
Mendengar beberapa kali ketukan di pintu depan membuat Devlin berlari untuk membukanya dan seketika gadis remaja itu berteriak heboh ketika melihat siapa yang datang.
"Kyaaaaaaa! Kak Leo," pekiknya.
Devlin langsung menghambur memeluk sepupu yang lebih tua tujuh tahun darinya.
Leo tergelak saja. Ia memang selalu disambut sehangat ini jika bertandang ke kediaman sepupu kembarnya.
Dillon yang baru pulang dari bermain basket dengan temannya hanya mendengus lemah melihat pemandangan itu. Siap-siap saja, dia akan menjadi kakak nomor dua bagi Devlin, jika Leo ada disini.
"Kapan datang, Kak?" sapa Dillon akhirnya.
Leo menoleh, lalu tersenyum hangat. "Baru saja datang," jawabnya, lalu menepuk ringan pundak Dillon.
Belum usai tegur sapa itu, tapi Devlin sudah keburu menarik lengan Leo untuk masuk ke rumah. Meninggalkan Dillon begitu saja di luar.
Dillon kembali mendengus. Benarkan? Dia diabaikan sekarang.
"Kak Leo, Mackenzie udah besar sekarang." Devlin langsung menggendong Mackenzie yang melintas. Memperlihatkan si kucing buntal pada sepupu kesayangan.
"Wah! Dia makin lucu." Leo menggaruk puncak kepala Mackenzie gemas.
"Aku sendiri yang merawatnya, loh. Oh, iya, Kak... Selagi kakak disini, ayo ajari aku bersepeda." Devlin terus saja menempeli sepupunya yang sudah menjadi mahasiswa itu.
Dillon mengerutkan dahinya, karena biasanya Devlin paling malas bila diajak berlatih mengendarai sepeda. Tanpa sadar dia kembali mendenguskan napasnya kasar. Kesal saja, karena Devlin memang akan selalu berubah sangaaaat manis, jika berhadapan dengan Leo.
"Eum, tentu. Kalau sudah lancar kita lomba sepeda, ya," ucap Leo. Pemuda berlesung pipi itu memang sangat menyayangi sepupu manisnya.
"Memang Kak Leo lama disini?" celetukan Dillon itu sontak membuat dua orang yang asik berbincang di sofa itu menoleh.
"Pertanyaanmu itu kasar banget, sih, Dillon," protes Devlin. Ia mendelik dan membuat Dillon tergugu.
"Bukan gitu maksudku," elak Dillon. Dia terpaksa memutar otak mencari alasan, karena Devlin dan Leo masih menatapnya menuntut penjelasan.
"Kalau Kak Leo lama disini, aku mau ngajak tanding basket," kilahnya.
Leo tersenyum maklum. "Wah, kalau begitu aku harus lama-lama disini," ujar Leo, yang disambut anggukkan kuat dari Devlin. Kemudian, mereka kembali melanjutkan obrolan. Tidak sadar jika Dillon tengah menggerutu dalam hati dan menyesali alasan yang diciptakannya.
AHHHH SIAL. Aku salah bicara," batinnya.
***
__ADS_1
"Kak Leo mana, Bu?" Itulah pertanyaan pertama yang dilontarkan Devlin sepulang sekolah. Membuat Dillon lagi-lagi mendelik tak suka.
Setelah diberitahu jika si kakak sepupu berada di kamar, tanpa pikir panjang Devlin langsung menghampirinya.
"Bu, Sampai kapan Kak Leo di sini?" Dillon bertanya, meski matanya masih menyorot pada Devlin yang sudah berlari menaiki tangga.
"Apa?" Ibu yang sedang sibuk memotong wortel, menoleh pada sang putra.
"Lupakan," jawab Dillon lemah. Ia pun ikut berlalu menuju kamarnya.
***
"Katanya, aku nomor selalu," Ucap Dillon yang berdiri di ambang pintu Kamar Devlin, membuat si gadis yang serius menulis sesuatu di meja belajarnya menoleh kaget.
"Kamu terbang, ya? Kok langkah kakimu nggak kedengeran?"
"Kamu aja yang memang nggak memperhatikan aku?"
Devlin mengernyit. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Dillon.
"PR-mu udah siap?" tanya Devlin akhirnya.
"Belum."
"Kamu sakit lagi?" tanya Devlin mulai khawatir. Ia beranjak, lantas berjinjit untuk menangkupkan telapak tangannya ke dahi Dillon yang lebih tinggi darinya.
"Nggak sakit, kok," gumam Devlin heran.
Dillon mendengus, lalu dengan sedikit kasar membalikkan tubuhnya untuk kembali ke kamar.
-Flashback-
"Devlin."
"Belakangan ini kamu sering ngajak aku ngobrol duluan, ya."
"Ck. Aku serius."
"Iya. Apa?"
"Tadi di sekolah temanku nanya, siapa orang nomor 1 dalam hidupku."
__ADS_1
"Terus kamu jawab apa?"
"Ada deh. Kalau kamu sendiri bakalan jawab apa?"
"Nomor 1, Ayah."
"Astaga! Kamu bahkan nggak perlu mikir lama. Kamu sama sekali nggak mempertimbangkan perasaan ibu, ya?"
"Soalnya aku tau, nomor 1 dalam hidupmu itu Ibu, kan?"
"Hehee."
"Semua harus selalu seimbang, dong. Makanya kita harus berbagi tugas. Ayah dan Ibu harus selalu dalam skor yang sama."
"Ok. Terus nomor 2 siapa?"
"Oh! Jelas. Ibu."
"Nomor 3?"
"Diriku sendiri."
"Jadi, aku nomor 4?"
"Bukan. Nomor 4 itu Mackenzie."
"Devlin!"
"Kenapa?"
"Terus aku nomor berapa?"
"Nomor selalu."
"Ha?"
"Satu, Ayah. Dua, Ibu. Tiga diriku sendiri. Empat, Mackenzie, dan selalu Dillon."
"Berarti aku di atas Ayah, dong?"
"Memang aku ada bilang, nomor Selalu itu nomor pertama?"
__ADS_1
"Terus itu nomor keberapa, dong?"
"Pokoknya nomor, SELALU DILLON."