang anak kembarnya. "Devlin... Kamu tinggal disini dengan Dillon dan Ibu."
Tidak bisa dibayangkan betapa leganya setiap orang yang mendengar ucapan Ayah barusan. Ibu bahkan tersenyum lega, meski matanya kian deras meneteskan air mata.
Dillon pun demikian, ia mengeratkan genggamannya, lalu melempar senyum pada Devlin sekadar meyakinkan jika mereka aman sekarang.
Devlin juga menarik napas lega. Inilah ayahnya. Bijaksana, lembut dan hangat. Cinta pertamanya.
"Ayah..." Panggil Devlin pelan. Ia mengukir senyum tipis, tak tahu, jika sang Ayah mati-matian menahan nyeri.
"Hhmmm, Ayah pasti akan sering-sering menjenguk kalian." Si pria dewasa ikut memaksakan mengukir senyum, lantas berbalik mengapai tas besar yang berada tak jauh darinya. Mengabaikan keberadaan tas lain bergaris warna-warni di dekat tas besar miliknya--tas Devlin.
"Aku ikut Ayah."
Seketika udara terasa menguap entah kemana. Perasaan sesak mengambil alih dengan cepat kelegaan mereka sesaat tadi. Jantung Dillon mencelos seketika. Ia melebarkan matanya tak percaya dan selalu tidak ingin percaya. Tiba-tiba saja dia merasa takut pada apa yang diucapkan Devlin barusan. Tanpa sadar, ia memperkuat genggamannya pada jemari lentik Devlin, membuat sang adik meringis samar, namun Devlin enggan melepaskan genggaman itu.
Sebelum ada yang mempertanyakan maksud ucapannya, Devlin kembali bersuara dengan susah payah. "Aku ikut Ayah," ulangnya lagi.
Nada suaranya bergetar. Ia juga sakit. Ia juga terluka.
Dia menyayangi semuanya. Ibunya, Ayahnya, terlebih Dillon. Dia sayang sekali. Karena itu, tidak boleh ada yang menderita. Tidak ada yang boleh kesepian. Tidak ada yang boleh sendirian. Ayah dan ibu harus selalu memiliki skor yang sama, kan?
Dillon... Sekarang kita berbagi tugas, ya.
__ADS_1